ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : Rolling In The Deep


__ADS_3

Di sebuah perjalanan yang masih panjang. Putri Brillyana juga masih menempuh perjalanan nya menuju kerajaan Valcke, itu sangat membosankan baginya.


Kerajaan Peacland


Kini kepergian Putri Brillyana membuat Ratu Revana merasa bebas melakukan apapun tanpa harus bersembunyi lagi.


Di sebuah ruangan luas, Ratu Revana duduk di singgasana nya yang agung bewarna hitam seperti hatinya, sementara Lotus dan Jerry hanya berdiri di sebelahnya.


“Bagaimana Ratu? Apakah kau akan tetap diam saat mengetahui bahwa kematianmu menunggumu.” Ucap Lotus yang langsung ceplas-ceplos. Seketika dia mendapatkan tatapan tajam dari Ratu Revana.


“Tutup mulutmu.” Titah Ratu Revana yang kini berdiri seraya mengibaskan jubah panjangnya.


“Aku akan mengirim algojo untuk keponakanku!” ujar Ratu Revana terseringai. Mendengar ucapan itu, membuat Lotus juga ikut tersenyum karen tahu maksud dari Ratu Revana, namun tidak untuk Jerry, pria kerdil yang polos dan bodoh, namun licik.


Perlahan jari-jari Ratu Revana yang bercat kuku hitam panjang itu mulai mengeluarkan sebuah asap hitam yang lebat, bahkan angin juga mulai menerpa tubuh Ratu Revana dan juga Lotus, Jerry.


“Datanglah wahai iblis ku!” teriak Ratu Revana. Tiba-tiba terlihat dua pasang kaki yang besar mengerikan seperti raksasa. Benar saja, terdapat dua orang bertubuh raksasa dengan tampang mengerikan, lebih mengerikan dari Algojo.



Saat keduanya sudah keluar dari lembah hitam itu, mereka langsung bertekuk lutut di hadapan Ratu Revana dengan satu lutut menyentuh tanah.


“Senang Anda memanggil kami, Ratu!” ucap salah satu raksasa itu bernama Lablo, sementara yang lain bernama Orge.


Ratu Revana hanya tersenyum tipis melihat dua monster nya yang patuh akan dirinya. Dari arah jauh, Jerry yang melihat dua monster itu merasa lebih kecil sekali saat melihat perawakan Lablo dan Orge yang memiliki tinggi dua kali dari tinggi manusia normal, juga badan besar dan gagah.


Kini kedua mulai berdiri, bahkan Ratu Revana saja harus mendongak saat melihatnya.


“Aku ingin kau menghabisi keponakan tercintaku beserta orang-orang yang ada di dekatnya.


“Jangan khawatir Ratu! Akan aku pastikan semua tulangnya hancur.” Balas Orge. Seketika kedua orang itu langsung pergi berjalan tanpa menghiraukan tatapan orang-orang desa yang berlarian karena takut.


Sesekali juga Orge dan Lablo menggertak orang-orang penakut dan lemah itu dengan tawa puas yang mengerikan. Mereka tidak sabar menghadapi bagaimana kuatnya keponakan dari Ratu Revana.


***


Di sebuah lautan. Kini Rose beserta yang lainnya mulai menaiki sebuah kayu berbentuk persegi yang bisa mengapung seperti perahu. Ya! Jika ingin menaiki perahu persegi itu mereka harus melompat ke air dan berenang naik ke atas perahu persegi mereka tersebut.


“Ayo Rose!” ajak Emily yang sudah siap, ketika melihat para perompak yang lainnya sudah berada di bawah, bahkan Jhon pria aneh itu juga sudah duduk di bawah sana.


“Ayo!” teriak Jhon. Dengan ragu, Rose langsung melompat bersama dengan Emily.

__ADS_1


Benar saja, dia sedikit kesusahan saat sudah berada di air, rasanya seperti tenggelam sampai sebuah tangan merangkul pinggangnya dan membawanya untuk naik ke permukaan air laut.


