ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : Sesuatu?


__ADS_3

Masih di dalam kapal. Rose beserta yang lainnya menikmati kebersamaan mereka hingga tertawa bersama sekaligus menyantap hidangan seafood mereka dengan bumbu alami dari dunia sana. Tak hanya bercanda, bahkan mereka semua saling mengobati satu sama lain.


“Aku sangat suka kehidupan kalian! Bertarung, dan petualangan setiap hari! Wah menyenangkan!!” girang Jhon kepada para perompak di sana.


“Tentu saja! Tapi mungkin kami tidak bisa menerima orang seperti mu lagi, karena kami sudah punya Teach!” ujar Clisson jujur. Ya di kapal mereka sudah ada satu orang konyol, yaitu Teach si. pencuri gagal.


“Kenapa aku?” ucap Teach seolah tak terima. Seketika semua langsung tertawa lepas bahkan Jack langsung merangkul Teach yang duduk disebelahnya sambil makan.


“Iya, aku rasa dia mata duitan.” Bisik Jhon di telinga Robbin.


“O,iya. Setelah berhasil mengunjungi istana Ratu Elemen, lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanya Guiracocha kepada Rose.


“Aku akan menghadapi Ratu Revana, meski itu harus sendirian.” Jawab Rose membuat keadaan seketika menjadi hening tak bersuara. Semua mata tertuju kepada Rose yang saat ini terlihat serius.


“Sebelum aku pergi dari dunia ini. Aku akan menyelesaikan semuanya.” Lanjutnya. Dan lagi-lagi keadaan masih hening, pembicaraan itu mulai menjadi serius.


“Okay... Good luck!” ucap para perompak di sana. Keadaan kembali seperti semula, namun ada satu orang yang sangat terlihat aneh, dialah Robin. Pria itu menatap Rose dengan tatapan tak biasa, seperti bingung yang tercampur dengan ketidak berdayakan nya.


Perjalanan masih lumayan panjang, hanya tinggal beberapa hari saja, mereka akan tiba di istana Ratu Api. Saat asik berbincang, Rose tidak sengaja melihat goresan luka di punggung tangan Robin, luka yang cukup dalam. Pria itu tidak mengobatinya dan membuat darah di sana mengering. Refleks Rose meraih tangan Robin tanpa berpikir bagaimana jadinya perasaan Robin saat itu.


“Seharusnya kau mengobatinya.” Ucap Rose.


“Untuk apa? Luka seperti ini sudah biasa di dalam pertarungan.” Balas Robin menolak.


“Hey bung, obati saja apa susahnya!” ucap Jhon mengikut pelan lengan Robin.


“Tidak perlu.” Tolak Robin menarik kembali tangannya dari Rose.


Saat semuanya sibuk masing-masing, tiba-tiba Emily dan Read masuk dengan tawa yang tidak biasa. Melihat senyuman lebar terukir di wajah Read, seketika semuanya lagi-lagi terdiam layaknya patung, terutama para perompak yang sudah cukup lama mengenal Read. Bahkan Posisi mereka benar-benar konyol.

__ADS_1


“Read, itu kau?” tanya Papa Pirate tak percaya.


Wanita bernama Read itu mengangguk seraya tersenyum.


“Are you oke?” tanya Bonny masih merasa aneh.


“Sure!” balas Read.


Mereka semua benar-benar tidak percaya akan apa yang mereka lihat di depannya. Namun di sisi lain mereka senang karena melihat Read tidak murung lagi seperti dulu. Seketika Clisson berdiri menghampiri Read dan memeluknya. Mereka semua benar-benar seperti keluarga sendiri.


Bagaimana tidak? Dulu ada seorang gadis kecil yang sangat berani menghadapi para bajak laut sendirian dan memilih ikut bergabung tanpa senyuman dan hanya ada tekad juga kehausan dendam.


Papa Pirate berjalan menghampiri Read yang masih berdiri bersama yang lainnya. Pria tua itu memegang lengan kanan Read dengan senyuman tipis.


“Aku senang karena kau kembali ke dirimu yang asli! Tetaplah seperti ini!” ujar Papa Pirate kepada Read. Wanita dengan tampang tegas dan pemarah itu, kini tersenyum tipis, bahkan ia merasakan begitu menyenangkan saat bisa tersenyum kembali seperti teman-temannya yang lain.


