
Rose masih menatap bingung kearah Pangeran Justine, apa yang harus dikatakan mengenai dirinya. Tanpa menjawab wanita cantik itu menatap sekeliling, berhrap salah satu temannya ada disana, namun itu sia-sia, karena tiga orang yang tadinya berdiri di samping danau kini sudah menjauh dari danau.
“Emm.. Aku sebenarnya– Ceritanya panjang, aku tidak bisa mengatakannya padamu.” Jawab Rose sedikit terbata. Sementara Pangeran Justine berusaha mengerti akan maksud Rose.
“Tidak masalah! Aku tidak memaksa.” Ucapnya seraya tersenyum.
“O, apa aku boleh berteman denganmu? Entah kenapa kau selalu membuatku nyaman saat didekatmu!” kata Pangeran Justine yang berucap jujur pada Rose.
“Tentu, kau seorang Pangeran, kenapa harus meminta izin! Aku juga suka berteman dengan mu!” balas Rose tersenyum.
Seketika Refleks saat Pangeran Justine tiba-tiba saja meraih tangan Rose dan lagi-lagi menciumnya ala-ala Pangeran dan Putri (memang dia Pangeran!). Sangat baik dan sopan terhadap wanita, Rose sungguh suka akan perilaku Pangeran Justine padanya. Bahkan wajahnya tak bisa ia lupakan begitu saja.
“Aku harus pergi sekarang, maaf tidak bisa terlalu lama!” pamit Pangeran Justine.
Rose mengangguk mengerti, lalu dengan senang hati ia melambaikan tangannya ketika ikut berjalan hingga ke tepi jalan.
“Aku harap kita bisa bertemu kembali lagi!” ucap Pangeran Justine yang sangat berharap akan hal itu.
“Aku juga.” Balas Rose masih tersenyum.
Pasukan Pangeran Justine kini mulai pergi menjauh dan menjauh dari tempat Rose berdiri dengan tiga orang lainnya yang masih ikut melambai, kecuali Robin. Saat sudah menjauh, seketika Robin langsung berbicara dengan Rose.
“Lain kali jangan sampai keceplosan saat bicara dengan orang asing.” Robin mengingatkan akan kesalahan Rose yang hampir saja membuat misi mereka berantakan.
“Iya, maafkan aku!” balas Rose merasa bersalah.
“Jadi kau dekat dengan Pangeran Justine?” tanya Emily tersenyum ikut bahagia.
“Hanya sebatas teman! Dia juga dekat denganku di dalam duniaku! Dia sangat baik!” jawab Rose.
“Owwww!!” ucap bersamaan Emily dan John. Robin hanya diam menatap sendu kearah Rose.
“Hey, tapi jangan sampai pertemanan kalian diketahui oleh Ratu Revana atau Putri Brillyana. Jika tidak kau akan! KKHHEERRKKK!” ucap John seraya memperagaan seseorang dipenggal.
“Aku tahu!” balas Rose.
Kini hal berikutnya mereka masih bingung harus berbuat apa. Mengumpulkan makanan untuk perjalanan atau tidur sejenak untuk menambahkan energi tubuh?
***
__ADS_1
Kerajaan Peaceland.
Di ruang makan yang sungguh mewah namun terlihat mengerikan akan warna dan suasana. Ratu Revana dan Putri Brillyana tengah duduk, tak hanya itu, Ratu Revana selalu membawa tongkatnya kemanapun dia berada, dan kapanpun itu.
“Bagaimana Brillyana? Apakah suka dengan Pangeran Justine?” tanya ibunya akan perasaan putrinya.
“Biasa saja.” Jawab Putri Brillyana tanpa ekspresi.
“Aku selesai.” Seketika Putri Brillyana beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Ratu Revana. Dengan tatapan tajam wanita yang selalu memakai serba hitam itu selalu menatap tajam kesiapa pun.
“Jerryyyyy!” teriak Ratu Revana penuh amarah.
Tak lama datanglah seorang pria bertubuh kecil namun sedikit terisi, berjalan dengan ketakutan kearah sang ratu.
“Yes, my queen! Ada yang bisa ku bantu?” tanya pria yang dipanggil Jerry tersebut dengan penuh hormat.
“Cepat kau cari tahu, seseorang yang sudah berani menyuri koin perak ku di dalam Istana iniiiii!” pintanya dengan suara keras.
“Ba– baik my queen, perintahmu adalah perintah untukku!” ucap Jerry. Pria bernama Jerry itu berjalan mundur sambil masih memberi hormat kepada ratunya.
“Kau tidak tahu bahwa dirimu sudah masuk kedalam jebakan singa!” gumam Ratu Revana yang seolah tahu akan keberadaan putri dari adiknya. Yaitu, Ratu Deldelina.
“Aku adalah sang penguasa, aku yang paling kuat hanya aku ....!!” teriakan suara Ratu Revana membuat Jerry ketakutan dan cepat-cepat berjalan pergi menjauh dari tempat tersebut.
