
Rose, Emily, John dan Robin menengok kearah belakang, dan seketika terkejut membulatkan mata mereka karena sekelompok mahkluk mengerikan tenyata menampakkan diri dan sudah berdiri dengan membawa senjata mereka, berupa pisau, hingga gada kecil dengan permukaan berduri. Sungguh terlihat seperti algojo.
“Aku rasa ini adalah desa mereka!” gumam John pelan.
Mahkluk itu berupa seperti monster separuh manusia. Tubuh yang berwarna abu-abu dengan dua bola mata lebar dan seperti keluar, rambut tipis, dua hidung yang hanya berupa dua titik saja layaknya tengkorak, juga tubuh yang sangat kurus sehingga terllihat tulang-tulang rusuk mereka yang telanjang hanya memakai celana yang berbentuk seperti milik Tarzan.
Bahkan kelompok penghuni desa itu tidak satu atau dua, melainkan ada banyak, karena mereka salah satu Goblin penjaga hutan tersebut.
“Ya tuhan, apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Rose pelan kepada tiga temannya yang juga tak berani gerak. Monster-monster itu masih dengan tatapan kearah mangsanya, dengan suara yang menggerang membuatnya bertambah menakutkan.
Robin berjalan maju disamping John saat ini, menyiapkan pedang panjang yang kini sudah ada ditangan. Sedangkan John seperti mematung sampai Emily menyadarkan nya kembali.
“Dalam hitungan ketiga kita akan lari dengan cepat, oke!” arahan dari Robin yang disetujui oleh tiga temannya itu.
“Satu.. Dua.... Sekarang!” ucap Robin seketika, sontak membuat mereka berlari cepat meninggalkan desa tersebut, berlari lurus tanpa henti. Tapi sialnya, para monster itu masih mengejar dengan gesitnya sehingga membuat empat orang itu menahan lelahnya ketika berlari.
“Ada goa didepan, tapi itu tertutup Es!” teriak Rose yang masih berlari, namun sebentar lagi mereka sampai didepan goa tersebut.
Saat sudah sampai di depan goa. John dan Rose langsung mengeluarkan pedang mereka masing-masing, lalu dengan sekuat tenaga ia berusaha menghancurkan Es yang menutupi seluruh mulut goa. Sementara Robin berhenti di belakang mereka sedikit jauh untuk menyerang para monster itu supaya tidak mendekati John dan Rose yang masih berusaha menghancurkan Es itu. Emily yang juga berusaha menghancurkan Es itu, matanya melihat bahwa salah satu monster tadi, lolos dan mendekat kearahnya. Dengan sigap, Emily mengarahkan pedangnya tepat di monster tersebut, hingga mengenai jantung sang monster sampai tembus dan mengeluarkan cairan hitam di tubuh kurusnya.
Setelah berhasil, Emily melanjutkan untuk menolong dua temannya yang sibuk menghancurkan Es yang masih sedikit hancur di bagian tengahnya. Robin yang sudah kewalahan masih memperkuat kan tenaganya untuk menghabisi para monster yang semakin banyak, karena monster itu setelah terkena hujaman senjata, ia langsung berubah menjadi abu beserta asap hitam dan hilang begitu saja.
CRROKK. CCRRROKK. CRROKKK. Suara itu terus-menerus terdengar jelas. Keringat mulai bercucuran dengan rasa panik dan ketakutan.
“Come on.....” Gerutu John yang bertambah cepat dan keras saat memukul Es itu.
Es yang sudah semakin menipis namun masih butuh waktu sedikit lama. Rose melihat kesekitarnya ada batu besar yang mungkin bisa menghancurkan Es itu.
“Hey, aku punya ide!” ucap Rose yang langsung diikuti oleh John dan Emily.
“Cepatlah kalian!” teriak Robin yang sudah berkeringat.
__ADS_1
Ketiga orang tadi mengangkat batu yang cukup berukuran besar. Bersamaan mereka menghitung dan melemparnya ke arah Es tersebut, sehingga dalam satu lemparan, Es itu hancur, membuat mereka menjadi lega melihatnya.
“Robin cepat masuk!“ teriak Rose mengulurkan tangannya. John dan Emily masuk lebih dulu memeriksa dalam goa tersebut.
Pria itu berusaha keras untuk pergi dari monster itu, pelan-pelan ia berjalan mundur, sampai Rose menarik tangan kirinya dalam satu tarikan. Robin merasa tubuhnya tertarik kedalam goa, saat melihat para monster itu mencoba menyerangnya didalam goa. Tapi itu mustahil, karena monster itu memantul jauh saat mereka memaksa masuk kedalam mulut goa, (seolah ada pelindung khusus di dalam goa ini).
“Aku rasa mereka tidak bisa masuk.” Kata Rose dan saling tatap dengan Robin yang masih menarik nafas tak beraturan. Empat orang itu masih mengambil nafas sejenak, dan menetralkan nya karena kewalahan juga panik akan kejaran monster tadi.
