
Keesokan paginya. Semua orang yang ada di dalam rumah penginapan, kini bersiap untuk segera melanjutkan perjalanan mereka. Bahkan ada juga yang membawa kereta kuda untuk perjalanan nya.
“Terima kasih membiarkan kami tinggal disini!” ucap Rose tersenyum kepada ibu Cloe. Ibu Cloe membalas senyuman itu.
“Hey kalian!” teriak pria botak yang mengajaknya berbicara semalam. Seketika Rose dan tiga temannya itu menoleh ke arah suara tersebut. Pria botak itu menggerakkan tangannya seolah menyuruh mereka untuk menghampirinya.
“Ada apa paman?” tanya Emily.
“Bukankah kalian ingin ke Istana Hemland bukan?” tanya pria botak itu ramah. Empat orang tadi menjawab dengan anggukan kepala bersamaan.
“Naiklah, aku akan memberi kalian tumpangan hingga ke pertengahan jalan!” ucapnya tersenyum dan naik ke kereta kuda miliknya.
“Benarkah! Kami sangat berterima kasih kepada mu!!” balas John yang naik lebih dulu.
“Dasar anak itu!” gerutu Emily tidak enak sendiri dengan si pemilik kereta kuda itu. Tak lama disusul oleh Emily, Rose dan Robin yang juga naik menerima tawaran tadi.
Mereka mulai melanjutkan perjalanan nya, dengan menaiki kereta kuda yang tidak terlalu besar dan mewah. Di sepanjang perjalanan, Rose sesekali melirik Robin yang juga memandanginya cukup lama.
“Pak, apakah ini kuda milikmu?” tanya John yang duduk di belakang tepat pria botak itu.
“Tentu saja! Ngomong-ngomong, kenapa kalian ingin ke Istana Hemland?” tanya pria itu penasaran.
“Ada hal penting yang harus kami bicarakan dengan Ratu Air!” jawab Rose.
“Tapi tidak mudah untuk bisa melihatnya!” ucap pria itu tersenyum sambil mengendari kuda-kuda itu.
“Apakah Istana Hantu?” tanya John menebak.
“Bukan. Tapi Istana itu ada di dalam air! Saat kalian bisa melewati penjaganya, maka Istana itu akan, BLUSSS! Keluar dari dalam air! Sangat megah sekali!” jelasnya.
“Apa paman pernah kesana?” tanya Emily.
“Tentu tidakkk. Temanku diberitahu oleh teman ayahnya dan teman ayahnya diberitahu oleh teman dari kakek, kakeknya temannya. Dan teman dari kakek, kakeknya temannya diberiitahu oleh nenek buyut nya!” jelasnya panjang lebar membuat John, Emily dan Rose menganga karena terlalu panjang.
“Jadi?” tanya John membuka suara.
“Aku diberitahu oleh temanku! Hahaha!!” pria botak itu tertawa keras, seolah menikmati obrolan mereka.
“Dari teman Paman!” titah Rose tersenyum tipis. Sementara John dan Emily hanya bisa mengelus dada, dan sabar.
__ADS_1
Dengan kecepatan normal, kereta kuda itu berjalan. Ya! Lumayan sih untuk menyimpan energi tubuh untuk perjalanan berikutnya.
Beberapa jam kemudian. Kereta kuda berhenti tiba-tiba, membuat John, Emily dan Rose yang tertidur mulai terbangun kembali. Menyedari bahwa mereka sudah sampai di pertengahan jalan, dikarenakan pria botak itu berbeda jalur dengan kelompok Rose.
“Terima kasih tumpangan nya paman!” ucap Rose dan Emily. Pria itu melambaikan tangannya dan mulai pergi menjauh di jalur kanan. Sementara Rose dan tiga temannya masih harus berjalan lurus sampai menemukan sebuah dua batu besar yang menandakan akan Istana Hemland berdiri.
Sangat melelahkan sekali berjalan hingga berjam-jam tanpa henti.
“Apakah perjalanan ini masih jauh? Hahhh, hahhh, hahhhh! Kaki seperti mati rasa!” keluh Emily yang juga disetujui oleh John.
“Aku rasa begitu! Mungkin empat sampai tiga hari lagi kita sampai!” jawab Robin yang mengamati peta tersebut. Mendengar hal itu, membuat Emily dan John sedikit syok akan hal itu.
“Yang benar saja! Kita akan berjalan sampai beberapa hari lagi.” Gerutu John yang sudah sangat lelah sekali. Melihat dua temannya kelelahan, Rose menjadi tidak enak sendiri, karenanya yang ingin pulang dan mengadili ibunya, dia harus membuat teman-teman nya kesusahan.
“Bagaimana jika kita mencari kereta kuda?” tanya Rose kepada Robin.
“Ide bagus, tapi dimana ada kereta kuda?” tanya Emily.
