
Fisherman Village.
Wanita berambut pirang dengan paras cantik dan natural itu menawarkan diri untuk ikut bersama Robin mencari sebuah kapal yang mungkin bisa mereka tumpangi.
“Baiklah! Aku dan Rose akan pergi kesana. Sementara kalian bisa mencari disana.” Ujar Robin kepada Jhon dan Emily.
Pada akhirnya mereka berpisah. Rose dan Robin kearah kanan, sementara Jhon dan Emily kearah sebaliknya. Mereka harus segera bergegas mencari sebuah kapal, jika tidak hari akan kembali malam lagi, dan perjalanan bisa tertunda lama.
Disepanjang jalan, tatapan Rose tidak hentinya mencari akan keberadaan kapal disana. Kebanyakan hanya ada sebuah perahu kecil yang mungkin tidak akan muat dan tahan lama saat dipakai menyebrangi lautan seluas itu. Bahkan sesekali Robin dan Rose bertanya, meminta bantuan akan para nelayan yang memiliki kapal yang lumayan besar, namun mereka sangat sibuk sehingga menolak Rose dan Robin.
“Kemana lagi kita harus mencari?” tanya Rose yang mulai lelah karena terik matahari yang sangat kuat.
“Entahlah. Tidak ada yang bisa membantu kita.” Balas Robin juga sama bingungnya. Karena terlalu lelah dan gagal fokus, sampai-sampai Rose hampir saja di tabrak sebuah delman yang membawa sekantong full ikan kering. Tapi dengan sigapnya, Robin langsung menarik tangan kanan Rose hingga wanita itu jatuh ke pelukan Robin.
Betapa terkejutnya ia saat sadar akan tubuh kekar dan dada bidang dari pria bernama Robin itu. Kedua mata Rose langsung terbuka lebar.
“Are you okay?” tanya Robin yang membuat Rose tersadar dan kembali berdiri tegak, membuat keduanya menjadi canggung.
“Hmm, i'm fine!” jawab Rose tersenyum.
“Ayo!” ajak Robin seketika untuk menghilangkan rasa canggungnya saat melihat Rose.
Sementara disisi lain. Jhon malah santai dan asik melihat-lihat makanan laut yang ada disana. Begitu banyak dan lezat berbagai ikan laut. Sedangkan Emily sibuk bertanya-tanya kepada orang-orang disana.
“Permisi paman! Apa ini kepiting raja?” tanya Jhon seraya menunjuk ke arah kepiting besar yang memang itu kepiting raja.
“Iya nak. Apa kau ingin mencobanya?” ucap paman penjual kepiting saji itu ramah.
__ADS_1
“Benarkah? Apa aku boleh mencicipinya?” tanya Jhon tidak percaya. Paman itu mengangguk, itu adalah peluang besar bagi pria bernama Jhon tersebut. Saat hendak menyantap dengan tak sabar, seketika dari arah belakang, Emily si wanita berambut pendek itu meraih kerah baju Jhon dari belakang hingga pria itu tertarik ke belakang.
“Hei, apa yang kau lakukan? Aku hampir saja mencicipi hidangan kepiting tadi!” ucap Jhon yang sudah lepas dari tarikan Emily.
“Ha, iya. Kau sedang apa? Kita harus mencari kapal, kau malah asik mencicipi makanan! Dasar.” Celatu Emily.
“Hey, makanan itu juga penting.” Balas Jhon tidak mau kalah.
“C'mon Jhon, kita harus fokus! Jika tidak Ratu Revana akan segera menangkap kita.” Ujar Emily seraya hendak mencekik Jhon untuk menakut-nakuti pria itu. Saat kedua ribut sendiri, mereka tidak menyadari bahwa sedari tadi ada seorang pria bertopi bajak laut tengah memantau mereka dengan yang tidak jauh dari Jhon dan Emily.
Sampai. Slepp. Pria bertopi bajak laut tadi, berlari dengan kencang meraih sekantong koin yang tergantung di sisi kiri celana Emily.
