ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : Feelings of Reluctance


__ADS_3

Karena ulah Rose, membuat mereka semua yang ada di kapal menjadi basah kuyup. Brukk. Ternyata Rose berhasil menangkap satu Siren yang kini terbaring di atas dek kapal seraya menggelepar gelempar seperti ikan yang di taruh di daratan.


“Rghhhaaaa..." Begitulah suara monster itu ketika dirinya merasa dalam bahaya, bahkan para Siren yang lainnya juga sudah menyerah. Tubuh kurus putih pucat serta ekor panjang berwarna abu-abu itu masih menggelepar tak karuan di atas kapal, bahkan kurang sedikit saja Baryl bisa terkena sebetan ekornya.


Sementara Rose masih terdiam melihat Siren itu, baru pertama kali ia melihat bentukan dari Siren apalagi tanpa busana dan kalian tahu kan bagaimana gambarannya.


“Wooo!” sorak slow ketika Jack hendak terkena sebetan Siren juga, namun beruntungnya dia segera menghindar.


Semakin lama Siren itu menggila tak ada hentinya, terlihat sekali dia ingin masuk kedalam air laut sehingga ingin melukai orang-orang disana.


“Hentikan dia, jika tidak monster itu bisa merusak kapal kita.” Perintah Papa Pirate yang langsung digarap.


“Aku rasa, kita bisa menjadikannya sebuah sirkus!” ujar Teach tertawa kecil kepada Papa Pirate dan Guiracocha yang hanya menggeleng tak berkutik.


“Cepat, pegang tangannya.” Pinta Clisson. Seketika dengan sekuat tenaga, Jack dan Actassi langsung menginjak tangan kanan dan kiri milik Siren tersebut meski itu sangat menyulitkan mereka berdua. Tega? No, sebelum menginjak pergelangan tangan Siren, Actassi mencoba memegangnya dengan kedua tangannya, alhasil dia terkena goresan dari taring Siren dan membuat punggung tangannya kini berdarah.


“Dia masih tidak bisa diam.” Gerutu Jack. Tak hanya Jack yang berpikiran seperti itu, bahkan semuanya juga melihat ekor dan tubuh Siren yang terus-menerus bergerak-gerak dengan mulut terbuka lebar mengerikan.


Di sisi lain, Rose hanya memasang wajah kasihan ketika melihat Siren itu seperti kesakitan. Tap, tap, tap ... Tanpa pikir panjang, Robin langsung berjalan maju ke arah Siren dengan membawa pedang panjang yang terlihat ada bekasan noda darah dari perang melawan Siren tadi.


“No, no— no....” Srreeppp. “ Argghhhh” lenguhan kesakitan dari mulut Siren ketika Robin menancapkan pedang yang dia bawa tadi tepat ke tengah-tengah ekor Siren, mungkin sampai tembus di lantai kapal. Dan yang lainnya hanya diam serta ngeri ketika melihat Robin yang begitu kejam tanpa belas kasih.


“No!” Teriak Rose membuat dirinya menjadi pusat perhatian yan yang lain.


Dengan pasang wajah kesal, Rose berjalan menghampiri Robin. “Kita tidak perlu menyakitinya, dia juga mahkluk yang mempunyai perasaan.” Ucap Rose yang langsung memegang gagang pedang yang masih tertancap tegak.


Sementara yang lainnya hanya bisa diam, apalagi Papa Pirate yang hanya tersenyum tipis melihat tingkah dan sifat yang sama seperti Ratu Deldelina.


Dengan sekuat tenaga, Rose berhasil menarik kembali pedang yang awalnya tertancap kini sudah berada di tangan Rose. Namun, tiba-tiba ekor Siren langsung bergerak-gerak dan hendak mengenai tubuh Rose, dengan sigap Robin langsung memeluk tubuh Rose menghalangi serangan tersebut sampai Siren itu berhasil lolos dan kembali ke rumahnya.


Karena melindungi Rose, Robin terkena serangan tadi sehingga punggung Robin tergores cukup panjang, bahkan baju yang dia kenakan juga ikut sobek. Benar-benar, ekor Siren sangatlah tajam, tak hanya suaranya yang tajam.


“Punggungmu berdarah.” Ucap Bonny yang melihat adanya luka goresan di punggung Robin.

