ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : Tertutup Oleh Sihir


__ADS_3

Keberadaan yang masih di tengah lautan luas, serta pemandangan langit yang sedikit demi sedikit mulai terlihat cerah benderang, bahkan suara yang terus-menerus memanggil nama Rose itu masih belum berhenti.


Semuanya yang kini melihat sebuah bola mutiara berwarna biru laut yang berkilau, para perompak itu menatap penuh heran, apakah mungkin Ratu Air ada disana? Kini bola tersebut berada di kedua tangan Rose.


“Rose!! Kau bisa mendengarkan?” panggil suara itu lagi dengan lembut.


“Iya! Apakah itu suaramu Ratu Air?” tanya Rose untuk memastikan lagi.


“Yes! Dengar, aku sangat lapar, apa Magela tidak ada disana?” tanya Ratu Air yang ternyata perutnya sudah kosong. Mendengar hal itu membuat para perompak itu masih tidak percaya bahwa bola itu adalah Ratu Air. Tidak mungkin seorang Ratu bersifat seperti itu, bahkan meskipun tahu bahwa diluar sini begitu membingungkan akan misi keempat orang asing itu.


“Apa benar dia Ratu Air?” tanya Bonny memastikan kembali dengan wajah tak percaya.


“Awalnya aku juga seperti itu, tapi Ratu Air memang memiliki sifat konyol!” bisik Jhon menjawab dengan pelan seraya tersenyum tipis.


“Aku bisa mendengarmu Jhon!” balas Ratu Air seketika. Emily langsung menatap tajam ke arah Jhon.


“Maafkan aku Ratu Air, tapi saat ini kami masih berada di kapal! Kami menyebrangi lautan untuk bisa datang ke Istana Fieryland.” Jelas Rose.


“Okay! I understand!” balas Ratu Air yang tiba-tiba tidak terdengar lagi suaranya.


Rose kembali meletakkan bola mutiara tersebut kedalam ransel cokelatnya. Sementara yang lain masih menatap heran ke arah Rose, sampai Clisson mulai berjalan lebih dekat, berdiri di antara orang-orang tadi tepat ditengah-tengah mereka semua. Sedangkan Guiracocha tiba dengan membawa sebuah kotak kayu ukuran yang cukup besar dan diletakkan kotak itu tepat di depan Clisson berdiri, seolah menjadikan kotak tadi sebagai sebuah meja.


Semuanya yang berada di kapal tersebut berkumpul, bahkan Papa Pirate juga ikut berdiri bersama mereka semua. Seketika, Clisson meletakkan sebuah peta miliknya dimana peta itu menunjukkan sebuah gambaran lautan yang saat ini mereka lewati.


Dengan membukanya lebar, Clisson meletakkan peta tersebut di atas kotak kayu yang tadi dibawakan oleh Guiracocha. Khususnya Rose, Emily, Jhon dan Robin lebih dekat melihat gambar peta yang sudah tercantum di sana, tapi mereka masih tidak tahu maksud dari itu semua.

__ADS_1


“Dengar! Papa Pirate sudah mengatakan, kita hanya ada satu jalur untuk bisa datang ke Istana Fieryland, disini!” jelas Clisson seraya jari telunjuknya mengarah ke arah peta bergambar lautan serta ada dua batu besar sebagai tameng.


“Benarkah?” balas Emily. Clisson hanya mengangguk pelan.


“Para nelayan, ataupun kami tidak pernah lewat di jalur itu! Jika sekali lewat, kami harus berjalan lurus dan memutar untuk bisa kembali ke desa nelayan. Dan itu jika kalau kami selamat.” Jelas Clisson lagi-lagi membuat bingung. Sementara para perompak yang lainnya mengerti dengan maksud Clisson, mereka tahu ada sesuatu yang mengerikan di jalur yang ditunjuk oleh Clisson tadi.


“Memang ada apa di sana?” tanya Rose penasaran.


“Di Sana ada mahkluk bernama Siren! Mereka selalu menunggu mangsa tanpa istirahat.” Jawab Actassi. Seketika, Rose terdiam, nama mahluk itu tidaklah asing ditelinga Rose, sepertinya ia pernah mendengar nama familiar tersebut. Tapi apa ya??


