ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : Overnight


__ADS_3

Rose sangat menikmati alunan musik khas dunia fantasi disana, tak hanya Rose yang menikmati, bahkan John dan Emily juga ikut menari bersama tamu-tamu disana juga bersama ibu Cloe dan putrinya Civic.


Wanita yang kini hanya duduk sambil melihat kearah dua temannya yang masih menari. Ia hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk tangan mengiringi alunan musik disana. Sampai pria tampan bernama Robin menghampirinya dan duduk di sebelahnya sambil menawarkan makanan ringan (Camilan) berupa kacang yang dia bawa digenggaman tangannya.


“Kau mau!” tawar Robin pada Rose.


“No, thanks!” jawab wanita itu seraya tersenyum ke arahnya. Mereka kembali melihat ke arah orang-orang yang sibuk menari.


“Apa kau tidak pernah melihat hal seperti itu di Las Vegas?” tanya Robin tiba-tiba membuat Rose menoleh.


“Aku hanya melihat, tapi tidak ikut menikmatinya!” jawab Rose tersenyum paksa karena sedikit malu akan kehidupannya yang selalu dibully di kampusnya.


“Kenapa?” tanya pria itu. Pertanyaan yang simpel, tapi bagi Rose itu seperti 1000 pertanyaan yang sulit.


“Karena, tidak semua orang menyukaiku disana.” Jawab Rose tertunduk namun masih tersenyum.


“Saat disana aku sangat jelek, kau tahu! Wanita dengan kacamata, jerawat penuh di pipi kanan kiri, dan pakaian yang tidak cool!” jelasnya kepada Robin.


Pria itu hanya mengangguk berulang-ulang sambil masih melahap kacang itu dan menatap lurus ke depan. Tidak tahu kenapa, tapi Rose sangat lega ketika bercerita tentang dirinya kepada Robin, pria kedua yang dia kenal setelah Max.


“Bagiku kau tetap cantik apa adanya!” ucapan itu keluar begitu saja dimulut Robin, pria yang saat ini duduk disebelahnya tanpa rasa canggung dan malunya.


Jantung Rose terasa berdegup kencang, kali pertama seorang pria memujinya cantik, bahkan Max pun tak pernah mengatakan hal itu, apalagi terus terang dengannya seperti Robin. Wanita itu hanya terbatuk pelan ketika mendapat pujian seperti itu, rasa malu juga kini menyelimuti tubuhnya.


“Boleh ku katakan, kalau kau pria pertama yang mengatakan hal itu padaku!” kata Rose tersenyum lalu berpaling dengan perasaan yang sedikit mulai aneh.


“Benarkah? Kalau begitu aku pria spesial untukmu!” balas Robin tersenyum menatap wajah Rose dengan ikhlas. Saat menatap mata Robin dan senyuman lebarnya, membuat hati Rose berdebar keras, dan langsung berdiri menghampiri John dan Emily yang masih menari-nari.


Robin hanya terkekeh saat melihat tingkah Rose yang seolah tak bisa terkendali lagi akan ucapan Robin tadi. Pria itu meneguk sebotol air dan terus memandang Rose tanpa ekspresi.


***


Kerajaan Peaceland.


Seperti biasa, Ratu Revana duduk di singgasana yang mewah dan panjang terbuat dari emas asli. Dua prajurit masuk dengan membawa satu orang tua yang kini diapit di tengah-tengah badan dengan baju besi mereka.


“Ratu, dia adalah pria yang mencoba mencuri koin Istana Fredenslige.” Terang salah satu prajurit itu kepada Ratu Revana, yang kini berdiri menghadap mereka.

__ADS_1


Ratu Revana seketika berjalan mendekat ke arah tiga orang tadi. Aura mengerikan bisa dirasaka oleh pak tua yang kini tak bisa melarikan diri atau berbuat sesuatu lagi.


Saat sudah berhadapan langsung, jari dengan kuku panjang warna hitam milik Ratu Revana, mulai menyusuri wajah pria tua yang kini terlihat sangat ketakutan sekali. Sampai jari itu berhenti di pinggir bibir pria itu, dan seketika mulut pria tua itu mulai terbuka lebar tanpa dia bisa rasakan.


“Aaaaaaahhhh” Teriak kesaktian dari pak tua tersebut.


Mulut yang sudah sangat membuka lebar. Kelima jari Ratu Revana bergerak-gerak melayang di atas tengah-tengah mulut yang masih terbuka. Tiba-tiba, asap putih keluar dari mulut pria itu sampai pria tua itu menjadi bertambah kurus dengan dua bola mata menjadi putih, seola nyawanya diambil (memang diambil). Melihat itu, ratu Revana merasa puas akan amarah dan hukuman yang pantas bagi siapapun yang berani melakukan hal tersebut, atau melawan perintahnya.


