ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : READY TO SAIL!


__ADS_3

Istana Fredenslige


Di Kerajaan Peacland. Ratu Revana sudah siap untuk menganggu perjalan Rose, karena ia tahu tujuan kedatangan Rose adalah menghancurkannya. Dan itu tidaklah semudah yang mereka semua pikirkan.


“Hei! Kemarilah.” Pinta Putri Brillyana kepada seorang pelayan wanita yang cukup lama bekerja di Istana Fredenslige. Pelayan itu belumlah nenek-nenek, namun setengah baya.


Dengan patuh tanpa memotong waktu, pelayan yang dipanggil oleh Putri Brillyana tadi, kini berdiri tepat dihadapannya saat ini. Sementara dua pelayan yang ada di belakang Putri Brillyana, masih setia berdiri mendampinginya.


“Berapa tahun kau bekerja di sini?” tanya Putri Brillyana dengan wajah yang cantik dan tidak polos.


“enam tahun, Putri.” Jawabannya yang masih menunduk tidak berani melihat. Seketika Putri Brillyana memutar kedua bola matanya dan sedikit mendengus kesal.


“Sudahlah. Apa kau tahu, siapa yang menjadi ratu Fredenslige sebelum ibuku?” tanya Putri Brillyana. Mendengar pertanyaan dari si Putri, membuat ketiga pelayan yang ada disana tersentak karena terkejut. Mereka tidak mungkin menceritakan siapa itu Ratu Deldelina, karena Ratu Revana sudah melarang akan hal itu di sana. Putri Brillyana hanya tahu, kalau ibunya adalah anak tunggal tidak memiliki saudara ataupun kerabat dekat.


Pelayan tadi masih diam dengan jantung berdegup kencang tanpa bisa henti. “Siapa?” sentak Putri Brillyana seketika.


“Emm— Maaf Putri, setahu saya dulu yang memegang tahta Fredenslige adalah Raja Stanmas.” Jawab dari pelayan setengah baya itu. Ia terpaksa berbohong, jika tidak tamatlah riwayatnya di tangan Revana. Tanpa banyak tanya lagi, Putri Brillyana berjalan pergi begitu saja, tapi ia masih kurang percaya akan ucapan tadi. Ada sesuatu yang disembunyikan darinya, tapi apa ya? Itu membuat kepala Brillyana pusing tak karuan.


***


Sementara di kapal bajak laut. Semua orang yang ada di sana, sibuk dan bersiap-siap pergi berlayar.

__ADS_1


“Cepat, gelomvang air sudah stabil!” ujar Papa Pirate kepada anak-anak kapalnya. Dengan cepat, para perompak yang tadinya berkelompok, kini mereka berpencar dan memiliki tugas masing-masing.


“Ayo semua!” seru Clisson dengan semangat tinggi. Guiracocha bagian roda kemudi, atau yang biasa di sebut (Bridge), hebat sekali dia bisa mengemudikan kapal sebesar itu, sungguh hebat! Papa Pirate adalah seorang kapten mereka, dan pantas ia hanya diam, namun kedua matanya tidak bisa henti melihat ke sekitar laut dari atas tiang haluan. Dan itu tidaklah muda, kau tahu. Sementara Bonny, Teach, dan Jack, mereka langsung bersiap-siap diantara tiang-tiang kapal.


“Angkat jangkarnya!” pinta Clisson yang menjadi tangan kanan Papa Pirate. Mendengar perintah dari Clisson, Actassi dan Read langsung bersama-sama menarik jangkar yang tertancap di antara pasir-pasir dari desa nelayan. Siapa bilang wanita tidak kuat! Buktinya Actassi dan Read bisa menarik jangkar kapal hanya dengan dua orang saja.


“Turunkan layar haluan!” pinta Clisson yang kini berganti memberikan perintah kepada Bonny, Teach dan Jack.


“Baik!” balas ketiga orang itu dengan suara keras. Ketiganya langsung menarik tali yang terpasang di tiang haluan untuk menahan layar haluan tergulung rapi, sampai mereka melepaskan tali pengaitnya hingga membuat keseluruh layar haluan kini terbuka lebar.


