ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : 11 More Days Towards the Fiery Land Kingdom


__ADS_3

Saat melihat tulisan itu, kedua mata Putri Brillyana terbuka lebar. Tentu saja, kini wajah marahnya mulai terlihat jelas. Seketika ia meremas kertas tersebut lalu membuangnya disembarang tempat, dengan nafas tersengal-sengal Putri Brillyana mencoba menenangkan diri sendiri.


“Itu tidak mungkin. Tidak mungkin jika ibuku mempunyai saudara.” Gumam Putri Brillyana yang mulai berkeringat. Ia percaya betul bahwa ibunya tidak akan berbohong, bahkan yang paling mengerikan, di kedua mata Putri Brillyana, jika dia melihat kerajaan Peaceland, ia hanya melihat keindahan bukan suram seperti yang orang lain lihat.


Dan kalian tahu kenapa? Karena ibunya sendirilah yang sudah menyihir kedua mata putrinya, agar putrinya tidak bisa melihat kesuraman dari kerajaan Peaceland. Bahkan tak seorang pun berani mengatakan kepadanya, pemandangan seperti apa yang sebenarnya terjadi di kerajaan itu.


***


Kembali di lautan yang luas. Alunan musik masih berdengung dengan irama yang indah. Emily berjalan menghampiri Beryl yang tengah asik duduk sambil membawa botol seperti biasa, sementara yang lainnya sibuk dengan candaan mereka.


“Kau mau minum bersamaku?” tanya Beryl yang tersenyum sambil menyodorkan botolnya ke arah Emily berdiri. Emily meraih botol itu dan meminumnya sedikit, lalu ia kembalikan lagi ke tangan Beryl.


“Wahhh, luar biasa! Haha!!” seru Beryl tertawa.


“Em, ada apa dengan temanmu Read?” tanya Emily.


“Ah, dia! Aku menyebutnya si bisu. Dia memang seperti itu sejak pertama kali ikut Papa Pirate,” Jelas Beryl yang masih sadar akan ucapannya.


“Kematian keluarganya merenggut senyuman manisnya! Ck, aku jadi kasihan dengan anak malang itu.” Lanjutnya yang juga sedih. Emily menatap ke arah luar, dia juga tahu rasanya ketika melihat keluarganya terbunuh. Tanpa pikir panjang, wanita berkulit coklat itu memilih keluar dan mencari keberadaan Read saat ini.


Di dek kemudi, Read berdiri menatap lautan luas di sana, dan ditemani oleh angin deras yang menerpa tubuhnya. Tanpa ekspresi, wanita itu masih terdiam ataupun menangis, seolah semuanya benar-benar hilang dari dirinya.

__ADS_1


“Boleh bergabung?” suara Emily mengejutkan Read yang tengah asik sendirian.


“Pergilah.” Balas Read menolak Emily. Emily yang memiliki sifat keras kepala, wanita itu malah berjalan maju hingga berdiri di samping Read saat ini. Tidak ingin berdebat, wanita yang dipanggil pendiam dan pemarah itu memilih diam.


“Memikirkan sesuatu tidak akan ada habisnya! Dulu aku juga punya keluarga, tapi mereka sudah pergi. Ibu, ayah, kakak, mereka dibunuh oleh Ratu Revana, aku melihatnya ketika aku disembunyikan. Itu sangat menyakitkan.” Curhat Emily. Read yang merasa tidak ingin tahu cerita Emily, namun dalam hati ia juga ingin bercerita semuanya kepada seseorang.


Dengan wajah angkuhnya, Read masih terdiam dengan sorot mata memandang ke arah lautan. Karena cerita itu, hampir membuat Emily menangis, mengingat kematian keluarganya, namun syukurlah dia bisa menahannya.


“Ayolah, kita memang tidak seakrab yang lain! Tapi tidak ada salahnya kalau kita bercerita satu sama lain!” ujar Emily sambil tersenyum lebar menatap Read. Sementara wanita dengan rambut sebahu itu masih diam tanpa ekspresi.


