
Ke-13 orang tadi segera turun dari kapal buatan mereka dan harus berjalan hingga menuju istana Ratu Api. Namun, mereka harus melewati sebuah desa yang konon katanya terkenal akan rock family life.
Ya! Itu adalah salah satu desa normal yang juga ditempati oleh manusia normal pada umumnya, namun juga di tempati oleh penghuni orang-orang yang seluruh tubuhnya dari batu, memang mereka adalah orang batu yang bisa bicara layaknya seorang manusia.
Ukuran mereka juga lebih pendek dari manusia normal biasanya. Mereka juga sangat baik dan ramah, hampir setiap harinya tidak ada yang namanya pertengkaran atupun pencuri disana, desa yang sangat terjaga dengan baik.
Kini Rose beserta orang-orang yang bersamanya, mulai menelusuri jalanan di hutan lepas. Akibat kapal yang rusak, para perompak hanya bisa berjalan mencari kapal baru di desa-desa tetangga.
Guiracocha dan Actassi memimpin perjalanan mereka, berjalan lebih depan melewati semak-semak panjang sehingga mereka harus siap siaga membawa pisau besar untuk memotong semak-semak tersebut.
Sementara Jack, Jhon dan Teach berjalan paling belakang.
“Ini sangat melelahkan.” Ucap Bonny yang tidak terbiasa berjalan jauh. Para perompak itu lebih suka berlayar menggunakan kapal daripada harus jalan kaki.
“kita harus menahannya, Bon! Sabar.” Balas Clisson tersenyum tipis menatap Bonny seraya memegang pundak gadis itu.
“Aku lapar, aku lapar, aku lapar .....” Suara serak dari seekor burung Beo milik Beryl yang setia berdiam diri di bahu wanita pecinta alkohol itu.
“Jangan mulai, kau sudah makan banyak.” Balas Beryl berbincang dengan burungnya.
“Aku lebih suka ketika dia mengobrol dengan Bobo, daripada melihat dia membawa botol kesana kemari!!” ucap Clisson kepada Rose, Robin, Emily, Bonny dan Read yang kebetulan berjalan di dekat Clisson. Mereka yang mendengar perkataan Clisson tertawa kecil, kecuali Robin yang selalu cuek dengan semua itu.
***
Kerajaan Peacland
“Lotus.....” Panggil Ratu Revana dengan begitu keras seperti raksasa.
“Ada apa Ratu?” tanya Lotus yang kini tiba-tiba datang menghadap tanpa adanya tanda-tanda kedatangan.
__ADS_1
“Aku ingin melihat mangsa kecilku saat ini.” Pinta Ratu Revana seraya mendongak.
“Tidak bisa Ratu!”
“Why?” memasang wajah marah ketika Lotus menolak permintaannya.
Lotus hanya tersenyum muka seram menatap Ratu Revana yang kini melotot karena marah akan penolakan Lotus.
“Aku perlu memulihkan kekuatanku lagi setelah melihat seseorang.”
“Mmmm... It's okay. Lakukan! Dan menyingkir lah dari hadapanku. Lotus mengangguk dan berjalan mundur dua langkah, lalu pergi dengan langkah cepat dan wajah malasnya.
Terakhir kali dia mencoba memperlihatkan Rose atau mangsa Ratu Revana itu, semuanya tidak terlihat karena ada kekuatan lain yang menutupinya. Kekuatan Lotus kalah hebat dengan milik Magema yang seorang penyihir.
Di sebuah hutan yang begitu besar. Terlihat langit yang mulai gelap kembali menyelimuti sekitar, dan hanya terlihat sebuah bulan yang utuh berbentuk bulat namun bukan bulan purnama.
“Kita istirahat dulu!” pinta Papa Pirate.
Bunyi gemericik dari api unggun, menyelimuti keheningan mereka yang kini hanya menatap ke arah api tersebut. Jhon, Jack, Teach, Bonny mulai tertidur pulas. Ada yang posisi duduk, juga ada yang terbaring di sembarang tempat yang penting bisa santai sejenak.