“Woohh! Hffuu, hffuu...” Nafas Rose terasa sesak air. Ternyata Robin yang menolongnya sampai wanita itu benar-benar naik ke atas perahu.


“Terima kasih!” ucap Rose melihat Robin naik ke perahu.


“Hm.”


“Apa semuanya sudah ada?” tanya Clisson seraya menatap ke belakang.


“Iya.” Jawab Read duduk di samping Emily dan Jhon.


Seketika, Guiracocha, Jack, Teach dan Actassi menggayung dengan sebuah kayu panjang dengan body tipis sehingga bis digunakan seperti gayung.


Mereka semua sudah tidak khawatir, karena sebuah daratan sudah cukup terlihat di depan mata. Rasanya begitu lega, Rose bahkan tidak percaya bahwa dia bis menggunakan elemen air, itu seperti mimpi. Namun ini nyata.


Di atas perahu persegi tanpa adanya tiang dan layar. Kini semuanya tengah sibuk mengobati luka kecil mereka akibat serangan Siren. Tapi tidak dengan Robin, si pria tangguh yang hanya diam menahan rasa sakitnya sendiri.


“Rose! Kau bisa bernyanyi?” tanya Papa Pirate yang duduk di depan sementara Rose ada di belakang.


“Tidak terlalu!” jawab Rose tersenyum tipis namun masih terlihat gigi putihnya.


“Iya! Coba bernyanyi lah dengan lagu di duniamu!” balas Jack juga disetujui oleh perompak yang lainnya serta Jhon, Robin dan Emily.


Hening mulai kembali menyelimuti mereka. Sampai suara indah mulai terdengar di telinga mereka semua.


🎶 “There's a fire starting in my heart


Reaching a fever pitch, it's bringing me out the dark


Finally I can see you crystal clear


Go ahead and sell me out and I'll lay your ship bare


See how I'll leave with every piece of you


Don't underestimate the things that I will do


There's a fire starting in my heart


Reaching a fever pitch and it's bringing me out the dark

__ADS_1


The scars of your love remind me of us


They keep me thinking that we almost had it all


The scars of your love they leave me breathless


I can't help feeling...”


Rose mulai bernyanyi, bahkan mereka semua menikmati suara dan lagi yang Rose bawakan, hingga pelan-pelan mereka mulai bertepuk tangan dengan menjadikan sebuah irama.


🎶“We could've had it all


Rolling in the deep


You had my heart inside


Of your hands


And you played it


To the beat ”🎶


Prookkk, prookkk, prookkk, prookkk.... Suara tepukan tangan mendengung di angin laut, Rose begitu malu namun juga senang, karena baru pertama kali dirinya mendapatkan sorakan seperti itu. Ya! Meski mereka tidak ada yang tahu lagu apa yang di nyanyikan Rose, tapi itu sangat bagus di dengar.


Tapi anehnya, saat Rose bernyanyi, bibir Robin bergerak mengikuti lagu yang dinyanyikan oleh Rose! Bagaimana mungkin?


“Thank you!” ucap Rose tersenyum lebar.


“Mendengar mu bernyanyi aku seperti melayang di udara!” goda Actassi.


“Suaramu bagus!” puji Clisson dan Read.


“Aku jadi ingin masuk ke duniamu!” balas Beryl yang kini sadar tanpa minum alkohol.


Mendengar ucapan Beryl, Rose terdiam sejenak. Bahkan faktanya Rose lebih senang berada di sini dari pada berada di dunianya yang kejam. Karena kesenangan tadi, tak terasa mereka lebih dekat dari daratan.


hanya kurang beberapa menit saja mereka akan sampai disana.


“Ajari aku saat sampai nanti!” ucap Emily menyenggol lengan Rose sambil tersenyum lebar.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Hingga beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai juga. Perahu persegi mereka kini sudah berada di mulut daratan.


BERSAMBUNG...........


__ADS_2