
“Aku rasa ini benar-benar lokasinya!” ucap Rose melihat peta yang masih ditangan Robin. Tapi mereka tidak lihat adanya istana atau desa, atau pun penjaga yang dimaksud oleh orang-orang.
“Dimana penjaga itu? Disini sangat sepi.” Ucap Emily kebingungan sambil melihat kesekitarnya. Rose berjalan mendekat di samping John, sementara Emily ingin memastikan peta sekali lagi, peta yang ada di genggaman Robin itu.
Tiba-tiba, tanah mulai bergetar, guncangan yang sangat dahsyat, hingga membuat mereka saling berpegangan satu sama lain. Namun, tak begitu lama, Robin dan Emily terjatuh di lubang besar yang tiba-tiba saja tandus dan muncul.
John terkejut sambil mengelus-elus dadanya dengan nafas tersengal. “Syukurlah bukan aku yang jatuh.” Ucapnya.
“Hey... Apa yang terjadi? Cepat tolong kami!” teriak Emily yang kini ada di bawah tanah bersama Robin. Rose dan John mengintip dari atas dan kembali berteriak untuk menyuruh Emily dan Robin tidak panik.
“Sekarang apa?” tanya John bingung melihat Rose.
BLLUUSSSS. Sebuah asap putih yang memunculkan seseorang bertubuh kecil namun terlihat sangat seram dengan rambut dan janggut panjangnya, serta senjata mengerikan yang dia bawa.
Melihat sosok itu, membuat Rose dan John mundur selangkah untuk lebih jauh dari sosok tersebut. Dari bawah, Robin dan Emily juga bisa melihat sosok itu yang kini berdiri di dekat lubang.
“Hahahahahaha!!!” suara tawa yang begitu keras membuka keheningan mereka. Suara besar dan berat menunjukkan akan khasnya.
“Who are you?” tanya Rose berani.
Sekejap sosok itu menatap Rose dan John dengan ketajaman matanya.
“Aku Hobbit! Penjaga Istana Hemland.” Jawab sosok bernama Hobbit itu. Rose dan John saling tatap, lalu kembali menatap Hobbit dengan sedikit rasa takut pastinya. Bahkan mungkin senjata yang mereka bawa tidak ada tandingannya dengan milik Hobbit.
“Kami ingin bertemu Ratu Air!” ucap Rose membuka omongan.
“Kalian tidak akan bisa menemui ratuku, sebelum aku mendapatkan sesuatu dari kalian.” Balasnya yang meminta timbal balik.
“Kami punya beberapa makanan dan koin, apa kau mau?” tawar John.
“Heemmm. Aku tidak memakan itu. Bagaimana kalau aku memakan teman kalian yang ada disana?” ucap Hobbit menunjuk dengan senjata yang ia bawa ke arah lubang yang masih ada Emily dan Robin. Sontak mereka kaget dan mulai sedikit panik.
__ADS_1
“Tidak, jangan! Em, apa yang harus kami lakukan untuk bisa menemui ratumu?” tanya Rose tersenyum ke arah Hobbit.
“Ada! Kalian harus bisa menjawab pertanyaan ku.“ Jawab Hobbit tanpa senyum.
“Oh, itu sangatlah muda!” balas John memandang sepele.
“Jika kalian bisa menjawabnya, maka Istana Hemland akan terbuka untukmu! Jika tidak, maka temanmu yang ada di bawa sana, akan mati.” Jelasnya serius.
Memang Robin adalah seorang yang handal akan apapun itu, tapi lubang itu cukup tinggi untuk ia gapai. Jadi Robin dan Emily hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Rose dan John saat ini.
“Baiklah, kami terima!” ucap Rose tegas dan yakin bisa. Sedangkan John juga ikut membantu Rose untuk menjawab pertanyaan nanti.
“Aku akan memberi kalian tiga pertanyaan. Dan kalian hanya boleh memintaku untuk mengulangnya satu kali.” Kata Hobbit seraya menunjukkan tiga jari miliknya. Rose dan John sudah siap dan tidak akan melewatkan pertanyaa tersebut. Jika tidak maka, kesempatan mereka akan hilang, begitu juga nyawa mereka.
Di bawah tanah, Emily dan Robin yakin akan keputusan dan jawaban Rose, yang mungkin bisa membawanya keluar dari lubang ini. Meski di hati kecilnya, mereka sedikit gugup dan takut.
“Pertanyaan pertama. Aku terjebak di dalam goa, aku kebingungan karena goa itu gelap. Di tanganku ada lilin dan obor. Apa yang harus kunyalakan lebih dulu? Lilin... Atau obor?” tanya Hobbit yang mulai memberi pertanyaan kepada Rose dan John.