__ADS_1


Seketika, Rose langsung memaksa Robin untuk berbalik badan dan benar ada sebuah goresan panjang dengan darah yang terus keluar. “Maafkan aku.” Ucap Rose merasa bersalah. Karenanya juga, Robin terkena serangan tadi.


“Tidak masalah, ini hanya goresan biasa. Tidak ada yang salah dengan sikap baik dari seseorang!” balas Robin santai meski dia merasa sedikit sakit di lukanya.


“Akan aku obati.” Ujar Rose yang hendak pergi, namun Robin meraih tangannya.


“Nanti saja.” Tolak Robin memilih menahan sedikit lagi.


Kini semua orang yang ada di kapal melihat betapa hancurnya kapal mereka karena ulah Siren. Bahkan untuk berlayar kembali pun tidak mungkin. Clisson berjalan menghampiri Papa Pirate dan juga Guiracocha yang tengah berunding, di tambah, untung saja keberadaan mereka sudah berada di garis keluar dari kawasan Siren.


“Kita harus bagaimana sekarang?” tanya Clisson.


“Tidak bagaimana-bagaimana sayang!” jawab Guiracocha.


“Ini bukan waktunya bercanda, Cocha.” Balas Clisson yang hanya dibalas senyuman miring oleh Guiracocha.


Sementara Rose yang masih memilih berdiri di samping Robin, dia melihat keseluruh kapal yang kini terlihat sangat hancur serta para perompak dan juga ketiga temannya yang kini terluka hanya karena mereka semua ingin membantu Rose mencapai tujuan untuk Fantasy World ini.


“Di depan sana ada sebuah desa dan kita akan pergi kesana, namun tidak menggunakan kapal ini lagi.” Lanjutnya.


“Lalu? Apa kita akan berenang?” tanya Actassi.


“No. Kita akan ambil potongan dari kapal ini untuk berlayar.” Jawab Clisson. Mereka semua melongo mendengar hal itu.


“C'mon!” teriak Clisson lagi dan langsung bergegas dengan diikuti yang lainnya. Mereka semua langsung bekerja sama memotong lantai kapal berbentuk persegi yang cukup untuk 13 orang, entah benda tajam apa saja yang digunakan untuk memotong kayu itu.


“Kau sebaiknya tidak perlu ikut membantu, aku akan melakukannya!” ucap Rose yang masih tidak enak dengan Robin.


“Kau seorang Putri yang akan menjadi Ratu! Duduklah, aku tidak lemah!” balas Robin tersenyum tipis lalu melanjutkan membantu yang lainnya.


“Iya Rose, kau duduklah! Biarkan kami yang bekerja!” sambung Emily dan Clisson.


Sejujurnya Rose tidak begitu nyaman dengan gelarnya di sana, tapi mau bagaimana lagi? Itu semua sudah takdir. Karena tidak boleh ikut membantu, Rose memilih berdiri sambil melihat lautan. Rasanya sangat aneh.

__ADS_1


“Baru pertama kali aku melihat wajah Siren yang begitu cantik!” seru Jhon yang masih sibuk memotong bagian-bagian kayu kapal.


“Pria aneh. Wajah aslinya tidak secantik itu.” Balas Teach.


“Aku tahu! Tapi mereka benar-benar pandai merayu seorang pria! Benar'kan!”


“Yeah! Aku setuju. Seharusnya kita tangkap salah satu dari mereka dan menjadikannya sebuah pertunjukan!” jelas Teach yang memperlihatkan betapa tamaknya dia akan uang.


“You really are a mercenary.” Ujar Emily yang juga sibuk mengikat bagian-bagian kayu yang sudah terpotong.


“Tentu saja! Para perompak seperti itu.” Jawab Teach tersenyum puas. Namun yang lain hanya menggeleng.


“Do not listen to him.” Pinta Clisson yang sudah Thu sifat Teach.


Rose dan Papa Pirate bisa mendengar pembicaraan mereka juga canda tawa mereka semua. Hanya dia orang yang tidak ikut bekerja, Rose dan Papa Pirate!


BERSAMBUNG............


___________________________


HAI SEMUA, GIMANA CERITA DI ATAS? SERU GAK, SERU DONGGG!!!! JANGAN LUPA JEJAK SEMANGAT SUPAYA PENULIS BERTAMBAH SEMANGAT UPDATE.


LIKE


KOMEN


FAVORIT


VOTE


🌟🌟🌟🌟🌟


THANKS AND SEE YOU 🤗🌹

__ADS_1


__ADS_2