ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : Mission To Hide


__ADS_3

Untuk kembali ke rumahnya, Rose harus menghadapi masalah sebesar itu. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan semua itu dan menghadapi semuanya yang ada di sini.


“Kau bisa kembali, hanya ketika kau menggunakan tongkat milik Ratu Revana. Karena itu yang bisa menngeluarkan cahaya putih yang akan membawamu kembali!” ucap Magela melihat kearah Rose.


“Itu artinya kau menyuruhku untuk mengalahkan Ratu Revana?” tebak wanita berambut pirang itu.


“Tentu!”


Rose yang masih tidak mungkin bisa mengalahkan Ratu Revana, ia hanya berpikir negatif saja jika dia mungkin akan kalah dengan ratu Revana.



Magela menunjukan sebuah peta, dimana mereka harus pergi ke Istana para Ratu Element. Tapi tidak semudah seperti yang ada di peta. Dalam perjalanan mereka akan mulai bertemu dengan mahkluk-mahkluk mitologi yang mengerikan dan sangat susah untuk dikalahkan.


“Kalian harus pergi ke Istana Ratu Air.” Pinta Magela sambil menunjuk kearah peta tepat di Istana Hemland, kediaman Ratu Water Element.


“Tunggu. Jika ada yang lebih dekat, kenapa harus pergi yang jauh lebih dulu?” tanya John heran, karena Istana angin lebih dekat daripada air.


Seketika Magela mencubit tangan John yang menunjuk kearah kerajaan angin. Karena cubitan itu, membuat John meringik kesakitan yang dia rasakan di kulitnya.


“Tidak bisa. Kalian harus menemui Ratu Air, sesampai disana kalian akan tahu maksud dari urutan tersebut.” Ucap penyihir itu seolah memberikan jalan yang benar untuk mereka.


“Baiklah, setelah kami ke Ratu Air, lalu kami pergi kemana?” tanya Emily.


“Ratu Api! Lalu ke Ratu Tanah! Kemudian ke Ratu Udara.” Jelas Magela singkat dan padat.


“Baiklah itu cukup muda, ayo kita pergi!” seru John bersemangat dan positif thinking.


“Tapi tetaplah kalian berhati-hati terhadap sekitar.” Ucap Magela memperingati.


Empat orang itu akhirnya mengerti, Rose meminta izin untuk membawa kertas peta tersebut. Setelah tahu akan semuanya, mereka akhirnya pergi keluar dari rumah tua itu dan berdiri tepat di lubang rumah Emily dan John.


“Jadi, kita harus apa sekarang?” tanya John bingung.


“Pertama-tama kita makan dulu!” jawab Rose yang kini juga mulai lapar. Mendengar itu John tambah senang ketika mendengar soal makanan. Mereka mulai duduk dibawah pohon yang sedikit rendah, dengan angin yang sejuk dipagi hari, membuat kesan yang begitu menyenangkan.


“Wahhh, kentang panggang, ini kesukaan ku! Kau sangat mengerti tentang aku ya!” ucap John tersenyum lebar melahap kentang tersebut.

__ADS_1


“Sebetulnya, itu hanya kebetulan saja. Aku mendapat gratisan!” balas Robin tersenyum tipis.


“Kita harus mengisi tenaga untuk perjalanan nanti.” Ucap Emily.


Rose sangat tidak sabar untuk segera pulang ke Las Vegas dan melihat kejadian apa yang akan terjadi disana, setelah ia mengetahui semuanya. Dalam perjalanan Rose juga akan menghafalkan tarian Balletnya.


Saat asik melahap makanan, tiba-tiba suara haduh dari kaki kuda yang berjalan terdengar begitu jelas dan ricuh. Seperti ada orang yang akan melewati tempat dimana Rose dan yang lain duduk saat ini.


“Apa kita sembunyi? Bagaimana jika itu prajurit Ratu Revana?” tanya Emily waspada.


“Aku rasa tidak perlu, karena itu bukan dari Kerajaan Peaceland.” Jawab Robin yakin karena dia melihat dengan jelas meski itu dari kejauhan. Lebih dekat lagi, akhirnya sekelompok prajurit beserta seorang Pangeran tampan berjalan hendak melewati keempat orang yang kini berdiri sambil melahap makanannya sambil melirik kearah pangeran.


“Berhenti!” pinta Sang Pangeran yang duduk diatas kuda, lalu berhenti ketika ia menyuruh semuanya untuk berhenti. Pangeran itu terus memandang kearah Rose yang kini berdiri sambil terus tersenyum kearahnya.


Seketika Sang Pangeran turun dari kuda, menghampiri Rose sambil tersenyum ramah kearahnya. Melihat hal itu Emily dan John kebingungan dengan senyum-senyum menggoda saat melihat hal itu.


