
Seketika, dengan sigap, Papa Pirate langsung melawan balik, begitu juga yang lainnya. Bahkan di Beryl, wanita pemabuk itu, dengan lihai ia bertarung dengan gaya santainya. Semuanya juga mengikuti pertarungan itu, Rose yang bingung harus melakukan apa, dia bahkan bisa melihat bahwa para musuh berjumlah banyak.
Seperti yang dikatakan tadi. Robin masih setia berada di depan Rose sambil bertarung.
Dengan kedua tangannya, wanita cantik itu memegang pedang dan menyodorkan pedang tersebut tepat di depannya untuk berjaga-jaga. Kini posisi Robin dan Rose saling membelakangi.
“Aku harus apa? Ada musuh yang melihatku.” Tanya Rose dimana ketakutannya kembali lagi. Maklum dia dari kota. Dan memang benar, salah satu musuh dengan satu penutup mata dan rambut gimbalnya yang panjang tengah menatap Rose, bahkan ia mulai berjalan mendekat sambil bersiap membunuh wanita yang sedari tidak ikut melawan.
“Rose! Kau harus melawan mereka. Kau harus memilih, life or death...” Teriak Robin yang sudah berkeringat banyak karena harus melawan musuh sebanyak itu, bahkan Yaang lainnya juga.
“Ya, hidup atau mati! YAAA...” Dengan berani, Rose mengangkat pedangnya dan melawan musuh tadi. Dan kalian tahu, di memang benar, dirinya sudah berbeda dari Rose yang pecundang kini menjadi Rose yang tangguh. Tidak tahu kenapa Rose merasa bahwa dirinya sudah ahli bermain pedang.
Keadaan di kapal masih sangat ricuh. Suara pedang dan senjata lainnya masih berbunyi nyaring. Bahkan mereka ada yang bertarung di atas layar kapal hingga di ujung kapal.
Karena terlalu banyak, Read hendak saja terkena serangan dari arah belakangnya, namun Emily menolongnya dengan melawan balik musuh tersebut.
“Kau harus hati-hati.” Ucap Emily kepada Read, lalu wanita itu kembali bertarung lagi.
Sungguh luar biasa, mereka hanya 13 orang saja, namun berhasil mengalahkan musuh-musuhnya yang lebih dari 20 orang tadi. Dan kini musuh itu bisa terlihat tinggal sedikit. Ya! Meski mereka juga sama-sama terluka.
CLSLINGG... CLSINGGG... CLSINGGG.... Suara penyatuan dari benda tajam juga gaduh masih terdengar, bahkan sebagian dari musuh sudah terkulai lemas hingga berdarah-darah, tak hanya musuh saja, melainkan Rose dan juga anggota yang lainnya juga terluka, ada yang tergores pedang di lengannya hingga panjang, bahkan luka memar di wajah berserat tubuh lainnya.
Kening Rose juga berdarah karena serangan dari musuh, tapi beruntungnya dia dibantu oleh Robin, yang selalu siap menjaganya.
“Woww... Ini sangat menyenangkan!!” teriak Jhon Champion girang dengan melawan musuh menggunakan satu tangan yang membawa berupa pedang, sedangkan tangan yang lainnya ia sengaja letakan di belakang bacanya. Pria itu benar-benar konyol, bahkan disaat genting seperti itu.
Teriakkan Jhon tadi, membuat perompak yang lainnya ikut bersemangat dan bersenang-senang, layaknya bermain.
“Awas!” teriak Read yang langsung melempar pisau kecil namun tajam tepat di lengan salah satu musuh yang hendak menyerang Emily dari belakang. Melihat salah satu musuh yang kesakitan tadi, dengan cepat Emily langsung menyerang balik.
“Thank you.” Ucap Emily dengan nafas tersengal.
“You're walcom.” Balas Read. Lalu mereka melanjutkan serangan lagi.
Sampai hanya tinggal satu orang, yaitu bos dari pimpinan musuh tadi. Dengan pakaian yang seram layaknya bajak laut sungguhan, namun ia kalah. Dengan cepat, Papa Pirate beserta 8 perompak yang lainnya segera menurunkan semua musuh-musuh tadi ke laut, tidak peduli yang masih hidup ataupun yang mati.
__ADS_1
“Ho, ho, ho, ho, ho...!!” teriak anak-anak Papa Pirate seraya mengangkat senjata maupun tangan mereka dengan semangat. Teriakkan itu seperti menandakan kalau mereka menang.
Tak tinggal diam, Rose, Jhon, Robin dan Emily yang awalnya tidak tahu kenapa perompak itu bersorak, namun mereka memilih ikut bersorak.
“Yeahhhh....” Teriakan terakhir yang menandai bahwa semua musuh sudah di buang ke laut.
