ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : Dance Together


__ADS_3

Di tengah bulan yang berbentuk sabit terpantul indah di air laut yang kini bergelombang kecil karena tiupan angin kencang di malam hari. Suara musik menyelimuti keadaan hening di tengah lautan luas tanpa adanya orang ataupun pulau, hanya ada satu kapal dengan 13 orang di dalamnya.


Tap-tap-tapp.. Tap-tap-tapp... Tap-tap-tap-tap-tap... Begitulah bunyi dari beberapa pasang kaki yang asik menari dengan membuat nada dari alas kaki mereka masing-masing.


Sementara Bonny kini asik mengamati ponsel modern milik Rose yang sudah berada di tangannya. Dengan sangat teliti wanita bertopi merah itu melihat kebagusan dari benda persegi yang tipis berwarna abu-abu juga ada logo apel. Rose tersenyum senang bisa menunjukan benda modern kepada orang-orang di dunia fantasi itu.


“Ini namanya ponsel! Sebuah alat untuk komunikasi dan sebagainya!” jelas Rose. Dan kini ponsel itu berpindah ditangan Jack dan Actassi.


“Kenapa ada gambar apel?” tanya Jack. Rose meraih kembali ponselnya dan menunjuk kearah logo apel yang dimaksud Jack tadi.


“Ini namanya logo, semacam identitas atau merk ponsel ini! Ponsel ini namanya Apple! Understand!” jelas Rose tersenyum. Ketiga orang yang tadi penasaran akan ponsel itu, seketika mengangguk faham. Sedangkan Emily dan Robin yang bertemu Rose lebih dulu, sudah mengerti akan benda-benda bawaan Rose.


“Ya,ya,yahh!! Apel, nanas, pepaya. Semuanya sama saja, mereka buah yang lezat,” Mendengar ucapan Beryl yang tidak jelas, seketika mereka yang sedang duduk menatap kearahnya dengan gelengan kepala, seakan mereka sudah mengerti bahwa wanita itu kini mabuk alkohol.


“Hei! Apa ada merk banana?” tanya Beryl dengan kedua mata sedikit sendu menatap Rose.


“Emm.. Nothing!” jawab Rose seraya tersenyum. Mana ada merk handphone pisang? Apa kalian pernah menemukan merk tersebut? “Oke.” Balas wanita dengan botol alkohol kosong di tangannya, lalu beranjak dari duduknya berpindah kearah dimana masih banyak tersedia minuman anggur berbotol kaca. Ya! Disitulah Beryl duduk saat ini.


Wanita berambut pirang itu menghidupkan kembali ponselnya dan mulai memperlihatkan isi ponsel tersebut, dimana tanpa rasa malu, Rose menunjukan foto dirinya beserta keluarganya yang ada di Las Vegas. Saat melihat foto-foto itu, membuat Jack, Bonny, Actassi dan Emily benar-benar kaget saat melihat perubahan drastis dari si wanita bernama Rose.


“Apa ini kau?” tanya Emily. Rose mengangguk.


“Perubahan yang fantastik!” ujar Jack.

__ADS_1


“I know, aku juga tidak percaya!” balas Rose tersenyum senang. Dan lagi, saat Menggeser foto berikutnya, dimana Rose tengah berfoto bersama teman kampusnya, Emily Baekyland dan Jhon Champion. Benar-benar mirip dengan Emily dan Jhon disini. Melihat gambar tersebut, membuat Jack, Bonny dan Actassi menatap bingung ke arah Rose.


“Ya aku tahu! Orang yang aku kenal dan yang pernah aku lihat di duniaku Las Vegas, juga ada disini, tapi terkadang peran mereka berbeda disini.” Jelas Rose yang menjadi diam dan tertunduk mengingat akan ibu kandungnya.


Dari arah samping, Robin menoleh menatap Rose yang masih sedikit tertunduk.


“Everything will be fine!” ucap Emily mengusap pelan punggung Rose dan mengembalikan ponselnya. Wanita itu kembali tersenyum meski itu seperti paksaan.


Semuanya kembali seperti semula. Dimana kini Papa Pirate menari dengan semangat sendirian.


“Baiklah, kini giliran kita yang menari! Ayo!” teriak Jack dengan semangat untuk menari. Actassi, Bonny dan Emily mengikuti Jack yang kini sudah menari lebih dulu. Sedangkan Rose yang awalnya menolak, kini ia dipaksa hingga tidak ada pilihan lain selain ikut juga.


Dengan dipadu suara tepukan tangan dari Clisson dan Guiracocha yang kini duduk berdua, sementara Papa Pirate tertawa senang sambil minum bersama Beryl. Namun, ada satu orang yang sama sekali tidak menikmati suasana malam ini, dialah Read yang memilih duduk di pojokan tanpa senyuman.


