
Mendapat pertanyaan dari Jhon membuat para perompak itu sedikit tersinggung akan ucapan pria tersebut.
“Hey, kami seorang perompak! Ucapan adalah nomer satu dalam kalangan kami, apa lagi itu adalah sebuah janji.” Jelas Bonny.
“Oke!” balas Jhon menoleh ke arah Rose dan membolehkan wanita itu bercerita tentangnya.
“Aku berasal dari Las Vegas, itu sebuah kota yang kini sudah modern. Disana namaku adalah Rose Howe, entah kenapa? Tiba-tiba aku masuk ke dalam cermin dengan sebuah buku panduan tua dan membawaku sampai di tempat kalian. Aku tidak tahu bahwa aku seorang Putri disini, tapi semuanya sudah jelas, bahwa aku memanglah seorang putri dari Ratu Deldelina.” Jelas Rose menjelaskan panjang lebar. Bahkan para perompak itu juga salah satu orang yang setia saat mendengarkan cerita orang lain.
“So! Kau datang ingin mengalahkan Revana?” tanya Clisson. Rose mengangguk serius.
“Tenang saja, kami bisa menutup mulut, meski si Revana itu menyandra kami semua!” jelas Actassi tersenyum tipis. Tak cuman Actassi saja yang setuju akan ucapannya sendiri, bahkan Clisson, Teach, Jack, Bonny, Read dan Berly juga setuju akan ucapan Actassi. Mereka harus pintar-pintar menutup mulut, apalagi saat bertemu Ratu Revana.
***
Peacland Kingdom
Di ruang bawah tanah. Seorang wanita muda dengan sekujur tubuh yang sedikit kotor, berjalan perlahan menghampiri sebuah penjara disana. Ya! Wanita muda itu adalah salah satu orang pertama yang sudah berani mengatakan tentang keberadaan dan misi Rose kepada Ratu Revana. Kini dengan berani ia ingin menghampiri orang-orangnya yang kini berada di balik jeruji besi dan berbatu serta gelap.
“Kenapa kau kemari? Seharusnya kau langsung pergi dari sini.” Sindir seorang wanita bekas penjahit gaun Ratu Deldelina dulu yang kini menatap tajam dan malas ke arah wanita muda itu yang bernama, Dasy.
“Maafkan aku! Aku sangat takut.” Balas Dasy seraya menangis. Memang dia bisa bebas, namun keluarga dan orang-orangnya yang tinggal di bawah tanah, semuanya ada di penjara gelap milik Ratu Revana.
“Kau penghianat! Dasar penghianat! Putri Rosellyna berjuang akan misinya untuk bisa mengalahkan penyihir Revana itu, dan kau malah membuka mulutmu.” Sentak pria berkumis panjang dengan bekas tusukan kuku di lehernya. Wanita bernama Dasy tadi hanya menangis seraya memegang jeruji besi disana.
__ADS_1
“Kau pikir hanya kau saja yang takut? Kami juga takut, bahkan anak-anak ini juga.” Lanjut seorang wanita setengah baya dengan kain putih di kepalanya, layaknya sebuah bando.
Mendengar hal itu, Dasy tertunduk malu. Kenapa ia bisa kalah dengan anak-anak yang juga bisa menutup mulut mereka tanpa rasa takut. Seharusnya dia tidak membuka mulut, mungkin karena ulahnya, Ratu Revana bisa tahu tentang misi dan keberadaan Rose juga Emily, Jhon dan Robin.
“Pergilah! Nikmati kebebasanmu itu.” Usir pria berkumis panjang tadi yang tidak ingin melihat wajah Dasy. Dengan perasaan bersalah dan isak tanginya, Dasy berjalan pergi meninggalkan mereka semua, hanya dia orang yang bisa bebas dari cengkraman Ratu Revana.
Sementara di kamar gelap dan suramnya, Ratu Revana memandang ke arah jendela yang terbuka lebar menampakkan langit biru cerah. Dia juga menikmati sebuah pertunjukan di depannya saat ini, sebuah pertunjukan yang tak biasa. Dimana Ratu Revana asik membidik burung-burung yang berterbangan dengan kekuatan hitamnya, membuat burung yang ia bidik seketika meledak tak karuan. Sungguh kasihan, mereka yang tidak bersalah.
