ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : Real Kiss Scene


__ADS_3

Sudah berhari-hari, mungkin saja sudah satu bulan lebih Rose tinggal di tempat asing yang bahkan dia tidak pernah merasakan tempat yang terlalu bebas tanpa adanya hukum. Hanya ada pertarungan dan perang. Rose juga tidak tahu keadaan di rumah Las Vegas, apakah ibunya mencarinya, pasti Mary sangat senang karena dia tidak bertemu Rose lagi.


Dan bagaimana dengan kontes Balerina? Ini bahkan sudah lewat satu Minggu. Rose benar-benar tidak tahu lagi, harus bagaimana? Mungkin di Las Vegas seluruh polisi tengah mencari keberadaan Rose saat ini, atau mereka semua sudah menganggap bahwa Rose itu sudah meninggal? I don't know?.


Seorang wanita dengan rambut pirang yang terkuncir satu seperti ekor kuda, menatap langit malam setelah jamuan makan malam usai. Para Perompak merasa lelah dan kenyang, hingga mereka semua termasuk Jhon dan Emily memutuskan untuk istirahat sejenak. Sementara hanya ada empat orang yang berjaga di malam hari, dialah, Rose, Robin, Clisson dan Guiracocha. Bahkan Papa Pirate sang kapten juga ikut tertidur pulas setelah meminta minuman Berly.


Begitu nampak orang-orang tertidur, hampir berserakan di dek kapal. Ya, tidur mereka sangat tidak beraturan, ada yang memilih tidur di dalam dengan kasur yang terbuat dari jaring dan tali tergantung. Ada pula yang memilih tidur di luar.


Di lain sisi, terlihat pria bertubuh kekar dengan pakaian berwarna hijau dan hitam, serta rambut hitamnya. Robin berdiri memandang ke arah lautan luas, secarik kertas tua ada di genggaman tangannya, sampai ia meremas kertas tersebut dengan satu tangan dan membuangnya ke lautan lepas.


“Tidak tidur lagi?” ucap Rose yang selalu saja berduaan dengan Robin saat malam hari. Robin menoleh ke belakang dan tersenyum tipis lalu kembali memandang lautan, sedangkan langkah Rose berjalan lebih dekat dan sejajar dengan kedua kaki Robin saat ini.


Rose meletakkan kedua tangannya di pinggiran kapal yang terbuat dari kayu.


“Kira-kira, berapa hari kita akan sampai?” pikir Rose yang bertanya-tanya.


“Entahlah, aku rasa akan ada gangguan dalam perjalanan nanti.” Filing Robin yang mungkin aja tepat.


“Apakah Ratu Revana akan mengirim monsternya?” ucap Rose yang mulai merasa panik. Kedua bahu Robin terangkat, pria itu juga tidak tahu, apakah misi mereka diketahui oleh Ratu Revana atau tidak.


Seketika, pria itu menatap wajah Rose yang kini kembali tenang memandang arah laut. Tidak tahu kenapa? Ia merasa pernah melihat Rose, wajah yang tidak asing baginya, dan itu membuat Robin terus ingin menjelajahi lebih dalam ke kehidupan Rose.

__ADS_1


Wanita pirang itu menoleh bingung, saat melihat Robin terus memandanginya tanpa berkedip. Sampai ia menyadarkannya kembali.


“Apa yang sedang kau pikir?” tanya Rose tersenyum lebar.


“Nothing!”


“Apa di duniamu, kau pernah melihatku?” tanya Robin seketika. Rose yang mendapat pertanyaan seperti itu, mulai teringat kembali akan hal tersebut. Jika di dunia Fantasy orang-orang yang ia kenal di Las Vegas juga ada disini, kenapa Robin tidak? Bahkan mungkin orang-orang yang pernah ditemui oleh Rose di kehidupan Fantasy ini, mereka yang pernah dilihat oleh Rose, namun wanita itu masih tidak mengerti dan tidak peduli akan wajah yang lainnya.


“Aku tidak tahu? Mungkin saja kita pernah bertemu, tapi aku tidak mengenalmu!” jawab Rose yang masih tersenyum. Itu mungkin saja.