Angin malam masih berhembus kencang, hingga menerpa wajah dari kedua wanita yang masih asik duduk berdua di dek kemudi kapal. Emily yang berharap bisa menjadi pendengar yang baik, tapi ternyata itu sangat sulit, ia tidak ingin memaksa Read untuk bercerita hal yang paling menyakitkan seumur hidupnya. Tapi di sisi lain pula, Emily merasa kasihan dengan Read karena Beryl bilang wanita yang saat ini duduk di sampingnya tidak pernah merasa tawa bahkan tersenyum sejak kecil.


“Hffuuu.... Okay, tidak masalah jika kau tidak ingin cerita! Aku akan kembali bersama yang lainnya!” ucap Emily menghela nafas panjang dengan senyuman tipis, dia hendak berdiri, namun tiba-tiba. Srepppp.. Sebuah anak panah hendak mengenai kepala Emily, untung saja dengan sigap Read langsung mendorong tubuh Emily beserta dirinya hingga tersungkur. Tatapan Emily dan Read kini mengarah ke arah sebuah kapal yang lebih kecil dari kapal mereka, namun orang-orangnya begitu memenuhi kapal.


Sementara di dalam, Jack langsung mematikan musik dan mulai bergegas keluar sampai ia berpapasan dengan Emily dan Read.


“Kita diserang, sebentar lagi musuh akan mendekati.” Jelas Read.


“Apa? Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo bersiap, cepat.” Ujar Papa Pirate segera bergegas. Dengan cepat semuanya mengambil senjata masing-masing. Sedangkan Rose masih bingung harus apa?


“Siapa yang menyerang?” tanya Rose dan Jhon kepada Emily.

__ADS_1


“Aku tidak tahu. Tapi, aku rasa itu perompak lain.” Jelas Emily.


“Ayo cepat, kita juga harus membantu mereka.” Titah Robin kepada ketiga temannya. Emily dan Jhon mengangguk setuju, tapi Rose masih sedikit takut, dia bahkan tidak tega harus melukai seseorang.


Kini Jhon, Emily dan Robin, bahkan semua para perompak yang awalnya santai sambil menari-nari dan minum, kini mereka sudah bersiap dengan senjata berupa pisau, pedang, pistol.


“Kau disini saja. Kami juga harus melindungi mu! Aku akan menjaga di pintu depan.” Ucap Robin. Dan hal itu disetujui oleh yang lainnya juga.


“Tidak.” Balas Rose yang seketika membuat Robin, Emily dan Jhon sedikit terkejut.


“Aku akan ikut melawan.” Lanjut wanita berambut pirang itu yang kini dengan wajah serius. Rose mengerti di dunia fantasi ini, dia akan berubah, bahkan mungkin dia akan bertambah tangguh disini. Dengan semangat tanpa adanya rasa takut lagi, Rose mengeluarkan pedangnya.


“Aku akan menjadi seorang ratu, seharusnya aku yang akan melindungi kalian!” ujar Rose tersenyum tipis. Ketiga temannya yang mendengar hal itu juga merasa senang.


“Baiklah, ayo!” ucap Emily.


Dan kini ke 13 orang sudah berdiri tepat di samping kapal dengan tatapan yang sangat tajam menunggu kedatangan musuh. Bahkan dia meriam sudah siap terpampang jelas menghadap kapal musuh.


“Tetaplah di dekat ku! Aku akan membantu mu.” Ucap Robin pelan, namun bisa di dengar oleh Rose. Rose hanya mengangguk paham.


“Shoot!!” teriak Papa Pirate menyuruh Actassi dan Bonny untuk segera menembak kapal musuh dengan meriam.

__ADS_1


BOOMMM... BOOMMM... Dua bola meriam yang terbuat dari besi berat, terlempar jauh hingga mengenai bagian tengah kapal musuh dan belakang, akibatnya kapal itu rusak dan tidak bisa dipakai kembali. Namun belum selesai, ternyata kapal yang sudah hancur itu, sudah tidak ada orang di sana. Tiba-tiba dari arah belakang musuh dengan pakaian bajak laut yang lebih compang-camping langsung menyerang dengan senjata mereka yang berupa pedang dan lain sebagainya.


BERSAMBUNG..........


__ADS_2