
Masih berada di kerajaan Peacland. Seorang ratu penguasa dunia tengah berjalan menelusuri lorong gelap yang berada di ruang bawah tanah Istana Fredenslige. Dengan hanya ditemani oleh sebuah obor, tidak membuat ratu kejam Revana takut akan keadaan yang hening dan gelap.
Tap, tap, tap. Suara langkah kaki yang masih terdengar samar-samar, kini sudah sampai di suatu tempat, yaitu penjara bawah tanah yang khusus untuk para pengikut setia Ratu Deldelina. Dan salah satunya adalah, pria tua kurus yang sempat bertemu dengan Rose waktu itu.
“Senang bertemu denganmu lagi!” ucap Ratu Revana terseringai licik menatap pria tua yang berada di balik jeruji besi. Dulu dialah seorang penasihat Istana Fredenslige yang patuh dan setia dengan Ratu Deldelina.
“Sudah berapa lama kau disini? Ah, iya. dua puluh satu tahun! Menakjubkan!” ucap Ratu Revana dengan sombongnya dan tawa kecil menyerupai hantu. Bukannya takut, pria tua tersebut malah berjalan menatap lebih dekat kearah mata seram milik Ratu Revana.
“Tidak lama lagi hidupmu akan berakhir, Revana. Because your death has come! Disini, dia ada disini! Hahahaha...!!” ujar pria tua itu yang mengeluarkan tawa keras hingga mulutnya terbuka lebar. Seketika hal itu membuat Ratu Revana murka, sampai ia mencekik pria tua itu dengan menggunakan sihir darkness-nya yang kini melingkar di leher kurus dan kotor pria tua tadi.
“Siapa yang kau maksud?” tanya Ratu Revana yang menatap lebih dekat kearah pria tua yang kini merasa kesakitan di sekujur leher hingga wajahnya memerah dan mata melototnya.
“Me— Nurut mu si.. apa..?” balas pria tua itu yang masih terseringai layaknya mengejek sang ratu kejam tersebut. Tanpa belas kasih, Ratu Revana mempererat belitan yang ada di leher pria tua tadi, hingga darah hitam keluar dari mulut pria tua itu dan seketika, Dead.
Semua orang yang ada di balik jeruji yang lainnya, mereka hanya diam dan merasa takut akan penyihir kejam itu. Ratu Revana begitu terlihat marah hingga nafasnya memburu.
Seketika dia berjalan dengan cepat menuju tahtanya dengan wajah amarah dan murka. Jerry, yang termasuk pembantu kerdil setia dan takut akan kemarahan Ratu Revana, segera dia bergegas menghampiri ratunya dengan kedua tangan berada didepan dan jari-jarinya bertarung satu sama lain.
“Ada apa my queen?” tanya gugup dari Jerry dengan suara kecil dan nyaring.
“Panggil peramal Lotus sekarang juga.” Pinta Ratu Revana tanpa menatap kearah Jerry yang saat ini berdiri di bawah.
“Tapi, untuk apa my queen?” tanya Jerry penasaran dan senyuman.
__ADS_1
“Fasttt.” Teriak kencang keluar dari mulut Ratu Revana yang saat ini benar-benar murka akan ucapan pria tua tadi. Mendengar perintah tersebut, dengan cepat Jerry berlari sempoyongan dan segera menemui peramal Lotus, sesuai perintah. Sementara Ratu Revana masih diam tanpa berkutik, duduk di singgasana yang terlihat suram sekali.
“Jika itu benar, maka aku tidak akan melepaskannya.” Gumam Ratu Revana dengan tatapan tajamnya bak mata Elang.
***
Istana Hameland.
Sebuah meja makan yang begitu panjang dan menarik perhatian bagi siapa saja yang datang dan melihatnya sendiri! Bagaimana tidak? Sebuah meja makan yang terbuat dari es begitu berkilau dan sedikit dingin. Bahkan kursinya pun terbuat dari es yang seolah bernuansa serba biru.