“Hey kalian, ada sesuatu disana!” panggil John membuat Robin dan Rose mengikutinya.
Saat keluar dari goa, mata mereka diperlihatkan dengan sebuah rumah kayu yang sedikit besar, dengan lampu cerah yang terlihat sangat menonjol. Entah rumah siapa yang berdiri tegak ditengah-tengah hutan mengerikan seperti itu. Jarak antara rumah itu dan Rose memang berjarak seratus langkah lagi.
Tanpa banyak tanya, mereka memutuskan untuk mendatangi rumah itu, rumah yang terlihat sunyi didepannya tapi tidak didalamnya.
Suara alunan musik bisa mereka dengar dari luar. John mendekatkan telinganya tepat di depan pintu yang sama terbuat dari kayu dengan warna cokelat tua.
“Sepertinya rumah ini milik manusia.” Ucap John.
“Tentu saja, tidak mungkin jika monster mendengarkan musik! Dasar kau ini.” Balas Emily yang juga ikut mendengarkan musik itu lewat pintu.
“Apa yang kalian lakukan? Tidak sopan jika menguping rumah orang!” ucap seorang anak gadis berbadan gemuk dan tembam, juga memiliki rambut pendek seleher.
Seketika John dan Emily tersenyum malu kearah gadis kecil itu. “Hai! Apa rumah ini milikmu?” tanya John langsung dengan senyuman lebar hingga seluruh giginya terlihat.
Melihat senyuman lebar John, gadis itu malah menangis keras, hingga membuat orang yang ada di dalamnya berhenti beraktivitas dan langsung melirik kearah mereka yang masih berdiri diluar. Tak lama seorang wanita datang memeluk gadis tadi yang masih menangis.
“Ap– Apa aku tidak melakukan apa-apa!” ucap John takut akan pikiran orang-orang yang ada disana.
“Kami pengembara, apakah kalian membuka penginapan?” tanya Rose ramah. Ternyata itu adalah sebuah penginapan, tulisan kecil yang ada disamping rumah, hampir tidak bisa dilihat dan dibaca oleh orang.
“O... Mereka semua juga pengembara! Masuklah!” pintanya menyuruh Rose masuk bersama temannya.
Tempat itu sangat ramai, ya! Meski orang disana masih bisa dihitung oleh jari, namun suasananya begitu hangat dan nyaman. Rose beserta yang lainnya duduk disebuah bangku yang terbuat dari kayu, hampir semua aksesoris dan benda-benda disana juga terbuat dari kayu.
__ADS_1
wanita tadi memberikan secangkir minuman dengan gelas unik berbentuk bongkahan kayu kecil.
“Maafkan aku, sudah menyambut kalian dengan pikiran buruk!” ucap wanita dengan rambut tergelung berwarna hitam.
“Tidak apa Bu, aku juga sering mendapatkan pikiran seperti itu!” jawab John tersenyum sambil melahap hidangan yang ada di hadapannya. Tak hanya itu, bahkan para tamu disana pun cukup ramah, karena mereka juga ikut duduk dan mengobrol bersama.
“Namaku Cloe dan dia putriku, Civic!“ ucap wanita bernama Cloe itu.
“O, aku John! Ini Emily, Rose dan Robin!” John memperkenalkan temannya kepada wanita itu.
“Kalian dari mana mau kemana?” tanya salah satu tamu pria gemuk dan botak disana.
“Kami dari Kerajaan Peaceland. Dan kami ingin pergi ke Istana Hemland!” jawab Rose tersenyum.
“Ratu kalian sangat terkenal!” ucap pria botak itu.
“Terkenal jahat! hahaha! Jangan tersinggung!” sambungnya.
“Tidak sama sekali, ucapan mu benar, Pak!” balas John juga ikut tertawa.
“Apa kalian lewat jalan goa disana?” tanya Cloe.
“Iya, aku salah melihat peta dan membuat teman-teman ku kesusahan!” jawab Rose merasa salah. Emily mengusap punggung Rose sambil tersenyum menandakan bahwa mereka sudah melupakan hal itu.
“Beruntung kalian bisa selamat!” ucap Cloe. Hampir semua orang yang ada di penginapan tersebut tahu, bahwa jalur yang dilewati Rose tadi, terkenal akan monster kejam dan mengerikan. Siapa yang tidak bisa menghindarinya, maka monster itu akan memakannya.
Mereka melanjutkan bersenang-senang disana, dan memutuskan untuk bermalam di penginapan tersebut, karena dimalam hari pasti banyak sekali mahkluk, monster bahkan orang-orang jahat ditengah hutan yang gelap dan lebat.
BERSAMBUNG..........
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
__ADS_1
HAI KAKAK² YANG MAMPIR DI CERITAKU, TERIMA KASIH BANYAK KARENA SUDAH MAMPIR. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN SETELAH MEMBACA YAAA, LIKE AND COMENT, PENULIS SANGAT BERHARAP ATAS DUKUNGAN DARI KALIAN SEMUA🙏❤️
THANK YOU AND SEE YOU...🤗🤗