***


Di kediaman Ratu Revana. Seperti biasa wanita dengan pakaian serba hitam dengan seluruh tubuh berwarna pucat itu masih duduk di singgasana agungnya yang selalu ia inginkan dan ia dambakan itu. Dengan kuku panjang hitamnya Ratu Revana menatap lurus dan tajam.


“Lotus! Bisakah kau memperlihatkan dimana wanita itu kini berada?” pinta Ratu Revana dengan suara besarnya.


Sampai tangan Lotus mulai berhenti dan seringan yang sedari tadi muncul, kini hilang begitu saja setelah dia melihat sesuatu yang ada di dalam kekuatannya sendiri.


“Ada apa Lotus?” tanya Ratu Revana penasaran. Mendengar hal itu, seketika cahaya tadi hilang kembali dan membuat ruangan kembali gelap dan hening.


“Maafkan aku Ratu, aku tidak bisa melihat keberadaan mereka.” Jawab Lotus.


“What?” hanya itu balasan dari Ratu Revana.


“Aku rasa, ada seorang penyihir yang membantunya! Aku tidak bisa melihatnya karena tertutup oleh sebuah sihir.” Jelas Lotus yang memang benar apa yang dia rasakan. Ternyata Magela sudah mempersiapkan dan melindungi Rose, Emily, Jhon dan Robin. Dia sudah tahu bahwa tidak lama lagi, Revana akan tahu tentang Rose dan itu membuat Magela harus menutupi seluruh tubuh keempat orang itu dengan sihirnya, sampai mereka selesai bertemu empat ratu elemen.

__ADS_1


Sementara Ratu Revana mulai murka akan ucapan dari Lotus tadi.


“Itu tidak mungkin. Aku sudah menghancurkan Witch Village, dan membinasakan semua penyihir di sana.” Ucap Ratu Revana dengan sombong dan lantang.


“Mungkin anda tidak menyadarinya Ratu.” Balas Lotus. Dengan gerakan cepat, Ratu Revana memasukan tangan kirinya kedalam lubang elemen hitamnya yang ada di sampingnya, menembus tepat ke leher Lotus.


Kini tangan itu mencengkram erat leher Lotus dengan sangat erat hingga urat di kepala Lotus mulai terlihat jelas.


“Aku tidak bodoh. Jaga ucapanmu.” Ucap Ratu Revana dengan nada pelan tapi seram dan jelas. Cengkraman itu lepas, dan Ratu Revana kembali duduk tenang, tidak mungkin ia membunuh Lotus, karena dia juga masih memerlukan bantuan Lotus.


Dengan wajah menahan sakit, Lotus terdiam dengan kepala tertunduk.


“Sebaiknya, kau pergi dari sini! Tambahlah kekuatan payah mu itu.” Pinta Ratu Revana seperti ejekan mulus. Tidak bisa apa-apa, Lotus berjalan pergi, setelah ia menutupi kepalanya Kembali dengan jubahnya.


***


Di lain sisi tepatnya di sebuah kapal besar yang masih melaju dengan kecepatan normal, keadaan di sana kembali sepeti biasa. Hingga malam hari mulai kembali mencengkam keadaan disekitarnya.


Malam yang sunyi, Rose duduk bersama Emily, Robin, Bonny, Beryl yang masih asik minum sendiri, Jack, dan Actassi. Sementara sisanya tengah menikmati musik yang merdu sesekali bersenang-senang bersama. Rose yang merasa bosan, wanita itu mencoba meraih ponselnya yang masih bisa menyala. Ya! Ponsel yang ia bawa dari Las Vegas.


Rose melihat ternyata baterainya tinggal 3% lagi. Melihat benda aneh yang ada di tangan Rose, membuat orang yang kini duduk di samping Rose jadi penasaran, namun tidak dengan Robin yang hanya melihat biasa saja.


“Wah, apa itu?” tanya Bonny yang kebetulan ia duduk dekat di samping Rose.


BERSAMBUNG..............

__ADS_1


MAAF YAAA! UNTUK SEMENTARA AKU HENTIKAN DULU UP CERITA INI... KARENA ADA SEBUAH TROUBLE YANG HARUS AKU SELESAIKAN. OKAY😄👌 THANKS AND SEE YOU...


__ADS_2