ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : Berdebat Dengan Seorang Perompak


__ADS_3

“Ayo, cepat kembalikan koin kami!” titah Emily berusaha merebut koinnnya kembali. Namun pencuri itu bersih kokoh dan enggan sama sekali untuk mengembalikan koin targetnya.


“Hei Tuan! Apa yang kau lakukan kepada teman kami?” suara seorang wanita membuat Rose, Emily, Jhon dan Robin menoleh ke arah suara tersebut. Sedangkan si pencuri malah tersenyum lega saat tahu teman-temannya datang untuk menolongnya.


Rose melihat lima orang dengan pakaian seperti seorang bajak laut atau biasa yang disebut perompak. Tiga perempuan dan dua laki-laki, dimana masing-masing memiliki pedang dan pisau yang melekat di bagian tubuh mereka.


“Oh, jadi dia teman kalian.” Balas Emily tanpa takut, meski tahu dandanan mengerikan terpancar pada kelima orang tadi. Bahkan penduduk disana juga sedikit ngeri karena mereka tahu orang-orang itu adalah perompak. Di saat ketiga temannya serius, Jhon langsung berdiri tegak saat melihat wanita cantik, tidak peduli dia perompak ataupun siluman. Dasar Jhonsep!


Para perompak itu melihat detail Rose, Emily, Jhon dan Robin yang masih menyandra temannya.


“Apa kalian gagal mendapatkan koin kalian?” tanya salah satu perompak wanita berambut putih, namun masih muda dan cantik, bahkan terlihat seksi dengan pakaian yang cukup terbuka bagi seorang bajak laut.


“Sudah kuduga! Hahaha!” lanjutnya mengejek sambil menoleh ke kanan dan kiri dimana teman-temannya berdiri dan kini tertawa tipis mengikuti ejekan tadi, tapi ada satu wanita yang sulit sekali tersenyum maupun terseringai. Melihat ejekan itu, Emily dan Robin seolah menahan amarahnya, namun tidak dengan Rose dan Jhon yang masih diam melihat lima perompak itu dengan teliti.


“Lepaskan dia.” Titah seorang pria dengan kain hijau melingkar di dahinya. Mendengar itu, Robin hanya terseringai.


“Tidak akan. Dia sudah memcuri koin kami!” balas Emily yang masih tidak mau mengalah.


“Memang itulah tugas kami sebagai seorang perompak!” ucap seorang wanita bertopi merah dengan bulu, beserta tato yang melekat di tangan kirinya. Emily tidak buta akan hal itu, ia bisa melihat penampilan mereka. Sombong dan berani.


“Help me!” ucap pria pencuri di sela-sela pitingan Robin yang masih saja menahannya.


“Kau memang payah! Selalu saja gagal saat mencuri.” Balas wanita berambut putih tadi.


“Sudahlah, suruh temanmu mengembalikan koin kami.” Ucap Emily.

__ADS_1


“No!” jawab wanita perompak itu menolak. Sehingga perdebatan pun dimulai, Emily tidak ada hentinya membalas ucapan-ucapan dan ejekan dari para perompak itu, sedangkan para perompak itu terus-menerus menolak permintaan Emily yang menyuruh mereka mengembalikan koinnya.


Melihat pertikaian tak ada hentinya, Rose menghela nafas panjang. Sampai Jhon turun bicara.


“Hello, Nona-nona! Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan!” ujar Jhon dengan senyuman ramah.


“Okay! Lepaskan teman kami, dan kami akan mengembalikan koin kalian.” Ucap wanita berambut putih.


“Tidak, kembalikan koin kami dulu, dan kami akan melepaskan teman kalian.” Tolak Emily, karena perompak tidak bis dipercaya, namanya juga seorang pencuri kakap. Tapi lagi-lagi cara itu tidak membuahkan hasil, mereka masih saling berdebat.


Tidak banyak tanya atau bicara, Rose merasa kesal akan semua itu, perdebatan tak ada hentinya. Wanita itu berjalan menghampiri Robin, memegang tangan kekar Robin yang masih memiting tangan pencuri itu. Mendapat sentuhan dari Rose, Robin menoleh ke atas menatap dengan heran.


