
Di desa nelayan, masih begitu ramai orang juga penduduk kecil disana. Bahkan beberapa bajak laut, sesekali mendaratkan kapalnya disana, termasuk kumpulan perompak yang saat ini tengah bertemu dengan Rose beserta kawan-kawannya.
Disebuah tepi lautan, Rose masih berdiri berhadapan dengan para perompak tanpa rasa takut sedikitpun, seolah ketakutannya ketika datang ke dunia baru ini sudah hilang begitu saja.
Mendengar ucapan Rose membuat ketiga temannya yang kini berdiri di belakangnya terkejut, terutama Emily. Tidak mungkin mereka meminta bantuan kepada seorang bajak laut. Hal yang sangat konyol!.
“Rose, kau gila?” bisik Emily yang sedikit dekat di samping Rose saat ini. Tanpa menjawab, Rose hanya fokus ke para perompak yang saat ini terseringai seperti ejekan, wanita berambut putih berjalan dua langkah ke arah Rose.
“Kau serius!?” ucapnya seraya mengangkat satu alisnya.
“Iya! Beri kami tumpangan, dan kami akan membayar mu sepuluh keping koin.” Balas Rose yang serius akan ucapannya. Mendengar penawaran rendah, seketika para perompak yang ada di belakang wanita berambut putih tadi tertawa kecil juga menggeleng tidak percaya.
“Oww, hei nona! Kau menawari seorang perompak, dan kau ingin kami memberimu tumpangan dengan harga sepuluh keping koin?” gerutunya menatap sombong ke arah Rose. Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
“Yang benar saja!” lanjut wanita bertopi merah seraya memutar dua bola matanya. Rose hanya diam dengan sabar, namun ketiga orang yang ada di belakang Rose mendengar akan celotehan para perompak itu membuatnya geram sendiri sedari tadi.
“Dengar nona! Di kapal kami, satu orang berharga sepuluh keping koin, sedangkan kami ada sembilan orang. Dan kau tahu jumlah keseluruhannya 'kan.” Jelas wanita Perompak tadi.
“Sembilan puluh keping, dengan perjalanannya menjadi seratus Keling koin! Kau mengerti sekarang?” lanjutnya memperjelas. Rose hanya diam, sekarang dia akan melakukan apa lagi? Tidak ada kapal yang bisa mereka tumpangi selain milik para perompak yang suka berpetualang.
“Ada-ada saja, CK!” lanjutnya hendak berbalik menuju kapal, namun dengan berani Jhon langsung angkat bicara untuk membela temannya.
“Hei! Dari tadi aku berusaha menahan emosiku karena kau seorang wanita. Kalian tidak tahu sedang bicara dengan siapa, hah? Dia adalah Putri Rosellyna, seorang putri keturunan dari Ratu Deldelina, penguasa Kerajaan Peacland! Aku yakin kalian tahu siapa Ratu Deldelina itu!” jelas Jhon yang kini berdiri di samping Rose.
__ADS_1
Mendengar ucapan Jhon, para perompak itu saling memandang satu sama lain. Sedangkan dari atas kapal, dua orang pria muda dan tua tengah mengamati teman-temannya yang saat ini debat dengan orang asing.
“Dan apa kalian tahu? Dia, Putri Rosellyna ini, datang kemari hanya untuk mengalahkan Ratu Revana. Dan aku yakin kalian juga tahu soal penyihir Ratu Revana.” Lanjut Jhon. Rose yang merasa di besar-besarkan menjadi malu sendiri dan memegang lengan Jhon untuk berhenti bicara soal dirinya.
“Oh. Kalau begitu, perkenalkan, aku adalah Ratu Bajak Laut penguasa tujuh lautan! Hahaha...!!” balas wanita berambut putih itu dengan peragakan seperti mengejek hingga membuat teman-temannya tertawa lepas, kecuali satu wanita yang sedari tadi hanya diam dengan tatapan tajam.
Melihat ejekan yang seolah para perompak itu tidak percaya akan ucapan Jhon, membuat Emily dan Jhon geram sendiri.
