
Rose, Emily, John dan Robin, empat orang itu berjalan menelusuri hutan dengan pepohonan yang lebat, subur dan sunyi. Tanpa lelah mereka melewati dan tanpa takut mereka mengahadapi tantangan yang akan ada.
Rose mengeluarkan peta dari dalam tasnya, dia melihat jalur yang akan mereka lewati untuk sampai ke Istana Hemland.
“Apa diantara kalian pernah datang ke Istana Ratu Air?” tanya Rose dengan kedua tangan masih memegang kertas peta.
“Tidak pernah.” Jawab Emily yang diikuti oleh gelengan kepala dari John.
“Tidak ada yang bisa datang kesana! Hanya orang-orang penting yang bisa datang, karena mereka sudah memiliki janji untuk bertemu lewat surat.” Jelas Robin yang tahu semuanya.
“Apa sesulit itukah?” tanya Rose. Tapi Robin terdiam sejenak.
“Lalu bagaimana kita bisa bertemu Ratu Air?” tanya Emily panik.
“Bisa! Jika kita bisa melewati penjaga Istana tersebut.” Jawab Robin yang masih sibuk berjalan sambil waspada terhadap sekitar.
“Kira-kira, seperti apa penjaga Istana Ratu Air ya?” tanya John dengan wajah berpikir-pikir dan membayangkan wajah sang penjaga tersebut.
Tidak ada yang tahu bagaimana wajah dan apa yang akan terjadi ketika mereka sampai disana. Apakah Rose dan ketiga temannya itu bisa melewati tantangan nya? Sungguh benar-benar rumit dan penuh tantangan.
Mereka berjalan dan kini sudah keluar dari perbatasan kerajaan Peaceland. Rose dan yang lain masih berjalan tanpa henti, sedangkan John sibuk memakan roti persediaan mereka.
Tak sadar akan perjalanan mereka. Disamping jalan, dekat pohon tumbang, sebuah gubuk kecil yang terbuka lebar membuat Rose dan yang lain penasaran (apakah yang ada di dalam?) tanda tanya penuh dipikiran empat orang tersebut. Mereka memutuskan untuk menghampiri gubuk tersebut, terdapat tulisan yang jelas diatas nya.
Hardware store. Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam, seketika melihat seorang pria bertubuh besar dan kekar tengah memukul besi yang akan ia buat menjadi sebuah senjata, seperti pedang dan lainnya. Menyadari akan kedatangan Rose dan tiga orang temannya, pria bertubuh besar tersebut, berhenti dan beralih kearah empat orang tadi.
Seketika, SLLLEEEPP. Sebuah pedang kecil terlempar hingga nyaris mengenai wajah Robin dan John.
__ADS_1
“Siapa kalian? Siapa yang mengirim kalian?” tanya seketika orang berbadan besar itu, dengan suara yang juga besar nan tegas.
“Kami hanya pejalan kaki! Kami membutuhkan senjata!” jawab Robin tersenyum tipis. Pria bertubuh besar itu langsung tersenyum dan berbicara ramah dalam sekejap.
“Benarkah? Kau datang pada ahlinya!” ucap pria besar itu. Pria itu berjalan hingga kesebuah kotak besar dan panjang di sudut ruangan.
“Aku punya banyak senjata untuk kalian bawa! Ini!” sambungnya sambil menunjukan sebuah pedang panjang mengkilat dengan ukiran dipegangannya terbuat dari baja yang indah.
“Pedang Traitoner! Ini sangat kuat dan cocok untukmu!” ucap pria itu kepada Robin. Robin meraihnya dan melihat dengan teliti.
Sementara John melihat senjata indah yang melekat di dinding kayu ruangan tersebut dengan pesonannya sendiri.
“Apa aku boleh mengambil yang ini?” tanya John kepada pria besar itu.
“Tentu saja!” jawabnya.
John mengambilnya dan memandang takjub kearah pedang tersebut. Sebuah pedang dengan dua mata pisau yang berbeda, dimana sisi kanan berbentuk seperti gergaji yang panjang, sedangkan disisi lain berbentu biasa namun terlihat tipis dan tajam.
“Dan ini untuk kalian!” ucap pria pemilik toko tersebut memberikan dua pedang biasa tapi terlihat tajam, diberikannya kepada Rose dan Emily. Kedua wanita itu menerima dengan senang hati tanpa pilih-pilih.
