
Di dalam hutan yang begitu lebat. Keempat orang dengan menunggangi seekor kuda, masih saja menelusuri jalan dengan cepat menuju ke desa nelayan. Ditambah lagi hari mulai semakin gelap, sudah berjam-jam mereka menunggangi kuda tanpa henti.
🌹🌹🌹
Evening
“Kita berhenti sejenak di sana.” Ucap Robin kepada ketiga temannya dengan suara sedikit tinggi karena posisinya yang masih duduk diatas kuda yang bergerak.
“Okay.” Balas Jhon.
Mereka memutuskan untuk istirahat sejenak, merentangkan tubuh yang sedari tadi duduk.
Disisi lain, tepatnya di Istana Fredenslige. Ratu Revana yang masih ditemani oleh kedua orang yang selalu membantunya, mereka adalah, si Lotus dan Jerry. Tapi kali ini ada satu orang lagi yang menghadap ke Ratu Revana, dia adalah salah satu wanita yang sudah memberitahu soal Rose tadi.
Wanita itu hanya tertunduk takut, tanpa menatap mata tajam Ratu Revana. Kali ini tidak ada rantai yang mengikat wanita tersebut.
“Katakan dengan jelas, tentang wanita yang kau maksud tadi.” Pinta Ratu Revana yang kini fokus memandang wanita muda tadi.
“I— Iya. Wanita itu datang dari dunia lain, da—Dan dia juga ditemani oleh tiga orang. Dua pria dan satu wanita.” Jelas wanita itu lagi-lagi mengatakannya dengan jujur.
“Who are they?” tanya Ratu Revana penasaran akan tiga orang yang menemani musuhnya. Dengan menatap mengerikan, Ratu Revana memperlihatkan giginya dan mendekat ke wajah wanita muda tadi.
“Jhon dan Emily adalah salah satu bagian dari kami, tapi pria yang satunya, aku tidak tahu. Tapi aku dengar, namanya Robin.” Lanjutnya lagi. Seketika Ratu Revana terdiam saat mengetahui nama, Robin. Ada apakah dengan pria bernama Robin?
Dengan satu kibasan jubahnya, Ratu Revana berbalik berjalan dua langkah.
“Mereka menuju kemana?” tanya Ratu Revana detail.
“Ak— Aku tidak tahu.” Jawab wanita itu dengan berbohong. Ia juga takut jika Ratu Revana membunuh mereka yang ingin menolong semua orang dari jeratan Ratu Revana.
Seketika Ratu Revana berbalik dengan cepat, lalu mencengkram leher wanita muda itu dengan kasar dan erat. Bahkan Revana tidak peduli akan kuku tajam dan panjangnya sampai menusuk kulit leher wanita tadi.
__ADS_1
“Tell me.” Ucap Ratu Revana. Sementara Jerry yang melihat hal itu, ia hanya memegang lehernya sendiri dengan perasaan ngeri dan takut.
“A— Aku.. Su— Dah memb— Beri tahu —Mu. Akh..” Pekik kesakitan dari wanita itu.
“You lie. Katakan, dimana mereka?” paksa Ratu Revana. Tidak ada pilihan lain, wanita itu terlalu takut menghadap ke Ratu Revana, ia juga sayang dengan nyawanya yang ingin masih melanjutkan hidup.
“Mereka menuju ke Istana Ratu Air.” Jawab wanita tadi. Seketika Ratu Revana melepaskan cengkraman tadi, hingga membuat wanita tadi terjatuh sambil memegang lehernya yang memerah dan suara batuk yang terus muncul dari mulut wanita itu.
Ratu Revana hanya menggerakkan tangan kirinya, dan itu sudah di fahami oleh para prajurit yang berjaga disana. Mereka segera membawa wanita tadi masuk kedalam penjara bersama yang lainnya. Sedangkan sepeti biasa, Lotus hanya tersenyum puas saat melihat kekerasan tadi.
“Rupanya dia sudah tahu.” Gumam Ratu Revana terseringai. Entah siapakah yang dimaksud oleh Ratu kejam itu, mungkinkah seseorang yang ada di salah satu Rose? I don't know?
***
Suara percikan api unggun terdengar jelas di dalam keheningan di malam hari. Rose, Emily, Jhon dan Robin, mereka kini duduk di sebuah batu besar yang bisa membuat seseorang tidak terlihat saat duduk bawah batu tersebut.