“Kalian tidak takut jika Ratu Revana mengirim semacam monster atau.... Ya, kalian tahu' kan!” tanya Clisson yang selalu penasaran akan empat orang sungguh berani harus melawan ratu yang terkenal akan kejahatan, kejam dan kuat.
“Em, ya! Sejujurnya kami takut. Tapi jika dipikir kembali, untuk apa takut benarkan, Rose!” balas Emily menyenggol pelan Rose yang duduk di sebelahnya. Kedua wanita itu tersenyum kecil.
“Aku butuh minuman, guys! Sungguh.” Ucap Beryl yang mulai lagi.
“Revana, Revana, Revana...”
“Diam Bobo, dia akan menggoreng mu.” Pinta Beryl yang pusing sendiri mendengar suara Beo.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Suara kicauan burung menyelimuti seisi hutan, menggema di seluruh hutan hingga menjadikannya seperti sebuah alarm untuk membangunkan Rose beserta yang lainnya.
Untung saja tidak ada yang menyerang mereka semalam. Meski semuanya tidak sadar bahwa mereka semua tertidur pulas tanpa ada yang berjaga. Setelah berkemas kembali, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Hari demi hari, waktu demi waktu mereka lewati bersama. Sehingga sampailah mereka di sebuah desa yang cukup ramai penduduk, itu adalah desa Nayrats. Lagi-lagi kedatangan mereka semua di sambut dengan tatapan bingung dari para penduduk asli di desa tersebut. Mungkin karena penampilan dari para bajak laut itu? Apalagi mereka semua membawa sebuah senjata di tubuh mereka untuk berjaga-jaga.
“Kita akan kemana? Dan ingin apa datang ke desa?” tanya Jack kepada Guiracocha dan juga Papa Pirate.
“Hanya satu hari kita bisa bermalam di sini.” Jawab Papa Pirate yang masih sibuk menatap lurus. Jack mengangguk faham.
“Setidaknya disini kita tidak kesulitan mencari makanan.” Sambung Actassi.
Mereka semua mengerti dan itu ide yang bagus. Saat tidak tahu harus berjalan kemana lagi, karena tempat itu asing bagi mereka, apalagi Rose. Rose beserta yang lain hanya bisa berdiri diam di tengah jalan, menoleh ke kanan, kiri, depan dan belakang untuk mencari tempat yang bisa mereka kunjungi.
“Hey. Come here!” panggil seorang pria bertubuh bulat dan tinggi dari arah sebuah bar terbuka, namun pengunjung bisa masuk ke dalam rumah tersebut.
Pria itu tidak sendirian, melainkan ada ketiga temannya yang juga asik bermain permainan seperti catur, namun di sana namanya bukanlah catur, melainkan Checkmate.
“Kalian orang asing bukan? Kalian seorang perompak?” tanya pria yang tadi memanggilnya.
“Iya! Beberapa dari kami seorang pengembara.” Jawab Actassi. Para pria tadi memandangi penampilan orang-orang yang ada di belakang Actassi, begitu mengerikan, apalagi penampilan dari Papa Pirate.
“Kalian bisa masuk dan bersantai sejenak, menikmati minuman segar di desa kami!” sambut para pria tadi dengan ramah. Actassi tersenyum tipis, lalu menuruti ucapan pria bertubuh bulat dan tinggi tadi.
Mereka semua memutuskan untuk masuk ke dalam. Betapa tertegunnya ketika melihat luasnya tempat tersebut, padahal dari luar terlihat kecil, namun dalamnya begitu luas dan sangat nyaman.
Bergaya seperti vintage, bar yang begitu bagus, tidak salah jika para orang asing yang biasa datang ke desa Nayrats selalu berkunjung di rumah bar tersebut.
__ADS_1
Mereka semua duduk berjajar di sofa panjang, ada juga yang duduk berpisah. seperti halnya Rose beserta para wanita duduk di depan pembuatan minuman langsung.
“Tempat ini sangat bagus!” ucap Emily di balas dengan senyuman dari Rose, Read, Clisson, Bonny dan juga Beryl.