
Wanita cantik bernama, Ivy itu tersenyum kearah Jhon lalu pamit kepada Ratu Air dan meninggalkan orang-orang yang masih duduk di meja makan. Bukannya marah ataupun merasa canggung, si Jhon malah menempelkan pipi kanannya ke telapak tangannya sendiri sembari melihat kearah kepergian Ivy dengan senyum dan tarikan nafas panjang, seolah ia baru saja dipertemukan oleh seorang bidadari.
“Sopan sekali!” gumam Jhon yang masih tersenyum dengan posisinya. Seketika Emily menepuk tangan Jhon sehingga membuat pria tadi kaget.
“Sekaliiii saja, kau jangan bersikap seperti itu. Setiap melihat wanita cantik, kedua matamu terbuka lebar!” celatu Emily yang sangat terganggu akan sikap konyol Jhon. Namun namanya Jhon, pria tanpa dosa.
“Hello! Memang apa masalahmu? Aku sedang berjuan untuk move on dari Putri Brillyana. Dan seketika mataku melihat Ivy!” jelas Jhon tersenyum tipis setelah menyebut nama Ivy. Mendengar balasan seperti itu, Emily benar-benar malas meladeninya lagi, apalagi Rose dan Robin yang nampak menggeleng pelan seraya tersenyum tipis, begitu juga dengan Ratu Air.
“All right, now you can eat!” pinta Ratu Air.
Rose beserta ketiga kawannya, kini melahap hidangan spesial yang sangat lezat dan nikmat. Daging dari ikan Marlin begitu lembut saat bersentuh dengan lidah, bahkan Jhon dengan murkanya ia selalu nambah hingga ketiga kalinya.
***
Kerajaan Peacland.
Di malam yang begitu gelap dan sunyi. Membuat keadaan Istana Fredenslige begitu hening dan terlihat seram ketika Ratu Revana duduk diatas tahta dengan sorot mata layaknya burung hantu. Hingga beberapa detik kemudian, sepasang kaki dengan tambahan tongkat kayu berjalan menghampiri keberadaan Ratu Revana.
Melihat kehadiran sesosok tersebut, Ratu Revana langsung mengenalnya.
“Senang bertemu dengan anda, ratu!” suara serak keluar dari mulut seorang pria setengah baya namun memiliki luka bakar di sisi kiri wajahnya hingga membuat wajah tersebut benar-benar hancur setengah. Dialah seorang peramal terkenal yang selalu membela kejahatan, dialah, Lotus.
“Senang bisa melihatmu lagi, Lotus.” Balas Ratu Revana terseringai. Sementara Jerry si asisten setia Ratu Revana, baru saja keluar dari arah belakang sang peramal tersebut. Dengan takut dan tubuh sedikit gugup, ia berjalan kearah Ratu Revana dan berdiri tepat disamping tahta.
“Apa yang membuat anda memanggilku?” tanya Lotus dengan senyuman liciknya seraya membuka topi jubah yang awalnya menutupi seluruh kepalanya. Ketika jubah tersebut terbuka hingga memperlihatkan kepala botak dengan goresan luka membentuk sebuah tato mengerikan.
“Aku ingin tahu, apa ramalanmu kali ini?” tanya Ratu Revana yang berjalan lebih dekat kearah Lotus.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, Lotus hanya tersenyum tipis lalu menutup kedua matanya seolah ia sedang melihat sebuah masa depan yang akan datang. Namun, hal itu malah membuatnya membuka mata dengan wajah panik dan sedikit berkeringat.
“Come. Evil will be destroyed, everything will return to the way it was! (Datang. Kejahatan akan hancur, semua akan kembali seperti semula!) Hahahaha!!!” ujar Lotus yang tiba-tiba tertawa lebar dengan suara besar hingga memebuat Jerry yang kecil menciut. Sementara Ratu Revana tidak terima akan ramalan bodoh tersebut.
“Shut up.” Sentak Ratu Revana yang mulai pusing.
“Who's he?” Tanya Ratu Revana menatap jernih dan tajam kepada Lotus yang kini berjarak 10 meter dari wajah Ratu Revana.
“Your death.” Jawab Lotus balik menatap serius dan tajam.
“She is the real queen!” lanjutnya terseringai.
“Deldelina.” Gumam pelan Ratu Revana.