“Berikan minumnya, aku juga haus.” Ucap Jhon kepada Robin yang baru saja minum air di botol berwana coklat layaknya yang ada di dalam dunia Fantasy. Robin memberikan botol tersebut kepada Jhon, dengan tergesa-gesa pria itu langsung meminumnya tanpa henti.
“Apa kita tidur dulu?” tanya Rose kepada tiga temannya itu. Robin melihat kearah lurus, seekor burung hantu yang terbang di gelapnya hutan malam hari.
“Kita harus segera pergi. Jika kita pergi sekarang, kita akan sampai di desan nelayan pada siang hari.” Ujar Robin.
“Benarkah? Kalau begitu kita pergi sekarang saja. Firasatku buruk tentang penyihir Revana.” Balas Jhon yang mulai merasakan sesuatu yang mengerikan. Tidak ada pilihan lain, mereka membereskan semuanya dan segera kembali menunggangi kuda lagi dan bergegas pergi dari sana.
Lagi dan lagi, waktu mereka terbuang dengan menelusuri jalanan di hutan. Bahkan di gelapnya malam, tidak membuat keempat orang itu halangan. Dengan dipandu oleh Robin yang bergerak lebih dulu di depan, lalu Rose dan Emily, sementara Jhon di belakang.
Sixteen Hours Later.
Segerombolan burung berkicau memenuhi seisi hutan. Cahaya matahari yang bersinar semar-semar karena terhalang oleh akar dedaunan pohon-pohon disana. Hembusan angin yang begitu deras, menerpa sekujur tubuh Rose hingga rambutnya terhempas kebelakang layaknya bendera berkibar.
“Berhenti. Kita sudah sampai.” Ujar Robin yang kini berdiri di samping kudanya.
__ADS_1
Jhon turun dari kuda, disusul oleh Emily dan Rose. Tapi Rose, Emily dan Jhon tidak melihat adanya desa disana, Melainkan hanya pepohonan saja.
“Dimana?” tanya Rose.
“Tinggal beberapa langkah lagi. Ayo!” jawab Robin yang berjalan lebih dulu sambil memegang tali kuda, supaya tidak kabur. Tak banyak tanya, yang lain mengikuti langkah Robin. Sampai beberapa langkah mereka mulai dekat, Robin membuka semak-semak yang sangat lebat menutupi desa tersebut.
Benar juga! Saat semak-semak itu dibuka, sebuah desa terpampang jelas. Suasana ramai akan orang berdagang juga menghiasi desa tersebut. Itulah Fisherman Village.
“Wah, memang ada desa nelayan disini.” Gumam Emily yang baru saja tahu akan desa tersebut. Mungkin tak hanya Emily saja, malainkan Rose dan Jhon tidak tahu, bahkan Robin juga pertama kali datang.
Keberadaan Rose kawan-kawan, mendapatkan perhatian khusus dari penduduk disana. Dengan canggung mereka harus menahan rasa tidak nyamannya ketika tatakan orang-orang disana yang terus menatap mereka.
“Kenapa mereka menatap kita?” bisik Roose diantara ketiga temannya.
“Mungkin mereka melihat wajahku yang tampan!” jawab Jhon yang malah tersenyum balik menyapa orang-orang disana sambil sesekali melambaikan tangan. Sungguh pria yang ramah!. Tapi hal itu tidak membuat pria bernama Robin terpengaruh.
“Disini banyak sekali ikan goreng, panggang dan rebus! Semuanya serba ikan. Aku mulai mual jika melihat ikan laut.” Ucap Jhon yang melihat sekelilingnya pedagang makanan menjual ikan laut.
Sedangkan Emily hanya menggeleng kepala tidak peduli ucapan Jhon.
“Kita bertemu disini. Aku akan mencari kapal disana.” Ucap Robin.
“Aku ikut.” Entah kenapa Rose ingin ikut bersama Robin. Ucapan itu keeluar dengan sendirinya dari bibir wanita itu.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
HAI KAKAK² YANG MAMPIR DI CERITAKU, TERIMA KASIH BANYAK KARENA SUDAH MAMPIR. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN SETELAH MEMBACA YAAA,
LIKE, COMENT, FAVORIT DAN DUKUNG TERUSS
PENULIS SANGAT BERHARAP ATAS DUKUNGAN DARI KALIAN SEMUA🙏❤️
__ADS_1
THANK YOU AND SEE YOU...🤗🤗