Mereka benar-benar sudah kehilangan akal karena lelah. Alhasil mereka memilih untuk istirahat sejenak berharap akan ada seseorang yang datang dengan kereta kuda lewat di sini.
Tak berselang lama, ada suara berbunyi langkah kaki kuda. Seketika Robin dan Rose berdiri sedangkan John dan Emily masih duduk meredangkan kedua kakinya. Rose melihat ada kakek nenek yang berjalan sambil membawa tiga kuda yang berjalan dibelakang mereka.
“Maaf, bolehkah kami membeli tiga kudamu itu?” tanya Robin.
“Kami tidak menjualnya. Maaf.” Jawab si kakek yang hendak berjalan, namun dihalang oleh Robin.
“Kami akan membayar mahal.” Ucapnya berusaha. Tapi kedua orang tua itu masih menolak dan tidak peduli sama sekali.
Seketika Rose langsung meraih salah satu tangan nenek itu dengan wajah yang memelas dan memohon bantuannya.
“Aku mohon bantu kami! Aku ingin segera pulang, aku ingin membalas kematian ibuku! Aku mohon kepada kalian!” perkataan Rose yang membuat kakek dan nenek itu merasa sedih melihatnya.
Berpikir dan menunggu hingga beberapa detik. Akhirnya hal itu tak sia-sia. Kakek dan nenek itu setuju menjual kuda milik mereka kepada Robin dan Rose. Setelah mendapatkan kuda, mereka membawanya ke tempat John dan Emily masih duduk di sana.
“Wahhhh, kuda siapa itu?” tanya John tersenyum lebar. Dua kuda berwarna coklat dan satu kuda berwarna putih.
“Kami membelinya!” jawab Rose tersenyum.
“Ayo! Kita harus melanjutkan perjalanan kita!” ucap Robin.
__ADS_1
Emily dan John menaiki kuda berwarna coklat, sedangkan Robin dan Rose menaiki kuda putih. Karena Rose tidak bisa menunggangi kuda, dia akhirnya duduk dibelakang Robin. Satu kuda untuk berdua.
“Pegangan yang erat, jika tidak ingin jatuh.” Pinta Robin kepada Rose. Rose perlahan kedua tangannya mulai memegang pinggang Robin untuk keselamatan mereka juga. Dengan kecepatan maksimal, mereka menelusuri jalanan di hutan. Kini kaki mereka tidak akan capek lagi.
“Bukankah ini sangat menyenangkan?” tanya John yang kini lebih cepat dari Robin.
Rose sangat senang sekali, kali pertama ia menunggangi kuda, bersama seorang pria pula. Sementara Emily juga lebih dulu di samping John saat ini. Wanita itu tidak ada habisnya menghirup udara segar dan angin kencang yang mereka buat.
Sesekali Rose berpikir bahwa kehidupan nya disini lebih menyenangkan dari pada di Las Vegas. Karena disini, banyak sekali orang-orang yang menyayangi nya tanpa ada kata Bullying disini.
Mereka melewati pegunungan, sungai, bahkan melompati tebing ke tebing lainnya. Sangat ahli sekali, meski awalnya Rose takut tapi lama-lama dia juga menikmatinya.
🌹🌹🌹
Empat hari berlalu begitu cepat. Kini mereka akan segera tiba di Istana Hemland, Istana milik Ratu Element terkuat, yaitu Ratu Air. Saat sudah sampai di sebuah depan goa dengan tumbuhan bergantung di mulut goa, membuat empat orang itu berhenti dan turun dari kuda.
Robin melihat isi peta yang menunjukan bahwa didepan mereka akan ada sebuah batu besar.
“Sepertinya kita harus masuk.” Ucap Emily.
Mereka masih menatap penuh curiga dengan keadaan goa yang terlihat mengerikan, ditambah suara-suara dari burung yang berterbangan keluar goa, membuat mereka sedikit tak yakin. Tapi meski begitu, Rose dengan berani berjalan lebih dulu, lalu diikuti oleh tiga temannya yang lain.
Mereka juga tak lupa membawa kuda-kuda yang dia bawa untuk berjaga-jaga saja. Tapi, tiba-tiba kedua mata mereka dikejutkan oleh pemandangan yang sungguh indah. Bagaimana tidak, sebuah laut biru terpapang didepan goa dengan dua batu besar panjang seolah membetuk gerbang dengan sisi kanan kiri.
“Apakah disini Istana Ratu Air?” gumam Emily tak percaya.
“Mereka bilang Istana Hemland ada di dalam laut! Apa itu benar?” tanya John sambil melihat lautan biru dan luas itu. Bahkan suara alunan dari burung pun memantul di air laut itu. Benar-benar indah dan sejuk, bagi siapa pun yang datang dan melihat nya.
BERSAMBUNG...........
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
JAWABAN KE-TIGA TEKA TEKI ADA DI EPISODE (28-29)!!!! DI TUNGGU YAAAAA!!!!
SEE YOU...
__ADS_1