***
Bahkan sesampainya disana, Robin tidak pernah tahu bahwa ada tempat seperti Desa didalam bawah tanah. Saat John dengan ramahnya menyapa semua orang yang ada disana, seketika mereka semua menatap kearah Rose, sehingga membuat wanita itu kebingungan dan canggung.
“Hey, ada apa dengan kalian semua?” tanya John berusaha menjentikkan jari dihadapan pria tua berkumis panjang yang selalu ramah pada Rose.
“Ratu Deldelina!” ucapan yang keluar dari mulut pria kumis panjang lebih dulu. Tak hanya itu saja, semua orang yang ada disana mulai berjongkok menunduk, memberi hormat kepada Rose. Melihat pemandangan itu membuat Emily, John dan Robin sama bingugnya.
“Apa yang kalian lakukan? Aku bukan ratu kalian, aku Rose! Bangunlah.” Ucap Rose berusaha membantu pria berkumis panjang itu kembal berdiri.
Saat semuanya berdiri, mereka masih menatap kearah Rose dengan tatapan senang sekali. Mereka merasa bahwa ratunya sudah kembali hidup, kini mereka ada di hadapan sang ratu.
“Aku rasa sihir Ratu Revana sudah hilang! Mereka menganggap mu Ratu Deldelina karena wajah kalian sama.” Jelas Robin yang seketika dipahami oleh Rose, Emily dan John. Mereka baru ingat bahwa semalam keempat bibinya Rose atau Putri dari Peaceland sudah memberitahu. Mungkin karena itu, sihir Ratu Revana hilang terhadap ingatan para orang-orang dekat Ratu Deldelina.
“Dia bukan Ratu Deldelina. Dia adalah putrinya yang akan menyelamatkan Desa ini dari Ratu jahat Revana!” jelas Emily kepada semua orang disana.
__ADS_1
“Apa, benarkah?” tanya pria berkumis panjang seolah tak percaya.
“Iya! Aku Putri Rosellyna, putri dari Ratu Deldelina dan Raja Elmer Bardelina.” Jawab Rose tersenyum tipis.
“Maafkan kami Putri, kami tidak bisa mengenali anda.” Ucap pria berkumis itu dengan sangat menyesal.
“Tidak, kalian tak bersalah. Kalian hanya tertutup oleh sihir!” balas Rose tersenyum.
Betapa senangnya wajah orang-orang disana, saat tahu bahwa keturunan ratu mereka masih hidup dan akan kembali merebut kekuasaan Ratu Revana yang seharusnya milik Rosellyna.
“Apa yang bisa kami bantu Putri?” tanya salah satu orang disana.
“Tidak perlu memanggil ku Putri, panggil saja Rose! Aku lebih nyaman saat kalian memanggiku Rose!” ucapnya yang langsung dituruti oleh orang-orang disana.
“Kami akan pergi ke Istana para Ratu Element! Kami hanya ingin berpamitan saja!” ujar John.
“Untuk apa kalian kesana?” tanya seorang wanita.
“Ini adalah salah satu misi kami untuk mengalahkan Ratu Revana! Jadi aku mohon kepada kalian, jangan sampai hal ini diketahui oleh siapapun. Soal diriku atau misi ini! Kalian bisa membantuku?” ucap Rose meminta tolong.
“Apapun itu, kami akan selalu mendukung mu!” jawab mereka (orang-orang bawah tanah).
“Tapi berhati-hatilah, karena disetiap Istana para Ratu Element, ada makhluk yang selalu menjaga pintu menuju Istana mereka.” Peringtan dari pria berkumis itu.
“Baiklah, terima kasih atas pemberitahuannya!” ucap Rose tersenyum lalu mereka pamit untuk segera pergi, sebelum hari semakin gelap.
Sebelum pergi, orang-orang disana tidak lupa memberikan roti dan air untuk mereka bawa selama didalam perjalanan panjang. Sesekali mereka juga berdoa agar mereka kembali dengan selamat.
Rose sudah bersiap, ia membawa tas miliknya yang selalu dia bawa, dengan rambut terurai dan kepang sedikit di arah kanan. Sedangkan John bagian membawa makanan, Emily membawa tas coklat berisi penyimpanan minuman, sementara Robin bagian melawan jika ada serangan tiba-tiba yang akan datang.
BERSAMBUNG..........
________________________________
🌹🌹🌹 TEKA TEKI 🌹🌹🌹
________________________________
__ADS_1
KALIAN YANG MERASA CUKUP PINTAR DAN BISA MENJAWABNYA, CUKUP TULIS DI KOLOM KOMENTAR 🤔. MEMANG TIDAK ADA HADIAH, TAPI AUTHOR PENGEN BERMAIN TEBAK-TEBAKAN DENGAN KALIAN. BIAR GK BOSENN DENGAN CERITA NYA, HIHIHI!!!
JAWABANNYA???•••••