Sadistic Of Love

Sadistic Of Love
Waktumu Sudah Habis


__ADS_3

Sementara itu di Jepang, Demian dan Ronald berjalan memasuki perusahaan dengan wajah datar. Kedatangan mereka membuat kaget semua karyawan disini. Sebelumnya memang tidak ada kabar kalau Demian akan datang ke negara ini. Dia sengaja meminta Ronald untuk merahasiakan kedatangan mereka karena ingin menangkap tikus-tikus yang berkeliaran di perusahaan miliknya.


" Ronald, apa kau sudah memberi kabar pada ibuku kalau kita sudah sampai di Jepang ? " tanya Demian saat mereka berada di dalam lift.


" Sudah Tuan. Saya langsung menghubungi Nyonya Medina begitu pesawat kita tiba disini " jawab Ronald.


Demian mengangguk. Satu tangannya dia masukkan ke dalam saku celana.


" Apa kau membawa bukti-bukti itu ? " tanya Demian lagi.


" Ya Tuan, saya sudah membawanya. Ini semua berkas yang berisi bukti kecurangan Tuan Tanaka yang telah di kumpulkan oleh orang-orang kita Tuan ! " jawab Ronald sambil menyerahkan berkas itu pada tuannya.


Demian menerima berkas tersebut kemudian membacanya. Matanya tiba-tiba memerah.


" Ronald, apa saja yang kau lakukan sampai perusahaan bisa kecolongan seperti ini. Sepertinya kau sudah tidak menginginkan nyawamu lagi ya ! " tanya Demian emosi.


Demian merasa sangat kecewa dengan kelalaian yang di lakukan oleh Ronald.


" Maafkan keteledoran saya Tuan. Saya tidak akan mengulanginya " jawab Ronald lalu menundukkan kepala.


" Kau tau aku bukanlah orang yg mudah memaafkan kesalahan orang lain. Tidak juga dirimu, Ronald.


Aku tidak sebaik itu ! ".


Ting.


Pintu lift terbuka. Demian segera berjalan keluar dari dalam lift dengan wajah yang sangat marah.


" Saya pantas menerima hukuman atas kelalaian saya, Tuan Demian ! " ucap Ronald.


Demian menghentikan langkahnya. Dia lalu menoleh kearah Ronald.


" Baiklah, karena kelalaianmu itu hari ini kau akan sangat sibuk. Hancurkan seluruh Keluarga Izikawa dan jangan sisakan satupun diantara mereka. Jika ada yang coba-coba untuk menjadi pahlawan kesiangan, buat orang itu lenyap dari muka bumi ini beserta seluruh keturunannya ! " perintah Demian.


" Baik Tuan ".


Demian kembali melanjutkan langkahnya setelah memberikan perintah pada Ronald. Mereka kini berjalan menuju ruang rapat. Sebelum datang ke perusahaan, Ronald telah memerintahkan orang kepercayaannya di perusahaan ini untuk meminta para pemegang saham dan semua investor supaya berkumpul di ruang rapat.


Di dalam ruang rapat itu sendiri seluruh dewan direksi tengah duduk kebingungan. Tidak ada ada satupun dari mereka yang mengetahui alasan kenapa mereka tiba-tiba di minta untuk berkumpul di ruang rapat.


Braaakkkkk.


Semua orang yang berada di dalam ruangan terperanjat kaget saat ada orang yang menendang pintu ruangan dari luar. Mata semua orang terbelalak kaget saat melihat siapa yg datang. Masing-masing diantaranya bertanya dalam hati ada gerangan apa yang terjadi sehingga si singa penguasa ini tiba-tiba muncul di depan mereka.

__ADS_1


Demian berjalan kearah kursinya dengan tatapan marah. Kemarahannya semakin bertambah saat ujung matanya melihat para tikus itu sedang duduk santai di kursi ruangan ini.


" Kita mulai rapatnya ! " ucap Demian kemudian duduk di kursi paling depan.


Sementara Ronald sendiri memilih untuk berdiri di belakang tuannya.


" Aku mendengar ada beberapa dari kalian yang berkonspirasi untuk menggulingkan kedudukanku di perusahaan ini. Ada juga laporan yang sampai ke telingaku kalau sekarang banyak bermunculan tikus-tikus kotor yang berusaha merusak reputasi perusahaan. Tikus-tikus itu juga membuat perut mereka buncit dengan melakukan penggelapan uang di perusahaan milikku. Benar begitu Ronald ? " tanya Demian sambil memperhatikan satu-persatu wajah semua orang.


" Benar sekali Tuan " jawab Ronald datar.


" Tuan Tanaka, bisakah kau katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada perusahaan ? " tanya Demian sambil menatap tajam pimpinan perusahaan Izikawa.


" Apa maksud anda Tuan Demian? Apa anda menuduh saya melakukan konspirasi itu ? " kilah Tanaka berusaha untuk tetap tenang.


Bibir Ronald dan Demian sama-sama menyeringai. Meskipun suara Tanaka terdengar cukup tenang, tapi kegelisahan di dalam matanya tidak bisa lolos dari mata elang milik Demian.


" Menurutmu ? ".


" Tuan Demian, kita ini sama-sama seorang pembisnis. Bukankah perusahaanku akan rugi besar jika aku melakukan kecurangan seperti itu? Lagipula perusahaan kita terikat sebuah kontrak kerjasama. Saya tidak sebodoh itu untuk menghancurkan perusahaan saya sendiri, Tuan Demian! " jelas Tanaka.