Entah kenapa suasananya begitu menyenangkan, Rose benar-benar merasa bahagia dan bebas menari. Bahkan sesekali ia mengeluarkan tarian baletnya di campur dengan tarian khas orang-orang di sana. Dari arah depan, Robin diam menatap terus kearah Rose yang terlihat bahagia dan cantik saat tersenyum lebar. Apakah pria itu benar-benar terpesona dengan Rose? Merasa bahwa dirinya terus ditatap oleh seseorang, Rose melihat Robin, lalu dia melambaikan tangannya untuk mengajak Robin bergabung.


“C'mon!” ajak Rose lagi.


“No!” balas Robin menolak dengan senyuman.


“Sebaiknya kau ikut menari di sana.” Ujar Papa Pirate kepada Beryl.


“Tidak Papa Pirate! Minum lebih menyenangkan!!!” jawab Beryl mulai terkekeh. Pria tua itu hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Rose yang sudah merasa lelah ia memilih berhenti dan kembali duduk di samping Robin.

__ADS_1


“Itu sangat menyenangkan!” ucap Rose tersenyum lebar seraya menempelkan lengan kirinya ke lengan kanan milik Robin. Namun ia tersadar dan menjadi malu sendiri, tapi tidak dengan Robin yang malah tersenyum tipis. Tidak lama, Emily, Jhon, Actassi dan Bonny juga ikut berhenti. Sementara Jack masih menikmatinya, berjalan menghampiri Guiracocha dan menepuk telap tangan pria itu, seolah seperti tarian sambungan.


Alunan musik masih terdengar jelas panjang. Kini Jack sudah berhenti, tapi giliran Guiracocha yang saat ini berjongkok sedikit dihadapan Clisson dengan satu tangan yang menunggu balasan dari Clisson.


“Menarilah denganku!” ajak Guiracocha.


“Ayolah.... Menari bersama!!” teriak Jhon dan Actassi.


“C'mon Clisson!” sambung Bonny bersemangat.


“Okay!” Clisson meraih tangan Guiracocha dan ikut menari bersama. Tarian yang begitu romantis dan panas, benar-benar membuat mata siapapun ternodai. Saat semuanya menikmati malam bersama, Emily melihat Read yang memilih keluar dan memilih sendirian membuat ia penasaran.


Di sebuah kerajaan yang kini mulai terlihat sangat seram, menyelimuti kerajaan Peaceland. Memang, saat kerajaan mulai diambil ahli oleh Ratu Revana, semuanya menjadi suram, bahkan tanaman indah pun tidak ingin hidup di daerah kepemimpinannya. Bukan hanya kerajaan Peaceland saja, hampir seluruh Fantasy World dikuasi oleh sang penyihir jahat dan tamak, Revana.


Istana Fredensligh


Seorang putri cantik dengan gelungan rambut yang rapi dan indah, dipadu dengan gaun berwarna coklat bercampur putih, membuat penampilan sang putri tidak bisa dibayangkan akan kecantikannya. Dialah Putri Brillyana, memang ia sedikit angkuh, tapi wanita itu masih punya hati, berbeda dengan sang ibu yang sudah lepas kendali akan kekuasaan.


“Putri! Ratu bertanya, apakah anda jadi pergi ke kerajaan Pangeran Justine?” tanya salah satu pelayan yang kini berdiri di pintu dengan kedua tangan di depan dan kepala tertunduk hormat.


“Iya.” Jawab Putri Brillyana.


“Tinggalkan aku sendiri.” Pintanya kepada para pelayan yang ada di dalam kamarnya, namun kini para pelayan itu berjalan pergi dan menutup kembali pintu kamar Putri. Kini kamar yang besar namun suram memancarkan keheningan, jika kalian berada di sana, pasti bulu kuduk kalian akan berdiri.

__ADS_1


Dengan tatapan hening, Putri Brillyana menatap ke pantulan kaca, dimana ia hanya bisa melihat dirinya sendiri yang kini menatap dengan penuh curiga akan suatu hal. Seketika tangan dengan hiasan kuku yang cantik itu mulai menelusuri meja riasnya hingga menemukan sebuah gulungan kertas yang ada di lacinya.


Diam-diam Putri Brillyana membuka pita yang melilit di gulungan kertas kusam sehingga memperlihatkan sebuah tulisan seperti Pohon Keluarga. Awalnya wanita itu ragu, ia menemukan kertas tersebut di sebuah kamar dan terselip diantara kaki ranjang dengan dinding.


__ADS_2