ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : Perkenalan


__ADS_3

Di dalam sebuah kapal yang begitu besar dengan sebuah bendera kecil berwarna merah bergambar tengkorak yang berkibar di ujung atas kapal. Baru pertama kali Rose bisa merasakan rasanya naik sebuah kapal. Jujur saja, selama di Las Vegas ia tidak pernah merasakan suasana naik kapal, karena dia adalah gadis kutu buku yang hanya fokus belajar Ballet dan membaca. Tapi, disini sungguh benar-benar seperti mimpi.


Saat asik mengamati kapal tersebut. Kini Rose, Emily, Jhon dan Robin melihat ke arah depan dan tepat sekali, para perompak pemilik kapal itu sudah ada di depan mereka. Semuanya memang ada sembilan orang, wanita berambut putih itu tidak bohong.



Sorry if the picture is not clear😊


Benar-benar memancarkan suasana yang mengetikkan, entah apa jadinya kalau para bajak laut itu membuat perangkap dan melempar Rose beserta ketiga temannya yang lain ke tengah laut, atau bisa jadi mereka akan dijadikan umpan ikan-ikan besar di dasar laut.


Rose dan ketiga yang lainnya, berjalan agar lebih dekat dengan para perompak yang kini sudah berkumpul. Tatapan mereka terus mengarah ke arah Rose, Emily, Jhon dan Robin tanpa berpaling sedikit pun. Namun, kali ini hanya ada satu di pikiran para perompak itu kecuali si Papa Pirate dan pria dengan tutup mata satu yang memilih yakin bahwa dia adalah seorang Putri.


“Apa kau benar-benar seorang putri?” tanya wanita berambut putih yang kini sudah santai saat bicara, tanpa ada kesombongan ataupun celotehan.


“Ya, begitulah!” jawab Rose tersenyum tipis.


“Bagaimana mungkin, seorang putri berkeliling dengan pakaian seperti itu.” Ucap seorang pria dengan kain hijau. Rose memilih diam, dan tidak tahu harus menjelaskan bagaimana kepada mereka semua.


“Tapi, jika kau benar seorang putri! Kami minta maaf atas kelakuan menyebalkan kami tadi, sifat itu sudah biasa dalam kalangan perompak!” lanjut wanita berambut putih yang disetujui oleh lima kawannya yang lain, yang ikut serta.


Sampai, Papa Pirate datang dengan membawa sebuah gulungan kertas tua di tangannya. Papa Pirate berjalan menghampiri mereka semua dan berhenti di tengah-tengah antara anak perompaknya dan Rose beserta ketiga temannya. Tak butuh waktu lama, Papa Pirate membuka gulungan kertas tersebut dan memperlihatkan sebuah gambaran lima orang berjajar dengan senyuman lebar.


Itu bukan foto, melainkan lukisan yang dibuat sangat detail hingga wajah yang terjiplak di kertas itu sangatlah jelas. Para perompak yang melihat lukisan itu terheran, sebelumnya Papa Pirate tidak pernah menunjukkan kertas itu. Dan salah satu orang di lukisan itu adalah Papa Pirate.

__ADS_1


“Dia adalah ayahmu, Raja Elmerbar, pemimpin Kerajaan Elderscobia. Dimana itu adalah kerajaan kecil yang selalu terbuka untuk siapapun, bahkan seorang bajak laut sepertiku boleh datang.” Jelas Papa Pirate seraya menunjuk ke lukisan wajah seorang pria yang masih muda, tanpa mahkota melainkan hanya sebuah jubah yang ia pakai.


“Ketegasan dan kebaikannya. Membuat penduduk serta para perompak maupun pencuri, mereka semuanya tertunduk sebagai bentuk penghormatan untuknya. Dan aku bisa mengenalimu karena kalian berdua memiliki wajah yang sama.” Lanjut Papa Pirate yang membuka satu kertas gulungan yang lebih kecil dari ukuran kertas tadi. Ia membuka kertas yang sudah terlihat lusuh dan kusam itu, hingga menampakkan sebuah sketsa wajah seorang wanita.


Seketika semuanya terkejut saat melihatnya, kecuali Rose, Emily, Jhon dan Robin juga Papa Pirate. Ya! Sketsa itu adalah wajah dari seorang ratu Kerajaan Peacland, dia adalah Ratu Deldelina. Wajahnya benar-benar sangat mirip dengan Rose, hanya yang berbeda warna rambut. Mungkin rambut Rose ikut ayahnya berwarna pirang.