“Kau! Kami tahu siapa Revana itu, bahkan yang paling kuat dari kami tidak bisa mengalahkannya. Jadi, pergilah, sebelum kami akan Bluss, memenggal kepala kalian!” lanjutnya seraya memperagakan tebasan tangan di lehernya, lalu tersenyum lebar meninggalkan Rose, Emily, Jhon dan Robin.
“Untung mereka cantik!” gumam Jhon kepada Emily dan Rose.
Namun, para perompak itu tidak sampai menuju ke kapal, mereka kembali berhenti dan memberi jalan kepada salah satu rekannya. Atau sebut saja dia adalah tetuah mereka.
“Papa Pirate sedang apa?” bisik pria dengan kain hijau di di dahinya kepada temannya yang juga tidak tahu.
“I don't know.” Balas wanita bertopi merah. Mereka tidak bisa melawan tetuah mereka yang lebih kuat darinya serta penghormatan lebih penting.
Pria tua yang disebut Papa Pirate itu, kini berdiri berhadapan dengan Rose dan ketiga orang lainnya. Melihat wajah mengerikan dari Papa Pirate itu membuat bulu kuduk Jhon lagi-lagi merinding. Setelah bebas dari penyihir Magela, kini ada lagi seorang pria tua mengerikan.
“Biarkan mereka ikut, kita akan mengantarnya menyebrangi lautan.” Perintah dari Papa Pirate membuat para perompak yang lainnya sedikit terkejut dan heran sendiri. Tidak pernah ada satu orang asing menaiki kapal mereka, bahkan Papa Pirate sendiri pun tidak akan pernah mengizinkannya.
“Tapi kenapa? Bukankah mereka orang asing?” tolak pria dengan kain hijau itu. Sedangkan yang lainnya hanya diam, seolah tahu bahwa pilihan Papa Pirate tidak pernah salah. Tanpa bertanya satu hal kepada Rose, si Papa Pirate itu kembali berjalan menuju kapalnya.
__ADS_1
“Dia seorang Putri.” Ujar Papa Pirate saat berjalan melewati anak perompaknya.
Mendengar ucapan Papa Pirate, membuat enam orang disana terkejut. Dan bahkan mereka tidak tahu harus berbuat apa setelah kejadian semua itu.
“Tunggu apa lagi sayang! Suruh mereka naik, kita tidak punya waktu berlama-lama disini!” ucap seorang pria dewasa dengan satu mata tertutup layaknya bajak laut sungguhan namun berwajah tampan. Pria itu menatap ke arah wanita berambut putih yang terlihat malas akan panggilan ‘sayang’ .
“Jangan panggil aku sayang.” Balasnya marah, namun hal itu dikubis oleh pria tampan itu yang memilih berjalan kembali ke kapal.
“Kalian naiklah.” Pinta wanita berambut putih yang kini berbicara rendah. Begitu juga dengan yang lainnya, memilih diam dan berjalan santai menuju kapal mereka.
Rose menatap tiga temannya yang berada di sisi kanan dan kirinya dengan senyuman manis. “Ayo!” ajak Rose yang berjalan lebih dulu.
“Ini akan sulit.” Gerutu Emily yang tidak ada pilihan lain lagi.
Mereka memutuskan untuk naik ke dalam kapal tersebut. Meski itu mungkin sungguh sulit, tapi Rose tahu, tidak semua para perompak itu jahat. Karena mereka juga mempunyai hati. Rose benar-benar terpukau akan kebesaran dari kapal tersebut, sebuah kapal yang terbuat dari serba kayu dan sedikit bahan terbuat dari tembakau.
“Woww!” hanya itu yang keluar dari mulut Rose, Emily dan Jhon saat ini. Namun entah kenapa, si Robin sama sekali tidak terpukau akan hal-hal lainnya dan baru di dunia Fantasy.
BERSAMBUNG.........
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAAAA YOU ARE THE BEST 👍❤️😁
__ADS_1