“Senang bertemu denganmu lagi! Rose!” ucap Pangeran Justine yang ternyata masih mengingat wajah dan nama Rose. Meski ini yang kedua kalinya mereka saling bertemu, tapi entah kenapa mereka begitu dekat dan akrab satu sama lain.


“Aku juga! Kenapa Pangeran ada disini?” tanya Rose yang masih tersenyum.


“Aku dan teman-teman ku juga akan pergi ke–” Perkataan Rose belum sempat selesai, namun Robin langsung memotongnya begitu saja.


“Danau! Kami akan ke danau untuk menangkap ikan.” Sambung Robin tersenyum. Mendengar itu, membuat ketiga orang yang ada disampingnya menjadi bingung, karena mereka sama sekali tidak menjadwalkan akan pergi ke danau.


Sedangkan Emily yang peka, langsung menyetujui ucapan Robin. Tidak ada satu orang pun yang boleh tahu akan misi mereka, jika tidak maka semuanya akan berantakan.


“Danau! Kalau begitu bolehkan aku ikut?” tanya Pangeran Justine yang dengan senang hati ikut bersama dengan rakyat biasa.


“Tentu saja boleh! Ayo!” ajak Rose yang sudah dimabuk cinta oleh Pangeran itu.


“Kalian semua tunggu disini, aku akan segera kembali!” perintah Pangeran Justine kepada para prajurit nya.


“Ayo!” ucap pangeran Justine memberikan jalan terlebih dahulu untuk Rose, lalu mereka pergi berdua lebih dahulu. Di belakang, Robin diam, sementara Emily dan John saling tatap kebingungan.


Alhasil mereka tidak bisa mengelak, dan memilih untuk ikut bersama pangeran Justine dan Rose, jika tidak ada yang ikut, entah apa yang akan dikatakan oleh Rose nanti.


“Kenapa kita harus pergi ke danau sungguhan?” tanya Emily kepada Robin dan John.

__ADS_1


“Kita ikuti saja!” jawab Robin juga pasrah.


Melihat ekspresi Robin, membuat tumbuh kecurigaan di pikiran Emily dan John saat menatapnya.


“Apakah akan ada cinta segitiga?” tanya John seraya senyum mengejek.


“Mungkin!” balas Emily juga tersenyum. Mendengar suara bisik-bisik membuat Robin menoleh kearah Emily dan John. Seketika dua orang itu terdiam saat mendapat tatapan tiba-tiba dari pria tampan berambut hitam itu.


Sampai di danau semalam. Pangeran Justine dan Rose masih sibuk dengan diri mereka sendiri, sementara tiga orang yang menunggunya hanya berdiri di tepi danau.


“Baiklah, aku akan berpura-pura menangkap ikan, daripada melihat dua orang tengah fall in Love!” sindir John yang kini berjalan dan berdiri di air danau sambil sesekali menurunkan kedua tangannya untuk menangkap ikan asal-asalan.


Emily hanya diam melihat kearah John yang sudah punya kesibukan, sementara Robin mengambil satu pisau kecil dan melemparnya di depan John hingga mengenai satu ikan tepat sasaran.


“Waw!” syok ketika melihat kejituan tadi. John terdiam memandang kearah Robin yang masih serius menatap kearah Rose.


“Dia benar-benar Robin Hood!” gumam Emily dan John.


John mengambil ikan yang masih tertancap pisau, lalu berjalan mendekat ke Robin.


“Hei bung! Kau suka dengan Rose?” tanya John seketika.


“Siapa? Tidak!” jawab Robin yang langsung berpaling begitu saja.


“Kau bisa tidak menutup mulutmu itu? Kau ini selalu saja.” Marah Emily kepada John.


“Kenapa? Aku hanya bertanya saja.” Ucap pria tak berdosa itu. Emily hanya menghembuskan nafasnya saja, lalu mengajak John untuk pergi menghampiri Robin yang kini menjauh dari danau.


Sedangkan di danau. Rose masih tersenyum melihat wajah Pangeran Justine. (apakah seperti ini ketika Rose kembali ke Las Vegas? Apakah dia akan sedekat ini dengan Max?).


“O, iya! Kau tinggal dimana?” tanya Pangeran Justine yang juga sibuk menangkap ikan.


“Las Vegas!” ucap Rose begitu saja tanpa sadar. Seketika Pangeran Justine berhenti dan menghampiri Rose.


“Las Vegas? Apa itu?” tanya Pangeran Justine yang sama seperti yang lain. Rose tersadar dan mulai panik akan hal itu.


BERSAMBUNG..........

__ADS_1


__ADS_2