
Perjalanan Putri Brillyana masih sangat panjang, mungkin butuh berhari-hari untuk sampai di kerajaan pangeran Justine. Entah kenapa di sepanjang perjalanan, Putri Brillyana hanya diam tidak banyak memerintah ataupun mengoceh tak jelas layaknya kereta api.
Putri yang malang, ia tidak tahu bahwa pengelihatannya sudah di sihir oleh ibunya sendiri. Apa yang dia lihat tidak seperti yang di lihat orang lain, namun ketika dia keluar dari kerajaan Peacland, sihir Ratu Revana akan hilang sekejap hingga wanita dengan gaun indah itu kembali lagi ke kawasannya, yaitu di kerajaan Peacland.
***
11 Days Later
11 hari sudah berlalu begitu saja. Di sebuah kapal besar yang terbuat dari kayu kokoh itu, masih berlayar dengan damai. Terlihat langit berwarna jingga dengan awan yang juga mulai gelap, serta kicauan burung-burung kecil seolah memberi tanda bahwa hari akan menjelang malam.
Di atas kapal, Rose dengan rambut terkuncir kuda tak berponi itu kini tengah berdiri di beberapa tong besar berisikan air. Wanita itu mulai menarik nafas dalam-dalam, memejamkan kedua mata, dengan perlahan kedua tangannya serta jari-jari lentiknya mulai bergerak slow di atas tong besar berisi air tadi. Tak hanya kedua tangan saja yang bergerak, kedua kaki Rose juga sudah membuka lebar, dimana kaki kirinya lebih maju ke depan sementara yang kanan masih tetap di posisi dengan sedikit tertekuk.
Iya! Kini wanita itu sedang berlatih menguasai elemen air yang pernah diajarkan oleh Ratu Atut padanya. Meski hanya sekali belajar, namun di dunia Fantasy ini, Rose bisa mempelajari banyak hal dengan cepat.
Dari kejauhan, Jhon, Emily, Bonny, Read, Jack, dan pencuri gagal itu, kini tengah mengamati Rose yang terlihat fokus sekali.
“Sedang apa dia?” tanya Read kepada Emily.
“Rose sedang berlatih elemen air!” jawab Emily dengan kedua tangan yang terlipat di perutnya.
“Apa itu mungkin? Aku pernah dengar dari Papa Pirate, bahwa kekuatan elemen hanya bisa di kuasai oleh empat Ratu Elemen saja.” Balas Bonny.
“Memang! Namun ada satu ratu yang bisa mempelajari ke empat elemen itu.” Titah Jhon tersenyum tipis. Perkataan Jhon membuat ke empat perompak yang berdiri bersamanya itu bertanya-tanya.
“Who?” tanya bersamaan yang keluar dari mulut empat perompak tadi.
“Ratu Deldelina!” jawab bersamaan Emily dan Jhon.
Dari situ mereka tidak perlu bertanya lagi, karena mereka tahu Rose adalah seorang Putri kerajaan Peacland dari keturunan Ratu Deldelina dan sudah tentu ia akan mewarisi kecepatan dari seorang Ratu yang bijak itu.
Dengan tenaga dalam dan kefokusan yang luar biasa fokus, Rose mencoba melayangkan kedua tangannya lebih tinggi berharap bahwa air yang ada di tong itu juga ikut terangkat.
__ADS_1
Bruussss..... Kedua mata Rose terbuka, nampak wajah sedih dan kecewanya saat tahu bahwa dirinya masih belum bisa menguasai elemen air, padahal saat berlatih bersama Ratu Air, dia bisa membuat bola air dengan sempurna meski hanya beberapa detik saja bertahan.
Nafas Rose tersengal sedikit cepat, dari arah dek atas Robin melihat pergerakan Rose di bawah sana, tanpa senyum ataupun raut wajah, pria itu masih terdiam layaknya patung.
“Sampai kapan kau akan memperhatikannya?” ucap seseorang dari arah belakang yang kini berdiri di samping Robin sedikit kebelakang. Seketika hal itu membuat Robin tersenyum tipis saat melihat Papa Pirate yang dengan ramah tersenyum, tidak seperti bajak laut pada umumnya.