Setelah memilih semuanya, mereka juga tak lupa membeli sebuah tali dan alat-alat lainnya yang mungkin akan dibutuhkan dalam perjalanan nanti. Dengan koin yang mereka bawa, Emily membayar semua alat yang mereka bawa tadi kepada pria bertubuh besar tadi. Setelah selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju kearah yang seharusnya mereka datangi.
“Lihatlah, aku terlihat keren bukan!” ucap John memuji diri sendiri. Melihat itu Emily sungguh muak, sedangkan Rose dan Robin tersenyum.
Sehingga memasuki sore hari, Rose menatap kearah sekitar. Begitu sunyi dengan angin kencang yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Aku rasa sebentar lagi kita bisa melihat Desa!” ucap Rose yakin, karena di peta tertulis bahwa ada Desa kecil menuju Istana Hemland. Tapi mereka tidak tahu itu desa apa dan siapa penghuninya.
__ADS_1
Lima setengah jam mereka berjalan hingga, Robin yang berjalan paling depan, ia bisa melihat sebuah perumahan kecil dan sedikit dari bawah tebing. Ya! Untuk menuju kesana, mereka harus turun dari tebing dan berjalan menuju Istana Hemland, setelah melewati Desa misterius tersebut.
“Sepertinya itu Desa yang dimaksud Rose.” Ucap Robin yakin. Mendengar hal itu, John maju lebih dekat untuk melihatnya.
Dan benar, yang dilihat Robin juga sama dilihat oleh John. Pria itu tersenyum, karena mungkin mereka akan bermalam di Desa tersebut dan makan makanan enak disana. Perlahan Robin menurunkan sebuah tali untuk mereka turun dari tebing yang cukup rendah tidak terlalu tinggi.
Robin turun terlebih dahulu, lalu disusul oleh John. Setelah dua pria itu sudah turun, kini giliran Emily yang turun dengan cepat, lalu Rose. Rose yang berasal dari Kota, ia tidak pernah melakukan semua itu, alhsil ia sangat lambat dan perlahan ketika turun menggunakan tali.
“Kau pasti bisa, Rose! Semangat!” teriak Emily dan John memberi sorakan semangat.
Saat sedikit lebih dekat, Robin langsung memegang kaki hingga betis Rose dan menyuruh wanita itu supaya melepaskan pegangannya terhadap tali tadi. Rose melepaskan pegangannya, menuruti ucapan Robin, seketika pria itu sangat sergap menangkap tubuh Rose yang sedikit berisi, didalam pelukannya. Berhenti di saling tatap satu sama lain, sampai John membubarkan tatapan mereka dan kembali di keadaan semula.
“Ayo, sebentar lagi hari mulai gelap.” Ujar Robin melepaskan Rose yang sudah berdiri di tanah dan langsung berjalan begitu saja. Sementara Rose masih diam sedikit canggung akan hal tadi.
Mereka terus berjalan hingga mendekati perdesaan kecil itu. Entah kenapa saat mendekati desa itu, membuat kesan yang sangat merinding, karena mereka sama sekali tidak mendengar suara ricuh sedikit pun dari seseorang. Tidak seperti desa lainnya.
Saat sudah berada di pertengahan rumah yang terbuat dari gubuk dan kayu, Desa itu sama sekali tidak ada orang berlalu lalang disana. Sungguh sunyi seperti tak berpenghuni.
Tapi mereka masih berfikir positif akan hal tersebut. Sampai John merasakan bahwa ada seseorang yang baru saja berlari cepat dibelakang nya lalu bersembunyi kembali. Dengan posisi John dibelakang Emily dan Rose, tak salah jika ia yang merasakan sesuatu dibelakangnya. John menoleh karena terkejut akan suara langkah kaki tadi, namun dia tidak melihat apapun di belakang sana.
“Hey Guyss! Aku rasa ada yang mengikuti diblakang kita!” ucap John sedikit panik, membuat yang lainnya berhenti jalan, dan berbalik menatap John.
“Apa sebaiknya kita pergi saja dari sini?” tanya John yang memilih aman.
“Tidak bisa, karena ini sudah jalurnya.” Ucap Rose sambil memperlihatkan peta yang ia bawa kini dihadapan John. Emily yang melihat jelas dan teliti peta tadi, membuatnya sedikit ada yang janggal dari tulisan kecil di samping nama desa yang kini mereka datangi.
“Tunggu sebentar. Tulisan apa ini?” tanya Emily melihat tulisan yang ada di peta. Robin segera melihat tulisan yang dimaksud Emily. Terpasang wajah panik dan terkejut.
__ADS_1
“Aku rasa kita salah jalur.” Ucap Robin membuat ke-tiganya terkejut.
BERSAMBUNG..........