Saat semua asap putih itu keluar dari mulutnya. Pria tua itu seketika menjadi kurus kering bak tengkorak yang sudah tak bernyawa.


“Bawa dia dari hadapanku! Cepat.” Perintah nya yang langsung dituruti oleh dua prajurit tadi.


Itu hukuman bagi yang mencuri koin miliknya, bagaiman jika sampai Rose, Emily, John dan Robin sampai tertangkap olehnya?


Setelah melakukan hal itu, Ratu Revana pergi ke sebuah ruangan kosong. Ruangan yang dulu pernah dipakai olehnya beserta ratu Deldelina dan keempat saudari lainnya. Lebih tepatnya ruang menari khusus untuk para putri kerajaan Peaceland.


Ratu Revana sudah menghancurkan seluruh barang benda yang ada didalamnya. Di sisi lain, Putri Brillyana tengah berjalan mencari sang ibu, ia bertanya kepada salah satu pelayan yang ada di lorong kerajaan.


“Dimana ibuku?” tanyanya kepada seorang pelayan wanita.


PLLAKKK. Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan nya.


“Dasar pelayan tidak berguna. Begitu saja kau tidak tahu.” Sentak Putri Brillyana marah dan langsung meninggalkan pelayan itu yang masih memegangi pipinya yang terasa perih sekali karena tamparan tadi.


Putri Brillyana berjalan hingga ia sampai ditempat, dimana kini ratu Revana berdiri. Dengan perasaan kesalnya, Putri Brillyana menghampiri sang ibu.


“Apa yang ibu lakukan disini?” tanya Putri Brillyana yang kini berjalan dan berhenti tepat disamping ibunya.


“Menghancurkan yang tidak berguna. Ada apa sayang?” tanya Ratu Revana tersenyum tipis kepada Putri Brillyana.


“Sebentar lagi aku akan pergi ke istana Pangeran Justine. Aku ingin ibu memundurkan hari itu!” ucap Putri Brillyana.


“Kenapa? Apa kau tidak menyukai pria itu?” tanya Ratu Revana meraih sehelai rambut panjang putrinya.


“Aku hanya tidak ingin jauh dari ibu!” jawabnya seraya memeluk ibunya. Ratu Revana sangat menyayangi putrinya, dia bisa melakukan apapun untuk membuat putrinya bahagia. Apa pun itu.


***

__ADS_1


Penginapan Cloe House.


Masih dipenginapan. Hari yang sudah memasuki waktu tidur, semua orang yang ada di dalam rumah itu, tertidur pulas. Ada yang di ruang lain, ada juga yang di ruang tamu.


Saat semuanya tidur, Robin keluar dari penginapan itu dan berdiri di depan pintu. Memandang langit-langit yang gelap, seolah tengah mencari sesuatu. Sampai dia melihat seekor burung hantu yang sangat penurut, mulai mendarat di lengan tangan kirinya.


Pria itu tersenyum saat melihat burung hantu dengan warna abu-abu dan hitam itu mendekatinya dan memandang ke arahnya. Hingga beberapa detik kemudian.


“Kau sedang apa?” tanya seseorang dengan suara tak asing di telinganya.


Mendengar suara itu, sontak membuat Robin kaget, bahkan burung hantu itu langsung terbang begitu saja. Robin menoleh dan mendapati bahwa suara itu adalah milik John.


“Kau sedang bicara dengan siapa?” tanya John yang tadi melihat Robin sangat serius sekali.


“Dengan burung hantu.” Jawab pria itu. Seketika John terdiam.


“Apa kau masih waras? Oh, maaf, bukan. Maksudku, kau tidak gila 'kan?” tanya John mulai panik dengan temannya.


“Tentu tidak!” balas Robin tanpa gugup. John mengangguk lega, lalu mereka berhenti sejenak memandang sekeliling yang terlihat hening dan gelap.


“Ayo, masuk. Besok kita masih harus berjalan!” ajak Robin tersenyum lalu masuk lebih dulu.


John segera mengikuti langkah Robin dari belakang tanpa bertanya sesuatu lagi kepada pria itu. Besok pagi-pagi sekali mereka harus melanjutkan perjalanan yang cukup jauh sekali, bahkan orang-orang yang ada di dalam penginapan pun juga akan pergi melanjutkan perjalanan mereka masing-masing.


BERSAMBUNG..........


_________________________________


🌹🌹🌹 TEKA TEKI 🌹🌹🌹


__________________________________



HAYUUUUUU, SIAPA YANG TAHU JAWABANNYA?🤔 KALIAN BOLEH MENJAWABNYA DI KOLOM KOMENTAR. SAMPAI MANA SIHHH TINGKAT PEMIKIRAN KALIAN, APAKAH ADA YANG BISA JAWAB? AWAS TERJEBAK!!!


JAWABANNYA?•••••

__ADS_1


__ADS_2