Sadistic Of Love

Sadistic Of Love
Bab 18 # HARI PERTEMUAN


__ADS_3

Pagi ini, aku dan Tuan William bersiap2 untuk melakukan pertemuan dengan CEO perusahaan Clovist.


Aku berulang kali menepuk dadaku yg terus berdebar.


Belum juga bertemu tapi jantungku rasanya sudah seperti mau keluar.


"Sheril, apa semua dokumennya sudah siap"?? Jangan sampai ada kesalahan. Orang yg akan kita temui bukan orang sembarangan " ingat tuan William padaku.


"Semua sudah siap, Tuan. Hanya kurang Pak Miko saja " jelasku berusaha menghilangkan kegugupanku.


"Kau ini. Pak Miko sedang memiliki tugas lain.


Jadi, hanya kita berdua yg akan menemui mereka " jelasnya.


Aku menganggukkan kepalaku. Kami bergegas menuju perusahaan mereka setelah masuk kemobil.


Sekitar 1 jam diperjalanan akhirnya kami sampai.


Aku masuk terlebih dahulu lalu menemui resepsionis disini.


"Selamat pagi nona, ada yg bisa kami bantu "?? tanya mereka ramah.


" Selamat pagi. Saya perwakilan dari perusahaan Amari. Kami sudah membuat janji dengan Tuan David " jawabku.


"Kalau begitu mohon tunggu sebentar nona ".


Mereka lalu menghungi seseorang, mengabarkan tentang kedatangan kami.


" Mari nona, silahkan "..


Aku memberitahukan pada Tuan William yg sedang duduk di lobi. Resepsionis itu mengantarkan kami kedalam.


Perusahaan ini begitu besar dan megah. Wajar sekali jika setiap pengusaha berharap bisa bekerjasama dengan perusahaan ini. Tak terkecuali perusahaan tempatku bekerja.


Dan pemilik dari perusahaan ini adalah pria yg sangan kucintai.


****


" Tuan, pagi ini ada pertemuan dengan CEO perusahaan Amari ".


Aku diam mendengarkan perkataan Ronald.


" Bagaimana mereka?? tanyaku sambil mengecek beberapa dokumen dimeja.


"Sejauh ini tidak ada yg mencurigakan dengan perusahaan itu. William Amari terkenal pembisnis yg cukup bersih dan jujur. Saya rasa, bekerjasama dengan mereka bisa menguntungkan perusahaan kita Tuan " jelas Ronald.


"Baiklah. Jam berapa pertemuan diadakan??.


" Sebentar lagi Tuan. Seharusnya mereka tidak membuat anda menunggu ".


Aku tersenyum mendengar ucapannya. Ronald sangat tau apa yg ku pikirkan. Bahkan hanya dengan membuang nafas saja dia tau apa yg harus dilakukan.


Handphone Ronald berdering, dia lalu mengangkatnya.

__ADS_1


" Antarkan mereka kemari " ucap Ronald lalu mematikan sambungan telfonnya.


"Mereka sudah tiba Tuan " ucap Ronald setelah mematikan telfonnya.


Aku menganggukkan kepalaku lalu segera berdiri menuju sofa.


Kami akan melakukan rapat diruanganku.


Tokk.. tookk.. tookk..


"Masuk " jawab Ronald.


Aku melihat kearah orang yg baru saja memasuki ruanganku.


"Gadis itu "


Batinku saat melihat seorang gadis berdiri disamping pria yg sedang berjabat tangan dengan Ronald.


"Selamat pagi Tuan David " sapa pria yg bernama William itu.


Aku menganggukkan kepalaku tanpa menbalas sapaannya.


Ronald mempersilahkan mereka duduk didepanku.


Mataku sedikit melirik kearah gadis itu. Dan lagi2 gadis itu hanya menundukkan kepalanya setelah menyapaku tadi.


"Silahkan dimulai saja Tuan William ".


Aku mendengarkan penjelasan didalam kontrak itu. Mulai dari keuntungan yg akan kudapatkan, dan syarat2 yg harus disepakati.


" Tuan William, bisakah saya membaca kembali dokumen itu. Saya ingin memastikan sekali lagi jika disana tidak ada kecurangan yg akan merugikan perusahaan saya ".