“Aku tidak tahu kenapa? Tapi, aku suka melihatnya.” Ujar Robin yang terus terang kepada Papa Pirate.
“Hohoho!!! Anak muda. Tapi dia memang cantik seperti ibunya!!” balas Papa Pirate tertawa kecil seperti Santaclause. Pria tua itu memegang pundak Robin, memang tinggi antara keduanya sangatlah jauh.
“Sepertinya aku pernah melihatmu! Wajahmu mengingatkanku kepada musuhku.” Ucap Papa Pirate nampak serius. Mendengar ucapan itu sontak membuat Robin sedikit tercengang.
“Hahaha, tapi itu sudah cukup lama! Saat usiaku masih muda!” lanjut Papa Pirate kembali tertawa lepas lalu pergi meninggalkan Robin seraya menepuk-nepuk bahu bidang pria yang masih berdiam diri.
Perkataan Papa Pirate tadi benar-benar membuat Robin terkejut.
Hingga malam hari mulai tiba, semua orang yang ada di kapal kecuali Papa Pirate yang masih berada di dek kemudi sambil mengamati pergerakan yang sebentar lagi mungkin akan muncul.
“Ayo cepat makan!” pinta Clisson kepada yang lainnya. Jhon sedikit muak dengan hidangan yang ada di depannya saat ini. Sudah berhari-hari mereka memakan makanan laut, namun mau bagaimana lagi? Pria itu masih menyantapnya dengan lahap meski terpaksa, jika tidak dia akan kelaparan.
“Kira-kira. berapa lama lagi kita akan sampai?” tanya Emily kepada Clisson yang saat ini juga menikmati hidangan malam mereka.
“Tidak lama, setelah melewati rumah Siren, kita akan sampai!” jawab Clisson yang di balas anggukan.
Bruutttt. Suara yang tak asing tiba-tiba timbul begitu saja di tengah perbincangan dan makan malam mereka semua. Semua mata kini tertuju ke arah Jhon yang masih memegang piring kayu dengan senyuman lebar menatap wajah-wajah yang kini berdiam melihatnya.
“Kau sangat tidak sopan.” Tegur Emily yang memberi tatapan tajam kepada pria itu.
“Sorry guys, aku harus membuang sesuatu dulu! Permisi.” Dengan tergesa-gesa Jhon berlari ke arah dek bawah kapal untuk membuang sesuatu kotoran yang ada di perutnya selama berhari-hari. Ya! Pria itu habis saja membuang gas di saat semuanya tengah makan.
Sebagian dari mereka menggeleng pelan dan melanjutkan makan malam mereka, sedangkan Rose hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
“Darimana kalian mendapatkan orang sepertinya?” tanya Read kepada Emily, Rose dan Robin.
Tidak ada jawaban, melainkan hanya senyuman lebar yang terukir di bibir Rose dan Emily saja. Hingga mereka semua melanjutkan kegiatannya dan melupakan soal Jhon.
“Emm.. Apakah Siren itu wanita setengah ikan?” pertanyaan yang keluar dari mulut Rose membuat Clisson dan Guiracocha menatapnya.
“Iya! Darimana kau tahu? Kau pernah bertemu dengannya?” tanya Clisson.
“No! Aku hanya membaca di internet!” balas Rose tersenyum.
“Ya! Kami bahkan tidak tahu seperti apa perlawanan dari monster itu. Benarkan!” ucap Guiracocha seraya tertawa kecil mengikut pelan lengan mungil Clisson. Memang benar, mereka tidak pernah berurusan dengan monster bernama Siren, bahkan tidak tahu seperti apa Siren saat menyerang orang nanti.
Tiba-tiba... “Semuanya bersiap!!!” teriak Papa Pirate begitu keras hingga para perompak yang awalnya tenang melahap makan mereka, kini langsung meletakkan piring dan berdiri dengan persiapan senjata mereka masing-masing.
BERSAMBUNG.............
______________________________
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
JANGAN LUPA
LIKE
KOMEN
VOTE
FAVORIT
BANTU PENULIS UNTUK TETAP SEMANGAT UPDATE!!!! THANKS AND SEE YOU 🤗🤗
__ADS_1