“Lepaskan saja. Ada baiknya jika kita yang mengalah!” ucap Rose kepada Robin seraya tersenyum tipis. Awalnya Robin tidak suka jika mengalah, tapi ucapan Rose juga ada benarnya. Jika di antara mereka tidak ada yang mengalah, maka misi ini tidak akan pernah selesai.


Tapi kelima perompak tadi, terheran saat melihat Rose memilih mengalah, tidak seperti temannya yang lain.


Rose dan Robin saling menatap tajam ke arah lima orang perompak yang juga menatap balik tanpa gerakan sedikit pun. Hingga pencuri tadi hendak melarikan diri dengan koinnya, seketika salah satu teman prianya bertubuh kekar dengan rambut berwarna coklat dan satu pedang di tangan kanannya, refleks menghentikan teman pencurinya tadi dengan memegang pundaknya. Seolah itu semua sudah di rundingan bersama.


Pencuri itu terkejut, tidak biasanya teman-temannya menghentikan dirinya saat seperti itu. Bahkan mereka akan meraih paksa koin-koin orang yang mereka ambil dan curi.


“Kembalikan koinnya.” Pinta temannya yang saat ini memegang pundaknya. Tanpa membalas dan hanya memasang wajah malasnya, si pencuri melempar kantong berisi koin tadi tepat di antara kaki Emily berdiri.


Rose, Emily, Jhon dan Robin benar-benar tidak tahu pemikiran para bajak laut. Apakah mereka memang tidak ingkar janji atau memang orang yang baik.


“Kami tidak mau mencuri dari orang yang mengalah, bukan pasrah.” Ucap wanita berambut putih itu datar.

__ADS_1


“Ayo!” lanjutnya mengajak teman-temannya untuk segera pergi menuju kapal mereka kembali. Dengan gaya layaknya seorang wanita seksi, wanita berambut putih tadi berbalik badan dan berjalan pergi diikuti oleh yang lainnya.


Emily meraih koinnya kembali dan meletakkan di tempat yang lebih aman, di dalam tas. Rose masih diam memikirkan sesuatu.


“Untung saja mereka kembalikan.” Gumam Emily lega.


“Mereka perompak yang cantik!” gumam Jhon senyum-senyum sendiri. Pria jelalatan.


Tapi, tanpa berunding lebih dulu. Rose langsung berlari kecil menghampiri para perompak tadi, sehingga membuat tiga temannya juga langsung mengikuti langkah Rose.


Kedua mata Rose mencari keberadaan orang-orang tadi. Sampai ia berhasil menemukannya tepat di depannya yang sebentar lagi mereka akan naik ke kapal.


“Tolong berhenti.” Ucap Rose yang kini sudah berhadapan lebih dekat. Keenam orang yang hendak menaiki papan kayu menuju kapal besarnya, seketika berhenti saat mendengar suara dari arah belakang.


Sementara Emil, Jhon dan Robin bingung, apa yang ingin dilakukan Rose kepada para perompak menyebalkan tadi.


“Apa ada barang yang hilang lagi?” tanya wanita berambut putih yang seolah ia adalah pemimpinnya.


“Tidak! Tapi, aku ingin bertanya. Bukankah kalian seorang perompak, dan perompak mempunyai kapal bukan?” ucap Rose, pertanyaan konyol. Entah apa yang dipikirkan wanita itu hingga mengatakan hal seperti itu kepada mereka. Perkataan Rose membuat orang-orang tadi tersenyum tipis.


“Oh, hello! Menurutmu bagaimana? Apa ada perompak yang tidak punya kapal?” ujar wanita berambut putih tersenyum lebar.


Dari arah belakang Rose, Emily, Jhon dan Robin baru saja tiba disana.


“Bolehkah kami menumpang di kapal kalian? Kami akan membayar sepuluh keping koin!” Rose menawarkan kepada para perompak tadi setelah apa yang baru saja mereka debatkan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...........


__ADS_2