Semuanya bersatu namun hanya Robin dan Rose yang masih duduk sambil menatap dari arah yang sedikit jauh. Senyuman hanya. terukir di bibir Rose tidak di bibir Robin, entah kenapa pria itu diam sambil memandang ke arah Read dengan penuh tanya dan aneh hingga dia beranjak pergi dari situ memilih keluar.


“Kau terlihat cantik ketika tersenyum!” goda Jhon lagi-lagi membuat Emily kesal, bahkan tak cuma Emily melainkan Read juga kesal ketika mendapati pujian seperti itu. Karena kini mereka semua tahu bagaimana orang bernama Jhon itu, suka wanita cantik.


“Iya dia benar!” sambung Actassi yang setuju akan ucapan Jhon.


Di Dek tengah di belakang kapal, Rose menghampiri Robin yang masih terdiam sendirian dengan tenang sambil memandang ke arah lautan.


“Did something happen?” tanya Rise yang kini sudah berada di belakang Robin.


“Nothing.”


“Mungkin kau juga punya cerita disini, kau bisa membaginya padaku!” ucap Rose membuka diri sebagai pendengar yang baik.

__ADS_1


“No.” Jawab Robin seraya tersenyum tipis.


Kini mereka berdua lagi-lagi berdiri sejajar dengan Rose memandang ke arah lautan, sementara Robin sebaliknya memilih bersandar dengan kedua tangan terlipat di perut.


“Sebentar lagi semuanya akan tamat disini! Tapi aku masih heran, kenapa kau memilih ikut bersama kami? Maksudku aku, Emily dan Jhon! Bahkan waktu itu kita pertama kali kenal.” Ucap Rose menoleh ke arah Robin, sedangkan Robin juga menatap Rose.


“Entahlah, mungkin kau membuatku tertarik.” Jawab Robin tanpa ragu, namun Rose masih tidak sadar akan kata-kata itu. Seketika Jhon dan Emily menghampiri kedua orang yang tadi asik berbincang berdua.


“Kalian sedang apa di sini?” tanya Emily.


“Hanya berbincang biasa.” Jawab Rose tersenyum.


“Kata Clisson sebentar lagi kita akan sampai di kawasan monsterrrrr.... Tapi tidak tahu kapan itu akan terjadi.” Jelas Jhon.


“Iya, kita harus waspada, musuh bisa datang kapan saja.” Balas Emily.


Meskipun langit cerah ataupun gelap, musuh bisa datang kapan saja dan dimana saja. Bahkan monster-monster kiriman dari Ratu Revana masih belum datang, mereka tahu jika Ratu Revana akan menghalangi jalan mereka dan langsung membunuh mangsanya di tempat, tapi kini masih belum waktunya.


\*\*\*


Di pelosok hutan yang lebat, pasukan Putri Brillyana dengan waspada masih setia mengawalnya. Suara langkah kaki kuda berseteru dengan suara kaki yang sebagian berjalan di tanah.


Putri Brillyana membuka sedikit gorden tandunya, ia menatap ke arah luar yang ternyata masih berada di dalam hutan, bahkan sinar matahari tidak bisa menembus dedaunan yang lebat itu.


“Lyn!” panggil Putri Brillyana kepada salah seorang pelayan yang saat itu berjalan di samping tandunya.


“Iya Putri!” jawab pelayan bernama Lyn itu tersenyum tipis.


“Apa yang kau lihat di istana Fredensligh?” tanya Putri Brillyana yang masih merasa penasaran akan kehidupan ibunya dulu.

__ADS_1


“Beautiful!” jawab pelayan itu yang masih tersenyum tipis. Tentu! Pelayan itu terpaksa berbohong soal keindahan istana Fredensligh yang sekarang. Hampir semua orang di kerajaan Peacland menyembunyikan kesuraman dari istana Fredensligh yang dulunya berwarna dan indah, kini menjadi hitam dan suram. Bahkan kerajaan manapun tidak berani melawan kekuatan dan kekuasaan Ratu Revana.


BERSAMBUNG............


__ADS_2