Sementara di roda kemudi. Ada dua orang yang tengah berduaan dengan mesrah. Siapa lagi kalau bukan Clisson dan Guiracocha! Karena kapal berlaju dengan pelan, Guiracocha tidak begitu panik akan kemudinya yang terus berjalan lurus.


“Kenapa kau tidak membalas cintaku? Haruskah aku membuka penutup mataku ini, huh?” ucap Guiracocha yang kini berdiri lebih dekat dengan Clisson. Ia memojokkan Clisson hingga ke dinding kayu dengan tangan kiri yang diletakkan tepat di atas kepala Clisson hingga membuatnya lebih dekat ke arah wanita seksi itu.


Wajah Guiracocha lebih dekat hingga jarak wajah mereka begitu dekat dan hampir saja pria tampan dengan bulu-bulu kecil di dagunya itu mencium bibir Clisson. Namun, seketika wanita itu mendorong dengan keras hingga ia terlepas dari dekapan tadi. Apa mereka berdua tidak sadar bahwa ada Rose dan Robin yang berdiri di dek bawah, dan jika saja Rose dan Robin menoleh ke atas, mereka pasti bisa melihat keberadaan Clisson dan Guiracocha saat ini.


Saat hendak pergi, lagi-lagi Guiracocha menahan tangan Clisson. Dalam satu tarikan wanita itu sudah dekat kembali dengan Guiracocha. Kini mereka semakin dekat saja, tangan kiri Guiracocha melingkar di pinggang kecil Clisson, sehingga mereka semakin dekat.


Mendekatkan perlakuan seperti itu tidak membuat Clisson marah, malahan wanita itu hanya tersenyum tipis.


“How?” ucap Guiracocha yang kini hidung mereka hampir bisa bersentuhan. Tanpa jawaban Clisson hanya tersenyum miring, sampai terjadilah.... Cup. Guiracocha mencium bibir sensual Clisson, ciuman itu juga dibalas oleh Clisson. Mereka benar-benar hilang kendali, namanya juga seorang bajak laut, kehidupan yang bebas.

__ADS_1


Ciuman itu menjadi sangat panas dan lama. Sampai dua orang yang ada di dek bawah, tidak sengaja melihat ke atas dan melihat pemandangan panas itu. Kedua pipi Rose memerah sendiri saat melihatnya. Bisa-bisanya ia melihat pemandangan hal seperti itu.


Sementara Robin hanya diam terpaku, sekaligus canggung sendiri, semuanya menjadi pudar seketika.


Kini Rose dan Robin memilih berpaling dari pemandangan tadi, dan kembali melihat lautan. Hawa yang awalnya dingin dan sejuk menjadi panas dan sesak. Rose mencoba menutup kedua matanya berusaha tenang.


“Aku rasa kita pergi saja!” ujar Rose tersenyum lebar untuk menutupi rasa canggungnya sendiri. Tanpa mendengar balasan dari Robin, ia memilih berjalan lebih dulu, namun Robin meraih tangan kanan Rose, hingga membuat wanita itu terkejut sekaligus jantungnya berdegup kencang akan sentuhan tangan dari Robin.


Rose menoleh kebelakang, sementara Robin diam dengan keadaan tangan Rose yang masih berada di dalam genggamannya. Tanpa gerak sedikitpun, pria itu masih diam terpatung dengan kepala sedikit tertunduk.


Rose yang juga wanita polos tidak begitu banyak tanya dan mengikuti saja. Polos banget kan!!


Sampai pria itu sadar akan tangannya yang sedari tadi memegang erat tangan Rose sehingga mengehentikan kepergian wanita itu. Robin seketika melepas kembali tangan Rose, entah kenapa jantungnya ikut berdetak. Kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu? Memalukan, batin Robin!.


“Sorry.” Ucap Robin yang tidak enak sendiri akan perilakunya baru saja.


“Hem.” Dengan perlahan Rose berjalan pergi dari sana, sambil memegang terus ke pergelangan tangannya yang masih merasa hangat akibat sentuhan dari Robin tadi.


BERSAMBUNG...........


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAAAA YOU ARE THE BEST 👍❤️😁


__ADS_2