“Siap berlayar!” teriak Clisson.


“Hey! Ayo kemari! Duduk saja disini!” panggil wanita bernama Beryl itu kepada keempat orang yang berdiri tanpa bergerak sedikitpun karena mata keempat orang itu sibuk melihat pergerakan dari para perompak tadi, sampai suara panggilan dari Beryl membuat keempat orang itu menoleh ke arahnya dan berpindah tempat.


“Duduklah disini!” imbuh Beryl sembari menepuk tempat duduk yang terbuat dari kayu melingkar diantara tiang tengah. nampak sekali wajah merah wanita itu karena kebanyakan minum, namun sangarnya dia, Beryl tidak pernah sampai merasa tidak sadarkan diri ataupun tidak terkendali. Malah minuman alkohol adalah penyemangat dalam hidupnya. Aneh!


“Kau tidak ikut membantu temanmu?” tanya Jhon yang memilih berdiri bersama Robin, sedangkan Rose dan Emily duduk di sisi kanan dan kiri Beryl.


“Tidak. Papa Pirate tidak ingin aku merusak semuanya! Jadi aku memilih duduk, jika aku ingin bekerja maka aku harus meletakkan botolku ini! Aku masih tidak mau.” Jelasnya yang selalu saja memegang botol alkohol. Bahkan di Beo pun ikut menjawab dengan kicauan seraknya.


Rose yang ingin tahu, ia beranjak dari duduknya melihat lebih dekat ke arah lautan. Kapal ini sudah berjalan dengan sedikit laju, membuat bekas gelombang air laut terlihat. Rose ingin sekali menyentuh air laut tersebut, namun jaraknya begitu jauh sekali, karena ini bukan perahu.

__ADS_1


Tap, tap, tap... Suara langkah kaki bersamaan yang menghampiri Rose serta yang lainnya, membuat wanita berambut pirang yang tadinya tersenyum memandang lautan, kini menjadi hilang dan menoleh kebelakang. Rupanya para perompak tadi sudah selesai bekerja, dan kini mereka ingin tahu lebih tentang Putri Rosellyna itu. Sementara Papa Pirate masih dalam posisinya, begitu juga dengan Guiracocha yang masih aman dalam roda kemudi.


“Jadi.. Kalian darimana mau kemana?” tanya Clisson dengan topi bajak laut ditangannya.


“Kami dari Istana Hameland dan sekarang kami ingin ke Istana Fieryland.” Jawab Emily.


“Maksudmu, di istana Ratu Api? Bukankah itu hal yang mustahil untuk didatangi?” balas Clisson.


“Iya, tapi tidak hanya disitu saja! Kami juga akan ke Istana Earthsand dan Istana Windland.” Lanjut Jhon.


“Ya, setahuku tidak ada yang bisa masuk begitu saja ke istana ratu elemen.” Balas Jack. Bukan hampir, melainkan seluruh orang-orang di dunia sana tahu, bahwa mustahil datang ke Istana para Ratu Elemen. Hanya orang tertentulah yang bisa masuk.


“Kami tidak ada pilihan lain, selain melawan bahaya.” Ucap Emily tersenyum tipis.


“Lalu, kau sendiri? Kau terlihat asing di tempat ini.” Tanya Clisson yang memastikan lebih lanjut cerita keempat orang asing itu. Itu sudah tugas Clisson. Rose tidak punya pilihan lain selain menceritakan sekali lagi tentang dirinya yang berasal dari dunia lain, entah mereka percaya ataupun tidak, itu sama sekali tidak peduli.


“Emm—”


“Tunggu. Apa kalian akan bisa tutup mulut? Maksudku, kami takut jika ada yang membuka cerita ini ke orang lain, terlebih lagi penyihir Revana.” Tanya Jhon yang memotong suara Rose yang hendak bicara.


BERSAMBUNG..........

__ADS_1


__ADS_2