“Hei.” Pekik Emily terkejut saat sadar akan tangan seseorang yang mengambil koinnya.
“Dia mengambil koin kita!” ucap Emily kepada Jhon, lalu mereka berlari bersama mengejar pria yang sudah berani mencuri koin-koin berharga mereka.
“Maafkan aku cantik!” teriak Jhon sempat-sempatnya ia berkata seperti itu saat dalam keadaan darurat.
“Hei, berhenti kau!” teriak Emily kepada pencuri yang masih saja berlari dengan kencang.
“Mereka tidak mau menyerah.” Gumam pelan pencuri itu yang sudah merasa lelah karena terlalu lama berlari.
Sementara di tempat lain. Rose dan Robin mendengar teriakkan-teriakkan genting orang-orang yang ada disana karena aksi dari Jhon dan Emily yang berlarian serta menabrak barang-barang disana. Mendengar teriakan mencurigakan, Rose dan Robin saling pandang dengan tatapan bingung. Sampai mereka berdua memutuskan untuk berlari mencari asal dari suara gaduh tersebut.
“Ada apa Bu?” tanya Rose kepada salah satu wanita setengah baya disana dengan tersengal.
“Ada pencuri!” jawab wanita setengah baya itu.
__ADS_1
Robin dan Rose melanjutkan berlari mengikuti langkah dari pencuri yang dimaksud tadi. Tanpa bertanya dulu ataupun pamit, Robin langsung meraih sebuah kain panjang yang tergantung di sisi tembok kuning menuju ke atap. Tanpa takut pria itu berlari melompat di atas atap rumah disana. Sementara Rose berhenti sejenak melihat atraksi yang dilakukan Robin.
“Dia benar Robin Hood!” gumam pelan Rose, lalu lanjut berlari.
Dari arah yang sedikit jauh, Robin bisa melihat Jhon dan Emily berlari mengejar satu orang pria dengan membawa sekantong koin.
“Hhaku tidak kuat.” Ucap Jhon mulai sesak namun masih menyempatkan berlari.
Dengan cepat, Robin turun menggunakan tali-tali yang tergantung di atap toko-toko yang ada disana, hingga tepat sasaran ia langsung menendang pencuri itu dari arah samping, sehingga membuat pencuri tadi tersungkur di tanah dengan posisi tengkurap.
Melihat itu, Jhon dan Emily lega saat mereka lihat, Robin sudah memiting pencuri itu dengan posisi yang masih tengkurap namun tangan kirinya ada di belakang yang dipiting oleh Robin. Sementara Rose baru saja tiba, terdiam saat semuanya sudah usai.
“Kau memebuat kami kelelahan dasar pencuri.” Ucap Emily mendekati pencuri itu.
“Dimana koin kami?” tanya Emily berusaha meraih kembali koinnya. Namun, pencuri itu masih memegang erat dengan menggunakan tangan kanannya yang ia tindih dengan tubuhnya sendiri.
“Dia pencuri yang keras kepala.” Gerutu Emily.
“Berikan koinnya.” Pinta Robin yang menambah piringannya hingga pria itu merintih kesakitan.
“Tidak.” Jawab pria pencuri tadi tersenyum puas tanpa rasa takut bila tangannya patah.
“Jangan terlalu erat, dia bisa terluka.” Ucap Rose tidak tega melihat orang kesakitan, meski itu musuh. Sedangkan Jhon ternganga saat mendengar ucapan Rose barusan.
Entah kenapa, tapi Robin menuruti ucapan Rose dengan melonggarkan piringannya dan berusaha meminta koin mereka kembali, begitu juga dengan Emily yang berusaha mengeluarkan tangan kanan pencuri tadi. Sedangkan Jhon masih saja duduk di tanah menetralkan nafasnya yang masih tersengal-sengal.
Sampai pada akhirnya. Segerombolan orang dengan pakaian sangar yang datang dari arah laut berjalan menghampiri mereka. Memang keberadaan Rose dan kawan-kawan kini dekat dengan lautan, hanya beberapa langkah saja.
__ADS_1