“Hey, kalian benar-benar mirip.” Ujar wanita bertopi merah. Tanpa berlama-lama, Papa Pirate menggulung kembali kertas itu dan menyimpannya kembali di sakunya.


Rose terdiam, memikirkan kembali bahwa ibu kandungnya sudah meninggal. Bahkan di dunianya juga sama seperti itu, pikiran itu benar-benar berputar di kepala Rose. Semuanya menatap ke arah Rose terdiam sambil menatap fokus dan kosong ke arah kaki-kaki para perompak itu tanpa bergerak.


“Rose!” Robin memegang pundak Rose dan menyadarkan wanita itu kembali.


“Em, maaf!” lirih Rose membuang nafas panjang.


“Oke! Namaku Clisson!” ucap wanita berambut putih itu seraya membuka topinya dan menunduk memberi hormat, lalu memakainya kembali.


“Dan dia, Jack! Si pria berkain hijau!” lanjut Clisson memperkenalkan seluruh temannya yang ada di kapal.


“Dia si kecil Bonny!” wanita bertopi merah yang paling muda dari yang lain.


“Teach pencuri gagal! Actassi pria tangguh! Guiracocha, pria menyebalkan.”


“Aku tidak semenyebalkan itu sayang!” balas pria bernama Guiracocha yang menutupi satu matanya seperti bajak laut biasanya. Pria itu memang menyukai Clisson dan selalu menggodanya jika ada kesempatan.

__ADS_1


“Lupakan! Dan dia, Beryl wanita pemabuk!” lanjut Clisson seraya menunjuk ke arah Beryl yang kini berdiri sambil membawa satu botol alkohol dengan seekor burung Beo berwarna orange di pundak kanannya. Wanita itu menyapa dengan sadar pada Rose, Emily, Jhon dan Robin.


“Dan dia, Read, si pemarah!” lanjut Clisson. Memang benar wanita bernama Read itu sedari tadi tidak tersenyum sama sekali. Meski teman-temannya menikmati suasana baik, namun ia tetap diam dengan angkuhnya.


“Maaf, apa dia memang tidak tahu cara tersenyum?” tanya Jhon, seketika membuat Read langsung berjalan pergi dari sana memilih duduk dengan jarak sedikit jauh dari mereka semua.


“Dia memang seperti itu sejak dulu!” jawab Clisson sedikit berbisik. Mereka semua menyapa dengan baik, seolah pintu pertemanan sudah terbuka lebar untuk keempat orang itu.


“Dan panggil saja dia, Papa Pirate! Tetua kami!” lanjut Clisson yang menunjuk ke arah Papa Pirate yang kini berada di dek paling atas. Semua nama perompak sudah di perkenalkan, kini giliran Rose dan teman-temannya.


“Namaku Rose! Dia Jhon, Emily dan Robin!” ucap Rose memperkenalkan ketiga temannya.


Perkenalan mereka sudah berakhir dan kini mereka harus segera pergi bergegas sebelum menjelang malam. Karena di malam hari ombak akan lebih ganas daripada munculnya matahari. Apalagi lautan yang mereka sebrangi sangatlah terkenal ganas dan mematikan Sea of ​​death. Sebuah lautan yang sangat-sangat jarang dilewati oleh nelayan ataupun bajak laut.


Bahkan di tengah lautan, tepatnya diantara batu besar hitam yang sangat sulit dilewati, ada penjaga setia yang selalu menunggu mangsanya sepanjang hari. Namun, jalur itulah yang lebih dekat dengan Istana Fieryland milik Ratu Api, dan Rose tidak punya banyak waktu untuk menempuh jalur yang lebih panjang, bahkan para perompak itu juga suka dengan tantangan besar jika berada di lautan. Bagi mereka, itu sangatlah menyenangkan.


BERSAMBUNG.........


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


HAI PARA PEMBACA CERITA ROSELLYNA. UNTUK SEMENTARA INI AKU CLOSE DULU CERITA ROSELLYNA NYA YA! KARENA AKU SEDANG TIDAK ENAK BADAN NIHHH, SEKALIAN AKU JUGA MEMIKIRKAN UPDATE SELANJUTNYA DARI CERITA DI ATAS. SO IM SORRY, KARENA MENGEHENTIKAN MATA KALIAN YANG SUDAH ASIK MEMBACA CERITAKU ROSELLYNA YAAA. TAPI, JIKA BADANKU SUDAH SEHAT, AKU NANTI OPEN LAGI UPDATENYA.


JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKE KALIAN👍❤️

__ADS_1


THANK YOU AND SEE YOU 🤗🤗


__ADS_2