“Oh my Queen! Apa yang harus aku lakukan kepada para sandra?” tanya Jerry yang kini berdiri di belakang Ratu Revana.
“Biarkan saja mereka disana, biarkan mereka kelaparan.” Ujar Ratu Revana terseringai puas.
“Kau sudah mengirim surat yang aku suruh?” tanya Ratu Revana.
“Sudah my Queen! Tapi, apakah dia akan membalasnya?” tanya Jerry yang ingin tahu sekali.
***
Di Kapal.
Clisson berjalan menghampiri Guiracocha yang masih stay di roda kemudi. Dengan santai dan nikmat, pria itu mengendarai kapal sambil bersenandung merdu.
“Oh sayangku, kenapa kau datang kemari! Kau merindukanku!?” ucap Guiracocha tersenyum lebar menatap Clisson yang masih saja memperlihatkan wajah malasnya ketika mendapat rayuan dari Guiracocha.
__ADS_1
“Kita akan menuju ke Istana Fieryland! Jangan lupa itu.” Ujar Clisson hanya memberikan informasi itu saja, lalu berjalan pergi. Namun seketika tangan kirinya diraih oleh Guiracocha dan itu membuat Clisson terhenti, memutar kepalanya ke samping untuk melihat Guiracocha yang kini tersenyum menggoda.
“Ayolah, kau tidak ingin menemaniku disini, sayang?” ajak Guiracocha tanpa rasa malu. Clisson tersenyum miring, ia sebenarnya sama-sama suka, namun namanya perompak penuh dengan tantangan. Clisson berjalan menghampiri Guiracocha dengan jarak yang sangat dekat keduanya saling memandang tanpa berpaling.
“I don't want to.” Jawab Clisson yang memandang wajah Guiracocha dengan wajah menggoda serta bibir yang juga sama menggodanya, membuat pria itu gemas, namun dengan sigap Clisson langsung melepaskan diri dari genggaman tangan Guiracocha itu dan berjalan pergi dari sana dengan gaya wanitanya.
🌹🌹🌹
Malam.
Langit yang kini berubah warna menjadi gelap. Membuat kapal berlaju dengan pelan, bahkan kini mereka semua yang ada di kapal duduk di antara dek kapal dengan berserakan dimana-mana. Waktunya makan malam, dari arah dapur kecil, Bonny, Read dan Teach sibuk memasak sebuah ikan laut, menu utama mereka.
“Saat malam hari, suasana lebih tenang namun mencengkam! Bisa saja musuh atau monster sedang memantau mu! Hahaha!” ujar Papa Pirate tertawa.
“Apa setelah bertemu mangsa, kalian membunuhnya?” tanya Emily penasaran dengan kehidupan perompak.
“No. Kami hanya mencuri seluruh isi kapalnya, lalu kami akan membuang orang-orang itu di pulau.” Jawab Papa Pirate. Memang begitulah seorang bajak laut, mereka hanya akan mencuri kapal beserta isinya, namun melepaskan musuh-musuhnya di sebuah pulau terpencil di tengah laut. Namun, jika sebuah bendera merah sudah berkibar, maka mereka tidak segan untuk membunuh para mangsanya.
Tidak lama kemudian, Bonny, Read dan Teach keluar membawa sebuah hidangan makan malam mereka semua. Sebuah ikan goreng yang diletakkan di sebuah wadah yang terbuat dari kayu dengan bentuk indah.
“Ikan lagi. Sejak kemarin aku selalu memakaan ikan laut, apa tidak ada ayam goreng?” tanya Jhon membuat semuanya geleng kepala kecuali Papa Pirate yang hanya tersenyum lebar.
“Kau banyak tanya sekali pria! Tubuhmu kekar dan gagah, namun mulutmu tidak bisa berhenti seperti wanita!” ujar Read menatap dengan penuh angkuh.
__ADS_1
“Hey nona! Semua orang berhak berkomentar, aku memang cerewet, setidaknya aku masih bisa tersenyum! Dan aku masih normal, kau ingin aku mencium mu?” balas Jhon. Para perompak yang lainnya hanya tersenyum tipis sambil melahap makanan mereka. Sementara Read yang baru saja mendapat balasan dari Jhon hanya menggeleng malas, lalu berjalan menjauh setelah membawa makanan pergi.
BERSAMBUNG........