" Kau benar sekali Tuan Tanaka. Perusahaanmu akan hancur kalau kau berani berbuat curang di belakangku.


Tapi....


" Bisakah kau menjelaskan padaku tentang semua bukti-bukti kecurangan ini ? " tanya Demian kemudian menoleh kearah Ronald.


Ronald segera berjalan kearah kursi Tanaka sambil membawa sebuah berkas di tangannya. Dengan tangan gemetar, Tanaka menerima berkas tersebut kemudian membacanya.


" Ini, ini bagaimana mungkin? Darimana kau mendapatkan ini semua. Ini pasti jebakan. Ya, aku pasti di jebak ! " teriak Tanaka panik kemudian berdiri sambil menunjuk kearah Demian.


Demian mencegah Ronald yang ingin maju kearah Tanaka karena marah atas kelancangannya.


" Menjebakmu, hahahhahaha ! " tawa Demian.


Tanaka menjadi semakin panik melihat Demian tertawa. Dia tidak menyangka kalau semua kecurangannya akan terbongkar seperti ini.


" Apa matamu itu sudah buta hahhh. Bukankah kau sendiri yang membaca berkas itu ? " ejek Demian masih di sertai gelak tawa yang menggema.


Tanaka mengepalkan kedua tangannya. Dia merasa sangat frustasi sekarang. Selama ini dia sudah berusaha menutupi kecurangannya sebaik mungkin. Pikiran Tanaka lalu mulai bertanya-tanya darimana Demian mendapatkan sumber tentang bukti-bukti itu.


" Darimana kau mendapatkan bukti-bukti itu ? " tanya Tanaka ingin tahu.


" Apa kau pikir aku tidak akan tau apa yang telah kalian lakukan di belakangku hahhh ! " bentak Demian sambil menggebrak meja.

__ADS_1


Mata Demian menjadi merah menyala karena terlalu emosi dengan sikap Tanaka yang masih tidak mau mengakui perbuatannya.


" Tuan Demian, anda tidak perlu membuang-buang tenaga anda. Biar saya saja yang membereskan pria tidak tahu diri itu ! " ucap Ronald dingin.


Demian menoleh kearah Ronald kemudian mengangguk. Setelah mendapatkan persetujuan dari tuannya, tangan Ronald segera bergerak cepat. Dia mengirimkan sebuah pesan pada seseorang di luar sana.


" Waktumu bermain sudah habis Tanaka. Sekarang giliranku untuk memegang kendali atas permainan ini ! " ucap Demian dengan smirk di ujung bibirnya.


Semua orang menelan ludah takut akan perkataan Demian barusan. Wajah mereka terlihat sangat tertekan.


Tak lama kemudian terdengar deringan ponsel milik tujuh orang yang berada di dalam ruangan ini. Tujuh orang yang akan masuk dalam daftar kehancuran karena sudah menyinggung kemarahan si singa penguasa.


" Apaaaaa !! Kenapa bisa seperti itu ! " teriak Tanaka kaget begitu dia mengangkat panggilan di ponselnya.


Enam orang lainnya juga tak kalah kaget seperti Tanaka. Mereka bertujuh kini jatuh terduduk diatas lantai dengan tatapan mata tak percaya dengan kabar yang baru saja mereka terima.


" Bagaimana, apa kalian menyukai permainanku ? " tanya Demian dingin.


Tanaka tersadar dari keterkejutannya saat mendengar suara datar milik Demian. Cepat-cepat dia berdiri kemudian menghampiri Demian yang duduk dengan wajah dinginnya.


" Tuan Demian, tolong hentikan perbuatan Tuan Ronald yang ingin menghancurkan perusahaanku ! " ucap Tanaka memohon.


Demian berdecih.


" Jangan harap. Ini adalah balasan untuk orang-orang yang berani memprovokasi kemarahanku. Nikmatilah kehancuran kalian sekarang. Kau dan keluargamu akan segera tamat, hidupmu sudah berakhir Tanaka ! " sahut Demian tak mempedulikan permohonan Tanaka.


Demian kemudian menatap tajam kearah dewan direksi lainnya. Dia lalu memberikan peringatan pada mereka semua sebelum meninggalkan ruang rapat ini.


" Jika diantara kalian ada yang tertangkap mencoba membantu pengkhianat-pengkhianat ini, maka bersiaplah menerima nasib yang jauh lebih buruk dari mereka. Apa kalian mengerti ! " teriak Demian.


" Kami mengerti Tuan ! ".


Setelah membereskan tikus-tikus di perusahaannya, Demian dan Ronald segera pergi dari sini. Mereka keluar dari ruang rapat dengan wajah yang terlihat sangat menakutkan. Membuat para karyawan yang berpapasan dengan mereka berdua menunduk ketakutan tanpa berani menyapa.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


πŸ’Pemberitahuan: Novel ini sedang dalam tahap revisi ulang. Jalan cerita dalam novel ini sengaja author ganti dengan jalan cerita yang baru. Author mendadak hilang fokus pada alur cerita yang sebelumnya. Nama tokoh dalam novel ini juga ada beberapa yang author ganti. Jadi untuk para pembaca yang budiman harap maklum kalau cerita ini belum menyambung dengan part yang sudah di upload sebelumnya. Terima kasih...


πŸ’ Jangan lupa untuk selalu vote, vote, vote, vote, vote, vote sebanyak-banyaknya


πŸ’like, comment dan rate bintang lima


πŸ’ig: nini_rifani

__ADS_1


πŸ’fb: Nini Lup'ss


__ADS_2