Rose beserta ketiga temannya dan Ratu Air, kini duduk di kursi meja makan. Sepasang mata yang bersamaan menatap kearah meja makan yang kini sudah penuh akan hidangan spesial. Salah satunya hidangan yang benar-benar spesial ditutupi oleh penutup saji yang terbuat dari besi, namun dengan ukuran besar terletak di tengah-tengah meja makan makan dengan dikelilingi makanan ringan lainnya beserta minuman mewah.
“Wahhh, benar-benar makan besar!” gumam Jhon yang tidak sabar.
Pukkk, pukkk. Ratu Air menepuk telapak tangannya dua kali. Seketika 6 pelayan dengan pakaian serba biru muda menghampiri meja makan dan membuka hidangan spesial tersebut. Rose, Emily, Robin dan Jhon sama-sama penasaran dan tidak sabar untuk mencicipi hidangan lezat dari Ratu Air. Mungkin mereka benar-benar lapar.
Tadaaaa. Hidangan sudah terbuka dan terlihat jelas. Senyuman yang awalnya melekat di wajah Rose, Emily dan Jhon tiba-tiba hilang ketika melihat pemandangan didepannya saat ini. Tidak lama, Jhon menutup mulutnya seolah ia menahan mualnya.
“Sorry! Jujur saja aku tidak pernah memakan itu, dan aku tidak berharap memakannya.” Ujar Jhon mengatakan sejujurnya kepada Ratu Air. Ratu Air yang melihat ekspresi tidak senang dari Rose dan teman-temannya membuat Sang ratu ikut heran.
“Aku juga tidak pernah memakannya.” Lanjut Emily pelan.
“Aku juga!” balas Rose. Dan kalian tahu apa yang dihidangkan oleh Ratu Air sebagai hidangan spesial. Yaitu, katak panggang yang menumpuk tersusun rapi layaknya sebuah Piramida dengan kepala masih utuh namun semuanya sudah berwarna coklat. Benar-benar menjijikkan!
__ADS_1
“Apa kalian tidak pernah memakannya?” tanya Ratu Air yang dibalas dengan gelengan dari Rose, Emily dan Jhon namun tidak dengan Robin yang hanya diam sambil menatap terus kearah susunan katak panggang itu.
“Hey, kau tidak mual! Jangan katakan kalau kau pernah memakannya.” Ucap Jhon yang duduk disamping Robin.
“Untuk bertahan hidup di hutan, kita bisa memakan semua yang ada disana.” Balas Robin yang masih tidak dimengerti oleh Jhon.
“Maksudmu? Kau pernah makan atau tidak?” tanya pria konyol itu benar-benar tidak tahu apa-apa selain wanita cantik. Robin mengangguk pelan dengan senyuman, menandakan bahwa ia pernah memakan daging katak, entah kapan itu.
Mendapat jawaban itu membuat perut Jhon bertambah mual dan ingin muntah.
“Itu sebabnya aku lebih suka kentang goreng.” Gerutu Jhon.
“Okay, aku minta maaf! Akan aku bawakan hidangan spesial yang sesungguhnya!” ucap Ratu Air yang masih ramah. Dengan tepukan tangan lagi, hampir seluruh pelayan Istana Hameland datang mengambil hidangan katak panggang dan menggantinya dengan hidangan ikan Marlin yang begitu besar dan terlihat lezat, tercium dari aromanya.
Rose beserta yang lainnya tidak pernah merasakan daging ikan Marlin. Melihat ekspresi wajah yang kembali tersenyum, membuat Ratu Air juga ikut senang.
“Terima kasih Ivy!” ucap Ratu Air kepada salah satu orang kepercayaannya. Lagi-lagi Jhon kembali bertemu dengan Ivy, wanita cantik dengan rambut panjang berwarna putih.
“Ikutlah makan bersama kami!” tawar Jhon tersenyum lebar kepada Ivy.
“Waw, sepertinya kau mendapatkan fans ya!” goda Ratu Air tersenyum kearah Ivy.
“Terima kasih, tapi lain kali!” tolak Ivy begitu lembut dan sopan membuat Jhon bertambah klepek-klepek.
__ADS_1
BERSAMBUNG...........