Aku tidak tau kenapa, rasanya aku tidak ingin gadis ini cepat2 pergi dari hadapanku.


" Tentu saja boleh Tuan David " jawabnya.


Ronald lalu mengambil dokumen itu lalu menyerahkannya padaku.


Aku membaca satu persatu kata yg tertera didalam dokumen ini.


Tanpa kusadari, gadis itu menatap kearahku.


Akhirnya aku bisa dengan jelas melihat wajahnya saat tanpa sengaja pandangan kami bertabrakan.


Gadis itu terkejut lalu kembali menundukkan kepalanya.


"Gadis aneh " batinku.


"Tidak ada masalah dengan dokumen ini. Saya setuju untuk bekerjasama dengan perusahaan anda, Tuan William" ucapku setelah selesai membaca dokumen.


Sebenarnya, aku tidak perlu sampai mengecek ulang kontraknya. Aku sudah menentukan keputusanku saat mereka selesai membacakan kontraknya tadi. Ini hanyalah alasanku saja.


"Terima kasih Tuan David " ucapnya lalu berdiri untuk berjabat tangan denganku.

__ADS_1


Aku menyambut jabat tangan darinya. Mataku kembali melirik pada gadis yg saat ini menatapku sambil tersenyum.


Sedetik aku merasa seperti tersihir melihat senyumnya. Aku merasa seperti pernah melihat senyuman seperti ini. Tapi aku lupa dimana dan siapa.


"Kalau begitu kami permisi Tuan David. Keseluruhan kontraknya akan segera saya kirimkan pada anda ".


Aku menganggukkan kepalaku. Mereka segera keluar dari ruanganku diantar oleh Ronald.


Ronald kembali masuk kedalam lalu mengatakan jadwal pekerjaanku hari ini.


****


Jantungku semakin berdetak kencang saat mendengar suara dari dalam ruangan ini.


Aku segera membuka pintu lalu mempersilahkan Tuan William untuk masuk terlebih dahulu.


Seorang pria berwajah datar menyambut kedatangan kami.


Tuan William lalu berjabat tangan dengan pria itu.


" Dia dimana?? Apa pria ini yg akan menggantikan dirinya " desahku kecewa.


"Selamat pagi Tuan David" sapa Tuan William.


Aku terkejut mendengar Tuan William menyebut namanya. Mataku menatap kearah depan. "Ternyata dia duduk disana. Pantas aku tidak melihatnya tadi " batinku sambil membungkukkan badan menghormatinya.


Aku menundukkan kepalaku, tidak berani menatapnya.


Aku hanya duduk diam mendengarkan negosiasi mereka.


"Aku pikir aku tidak bisa melihatnya pagi ini. Dia selalu saja tampan. Andai dia tau perasaanku " gumamku dalam hati.


Saat dirinya sedang membaca dokumen itu, aku memberanikan diri untuk menatapnya.


Wajahnya sangat serius saat memeriksa dokumen itu ditambah kacamata yg membikai kedua matanya membuatnya terlihat semakin tampan.


Aku terkejut saat tiba2 dirinya menatap kearahku.


Aku tertunduk malu saat ketahuan sedang menatapnya diam-diam.


Akhirnya mereka memutuskan menerima kontrak yg kami ajukan. Saat ini dia dan Tuan William saling berjabat tangan.


Aku tersenyum lega melihat pekerjaan yg berjalan mulus.


Kami akhirnya pergi meninggalkan ruangan ini setelah berpamitan dengannya.


Tuan William terlihat sangat senang saat meninggalkan perusahaan ini.


"Saya tidak menyangka Tuan David akan menyetujui kontrak kerjasama ini begitu cepat. Benar2 sebuah keberuntungan " ucap Tuan William saat kami sudah didalam mobil.


"Benar sekali Tuan. Ini semua berkat kepiawaian Tuan dalam berbisnis. Sekali lagi selamat atas kerjasama ini ".


Aku ikut senang dengan kabar ini. Bahkan sekarang perusahaanku dan miliknya memiliki kontrak kerjasama. Tidak menutup kemungkinan aku akan bertemu lagi dengannya dalam rapat2 yg akan datang.

__ADS_1


__ADS_2