Mendengar hal itu, seketika Ratu Revana mengerti, bahwa kematian yang dimaksud oleh Lotus adalah, seorang putri dari adiknya yang dulu ia bunuh. Kini putri tersebut sudah datang. Dengan perasaan bercampur aduk, Ratu Revana berbalik badan dan berjalan perlahan kearah tahta dengan ekspresi orang bingung. Seketika. “Haaaaaaaa...” Teriak kencang keluar dari bibir hitam Ratu Revana yang kini sungguh murka. Mendengar teriakkan mengerikan dari ratunya, Jerry memilih lari dari sana, sementara Lotus masih diam tak berkutik, hanya tersenyum tipis.
“Aku akan membunuhnya.” Lanjutnya menatap dengan tajam layaknya macan yang menatap kearah mangsanya.
***
Istana Hameland.
Makan malam sudah selesai, kini waktunya tidur. Rose, Emily, Jhon dan Robin memutuskan untuk tinggal beberapa hari di Istana Hameland sebelum mereka akan melanjutkan ke Istana Ratu Api. Tak hanya berdiam diri saja disana, Rose juga harus berlatih pedang sekaligus menguasai elemen air meski itu tidak harus sepenuhnya menguasainya.
Kini keempat anak muda tadi berdiri disebuah lorong yang masih terbuat dari es bersama Ratu Air.
“Aku akan mengantar kalian ke kamar tidur!” ucap Ratu Air yang masih berjalan anggun dan pelan dengan senyuman manis.
__ADS_1
“Em, ratu! Bagaimana kalau anda mengantar Rose dan Emily, sementara aku dan Robin diantar oleh Ivy!” ujar Jhon yang lagi-lagi menyempatkan diri untuk bisa dekat dengan Ivy.
“Aku rasa itu tidak perlu.” Balas Robin menolak tanpa diskusi dengan Jhon. Mendengar penolakan dari Robin, Seketika Jhon memberikan kode kearah Robin dengan mengedip-edipkan kedua matanya.
“Itu pasti akal-akalan Jhon!” bisik Emily ke Rose yang hanya tertawa kecil. Sedangkan Ratu Air sama sekali tidak keberatan dengan tawaran Jhon tadi.
“Okay, sesuai permintaan Jhon!” ucap Ratu Air tersenyum lebar kearah Jhon yang juga tersenyum puas. Ratu Air memanggil Ivy detik itu juga dan menyuruh wanita cantik itu memandu Jhon dan Robin menuju kamarnya. Ya! Meski Robin sedikit tidak mau akan tawaran Jhon tadi, namun dia pria pendiam yang tak mau banyak omong seperti Jhon.
Dalam perjalanan menuju kamar, Jhon selalu mengajak Ivy berbicara dan hal itu membuat Robin merasa dikacangin.
“Oh, iya! Sudah berapa lama kau menjadi asisten Ratu Air?” tanya Jhon seraya menaruh kedua tangannya di belakang tubuh layaknya pria elegan. Sementara Robin berjalan biasa di belakang Jhon dan Ivy.
“Sejak umurku lima tahun, aku sudah dilatih oleh ratu air!” balas Ivy tersenyum tipis.
“Oo...! Jadi, apa kau suka berbicara dengan pria sepertiku?!” tanya Jhon percaya diri tanpa rasa malu.
“Aku suka menjawab pertanyaan dari semua orang yang bertanya dan berbicara padaku!” jawab Ivy masih tersenyum.
“Benarkah, jadi kau— ” Belum sempat selesai, tiba-tiba Robin menghentikan obrolan Jhon.
“Sudah hentikan, jangan membuatnya tidak nyaman akan keberadaan mu.” Ujar Robin tanpa tersenyum. Ucapan Robin seperti ejekan bagi Jhon tapi bagi Ivy itu lawakan hingga membuatnya tertawa kecil seraya menutup mulutnya. Baru pertama kali, Ivy bisa tertawa, meski itu kecil dan tidak lama.
BERSAMBUNG.............
____________🌹🌹🌹___________
MAAF YAAA MUNGKIN AKU TIDAK AKAN UP UNTUK SEMENTARA, KARENA ADA KENDALA. JANGAN LUPA JEJAK SEMANGATNYA. LIKE AND COMENT TERIMA KASIH AND SEE YOU....🤗🤗
__ADS_1