Nafas Rose yang sedari tadi tersengal dengan jantung yang berdegup kencang, ia merasakan kebebasan yang luar biasa. Senyuman mulai terpancar di wajah wanita dengan luka di kening, kali pertama dia melawan seseorang meski hanya menggores saja, yang lain Robin yang melakukannya.
***
Esoknya.
Kerajaan Peacland, Istana Fredensligh.
Putri Brillyana sudah bersiap untuk pergi mengunjungi kerajaan Pangeran Justine, meski dalam lubuk hatinya ia tidak mau. Namun, sebelum pergi, ia memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu tentang keluarga ibunya sendiri.
Di ruangan yang terlihat suram, Ratu Revana berdiri tegap melihat ke arah jendela yang terbuka lebar, seolah ia melihat keberadaan musuh kecilnya di luar sana.
“Ibu! Sedang apa?” tanya Putri Brillyana tersenyum menghampiri ibunya.
“Aku ingin tahu, bagaimana keluarga besar ibu? Apa aku tidak punya seorang sepupu atau saudara?” tanya Putri Brillyana langsung tanpa menunda lagi. Seketika, wajah Ratu Revana berubah menjadi tajam ketika menatap putrinya.
“No.” Jawab ibunya singkat dan jelas.
Mendapatkan jawaban itu, Putri Brillyana tidak percaya, namun dia tidak bisa terus menekan ibunya dengan pertanyaan seperti itu.
“Come here!” pinta Ratu Revana merentangkan kedua tangannya dihadapan putrinya. Putri Brillyana berjalan mendekat dan memeluk ibunya, begitu juga Ratu Revana yang membalas pelukan itu. Di dalam pelukan ibunya, Putri Brillyana terdiam dengan wajah heran, bahkan tubuh ibunya terasa sangat berbeda.
Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi? Tapi perlahan ia akan mencari tahu sendiri. Memang Putri Brillyana melihat istana Fredensligh sangat indah dan berwarna, namun kenapa para pelayan maupun penjaga di istana selalu membicarakan kesuraman dari kerajaan Peacland. Bahkan kertas apa yang sudah dia temukan di kamarnya?
Entah apa yang akan dia temukan lagi tentang sesuatu yang tersembunyi. Kini Putri Brillyana sudah berkemas dan bersiap untuk perjalanan menuju kerajaan Valcke untuk mengunjungi Pangeran Justine. Saat semua siap, Putri Brillyana kini berdiri tepat di samping pintu tandu dengan corak emas dan ungu. Wanita cantik itu menoleh ke belakang dimana istana Peacland berdiri tegak dengan indah, padahal tidaklah seindah yang dilihat oleh Putri Brillyana.
Hingga dia memutuskan masuk ke tandu dengan pengawalan ketat dari para prajurit berkuda serta pelayan.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Kembali di lautan. Malam pun tiba kembali. Saat semuanya lagi-lagi menikmati kemenangan mereka dengan menyantap makanan yang cukup mewah, karena hanya ada seafood langkah saja. Emily duduk bersama Read di dek kemudi sambil menikmati malam yang sejuk.
“Sedikit lagi kau akan terbuka!” ucap Emily tersenyum.
“Ibuku dan ayahku dibunuh saat aku pergi mencari ranting kayu di hutan. Saat aku kembali, aku melihat desaku sudah hancur. Ya! Desaku, desa para gembala, semuanya sudah terbakar habis, ternak dan juga penduduk lainnya dan salah satunya adalah keluarga, ibu, ayah dan adik laki-laki ku,” Jelas Read yang bercerita tentangnya.
“Tubuh mereka mengeluarkan darah begitu banyak, bahkan tangan ayahku hilang satu karena ulah para pembunuh itu. Aku tidak tahu siapa yang melakukan itu, tapi aku hanya tahu kalau para prajuritlah yang melakukannya.” Ucap Read tanpa tersenyum ataupun meneteskan air mata.
“Prajurit? Prajurit dari mana?” tanya Emily.
“Aku tidak tahu. Maka dari itu aku melihat Papa Pirate, dan aku tertarik bergabung bersamanya sejak kecil.” Jawab Read.
Keadaan kembali hening.
“Kau tidak pernah tersenyum, karena pertanyaanmu. masih belum terjawab kan. Aku tahu itu!” ucap Emily tersenyum, Read menoleh.
“Kini kau bisa tersenyum! Sebentar lagi, kau akan mendapatkan jawaban itu! Ayo tersenyum.” Ajak Emily seraya memegang punggung Read.
Perlahan, Read mencoba tersenyum tipis, dan itu membuat Emily sedikit terkejut namun juga senang ketika melihat Read bisa tersenyum seperti kecilnya dulu.
BERSAMBUNG.........
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
HAI SEMUANYA, JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN... ALWAYS
LIKE
KOMEN
VOTE
FAVORIT
THANKS AND SEE YOU 🤗 🤗
__ADS_1