“Kalian memiliki waktu 50 detik.” Sambungnya.
“Aku tahu! Obor. Karena kita tidak punya lilin untuk dibawa! Benar!” jawab John tersenyum berharap bahwa jawabannya benar. Sedangkan Rose menoleh ke arah John yang begitu yakin.
“Salah.” Jawab Hobbit singkat dan jelas.
Seketika.... JJJEEERRRRRTTTT. Suara tanah yang begitu keras membuat Rose dan John terkejut, hingga melihat kebawah lubang. Lubang itu mengeluarkan duri yang begitu besar seukuran dua lengan tangan orang dewasa yang ada di sekeliling dinding tanah. Kini Emily dan Robin semakin berada di tengah-tengah permukaan supaya mereka tidak terkena oleh duri tersebut.
“Ap– Apa yang terjadi?” ucap Emily kebingungan dan panik, saat melihat duri dengan ukuran besar yang ingin sekali menancap di kulitnya.
Perkataan Hobbit benar, jika Rose dan John salah menjawab, maka taruhannya adalah nyawa temannya yang ada di dalam lubang tanah.
“Johnnn jawablah yang benar, kami bisa terbunuh disini!” teriak Emily, yang membuat John jadi bingung dan berpikir kembali.
“Maafkan aku!“ balas John.
__ADS_1
“Kalian masih memiliki sisa waktu lagi. Jawablah!” ucap Hobbit seraya tersenyum.
Rose dan John kembali berpikir, sementara Hobbit sibuk menghitung waktu mereka. Entah kenapa, otak Rose sangat pendek sekali, sehingga dia sama sekali tidak bisa memikirkan apa pun. John frustasi menjambak rambutnya sendiri.
“Bagaimana kita tahu, harus dimana kita menyalakan apinya dulu?” tanya John yang tidak tahu sama sekali. Mendengar ucapan John, otak Rose langsung berjalan cepat, saat mendengar kata (nyalakan api). Wanita itu kembali berpikir sejenak, sampai dia mulai menjawab pertanyaan Hobbit.
“Jawabannya adalah Api!” jawab Rose tersenyum yakin.
“Kau tidak akan bisa menyalakan lilin atau obor jika tidak ada api! Benarkan?” jelas Rose. Ketiga temannya panik, dan berharap jika jawaban kedua benar.
“Benar!” jawab Hobbit terseringai. Mendengar itu, Rose dan John sangat senang sehingga mereka berpelukan. Begitu juga Emily yang ikut lega bersama Robin. John kembali menatap ke bawah lubang, lalu beralih ke Hobbit.
“Hey, kenapa durimu tidak hilang? Bukankah kita sudah benar menjawabnya?” tanya John kepada Hobbit.
“Tentu saja tidak, itu sudah tantangan nya.” Jawab sang penjaga yang licik itu seraya tersenyum puas.
“Bukankah itu tidak adil? Harusnya kau memberi orang itu keringanan.” Protes John tak terima. Tapi memang benar yang dikatakan oleh John, seharusnya duri itu hilang ketika pertanyaan berhasil terjawab kan.
“Aku yang pemilik pertanyaan sekaligus peraturan disini.” Balas Hobbit garang sedikit maju dan selangkah mendekat ke arah John. Hobbit terlihat sangat pendek jika dilihat saat John dan dirinya dekat, postur tubuhnya hanya sampai di tengah-tengah perut dan dada John.
Rose menarik John kembali dan berdiri di sampingnya lagi, sambil memberi isyarat kepada John, bahwa mereka akan tetap menuruti peraturan milik Hobbit.
“Baiklah, berikan pertanyaan kedua.” Ucap Rose kepada Hobbit, yang masih terus menatap ke arah John, sedangkan John balik menatap dengan wajah konyol yang mengejeknya.
“Baiklah! Pertanyaan kedua.” Hobbit memulainya kembali.
“Apa yang bisa di dengar, tidak bisa di lihat. Apa yang bersatu dengan alat musik, tapi tidak bisa dipegang?” sambung Hobbit. Pertanyaan yang lagi-lagi semakin rumit dan sulit.
“Bisa kau ulangi lagi?” Rose mencoba mencerna kembali pertanyaan kedua dari Hobbit.
“Apa yang bisa di dengar, tidak bisa di lihat. Apa yang bersatu dengan alat musik, tapi tidak bisa dipegang?” ulang Hobbit.
Rose dan John kembali berfikir. Bahkan Emily dan Robin pun juga sama berpikir meski nyawa mereka dalam bahaya. Waktu yang hanya 50 detik, begitu cepat sekali, dan kini hanya tersisa 34 detik saja, waktu juga terus berjalan. Tapi Rose masih tidak mendapat jawaban nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG............