
"Akhirnya semua beres " ucapnya.
Sheril menyeka keringat di dahinya sambil melihat sekeliling kamar yg baru saja dia rapikan. Mulai sekarang dia akan kembali tinggal di kamar lamanya.
Sheril lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur. Ternyata sangat lelah jika harus pindah-pindah tempat.
"Untung ada Kak Naya dan Reina yg membantuku, bisa jatuh pingsan jika aku melakukan ini semua sendirian ".
drrrtt... drrtt...
Sheril mengambil handphonenya yg bergetar di atas meja. Dia kaget saat melihat siapa yg menelfonnya.
" Tante Medina "???
Sheril bingung mau mengangkat panggilan ini atau tidak. Di satu sisi, dia ingin menanyakan tentang keadaannya, tapi di sisi lain dia juga takut pada ancaman David.
" Bagaimana ini, diangkat atau tidak ya"?? ucap Sheril lagi.
Akhirnya dia memutuskan untuk mengangkatnya. Toh, ini hanya bicara lewat telfon saja, tidak menemuinya langsung.
Saat akan mengangkatnya, panggilan itu mati. Sheril terpaku melihat layar handphonenya yg kembali berwarna gelap.
"Sheril, kau sudah selesai belum,?? Kakakmu memintamu segera turun makan siang " teriak Reina dari lantai bawah.
Sheril yg tadi sedang melamun kaget saat mendengar panggilan Reina. Dia meletakkan handphone nya diatas meja lalu segera turun ke bawah.
"Pelan-pelan saja, perhatikan kakimu " ingat Reina saat melihat Sheril berjalan menuruni tangga.
"Iya, aku akan berhati-hati. Kau ini cerewet sekali Rei, seperti Kak Naya saja " ledek Sheril.
"Karena kau terkadang ceroboh, jadi jangan salahkan aku kalau cerewet padamu " jawab Reina.
Sheril tertawa lalu berjalan bersama Reina menuju ruang makan. Di atas meja sudah tersedia beberapa makanan. Mereka segera duduk sambil menunggu Naya.
__ADS_1
"Kak Naya dimana Rei "?? tanya Sheril yg tidak melihat kakaknya.
" Entahlah, kakakmu itu dari tadi sibuk mondar mandir kesana kemari. Sepertinya dia sedang membersihkan debu rumah ini menggunakan kakinya ".
" Kau ini, jika dia mendengarnya dia pasti akan mengomel padamu " ucap Sheril sambil tertawa.
"Dan sekarang aku sudah mendengarnya ".
Naya tiba-tiba muncul dari belakang Sheril dan Reina. Tangannya dia lipat di dadanya.
" Bukan aku kak, Reina yg bilang ".
" Jadi Reina sayang, bisa tolong jelaskan siapa yg kamu maksud sedang membersihkan debu dengan kakinya "?? protes Naya sambil duduk di sebelah Sheril.
" Hehe, aku hanya bercanda Nay " jawab Reina sambil tertawa.
Naya mendengus mendengar jawaban Reina. Lalu dia segera mengambilkan makanan ke piring Sheril. Reina hanya diam memperhatikan apa yg dilakukan Naya.
"Kau harus makan yg banyak Sher. Tubuhmu harus kuat supaya bisa melawan penjahat " ucap Naya.
"Iya kak, aku akan makan sangat banyak sekarang. Kakak bersiaplah untuk sering memasak untukku " jawab Sheril yg lega melihat Reina yg mengerti apa maksud tatapannya.
"Dengan senang hati " jawab Naya.
Mereka bertiga makan dengan lahap. Perut mereka lumayan kelaparan karena tenaga mereka terkuras saat membereskan barang-barang dari apartment Sheril dan memindahkannya ke rumah ini.
"Kak, aku besok akan mulai bekerja lagi. Aku sudah cukup lama cuti dari pekerjaanku " ucap Sheril di sela-sela makan siangnya.
"Apa kau yakin,?? Bukankah kakimu belum sembuh benar "?? tanya Naya menghentikan makan siangnya.
" Iya Sheril, kau lebih baik istirahat saja dulu. Kalau kau di pecat kan masih ada perusahaan kakakmu. Atau kalau kau mau kau bisa bekerja di perusahaan ayahku " timpal Reina yg khawatir jika Sheril bekerja lagi.
"Benar apa yg dikatakan Reina sayang "!!.
__ADS_1
" Tapi kak, Rei, aku sangat menyukai pekerjaanku. Dan juga Tuan William sangat baik padaku selama ini. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja kak " jelas Sheril.
Naya diam mendengar penjelasan adiknya. Sebenarnya dia masih belum tega jika Sheril kembali bekerja. Apalagi jika kakaknya tau, kakaknya pasti lebih tidak tega lagi melihat adik kesayangan mereka bekerja. Uang mereka tidak akan habis jika hanya untuk memenuhi kebutuhan Sheril.
"Boleh ya kak "?? .
" Tapi Sher, kakak sangat mengkhawatirkanmu. Bagaimana jika ada yg melukaimu lagi seperti kemarin,??
Kakak tidak bisa melihatmu seperti itu " jawab Naya sedih.
Reina menggenggam tangan Sheril yg mulai berkeringat dingin. Dia tau Sheril sedang khawatir, takut jika kakaknya akan menanyakan perihal luka-luka di tubuhnya. Jadi dia berusaha menenangkan Sheril.
"Percaya pada Sheril kak, aku akan menjaga diri baik-baik. Aku tidak akan membuat kakak khawatir lagi ".
" Nay, biarlah Sheril melakukan apa yg dia mau. Dia terbiasa hidup mandiri bukan selama ini,??
Kau bisa mengawasinya dari jauh "!! ucap Reina membantu Sheril meyakinkan kakaknya.
Naya menatap Sheril dan juga Reina. Entah kenapa perasaannya mengatakan jika mereka menyimpan rahasia darinya. Mereka seperti tidak ingin dia membicarakannya.
" Baiklah kalau itu maumu. Tapi jika kau kembali terluka, kakak tidak akan mengizinkanmu bekerja lagi. Kau mengerti kan "??.
Naya akhirnya mengizinkan Sheril bekerja walaupun hatinya masih begitu khawatir. Tapi dia juga tidak mau melihat adiknya sedih. Dia tau adiknya sudah sangat bosan selama istirahat dirumah.
" Baiklah kak aku mengerti ".
Mereka lalu kembali melanjutkan makan siang mereka. Naya kembali memberikan petuah dan melarang Sheril melakukan beberapa hal. Reina hanya tersenyum melihat Naya yg begitu posesif pada adiknya.
Setelah menyelesaikan makan siang, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Sheril mengambil handphonennya untuk mengecek email dari Ika tentang pekerjaannya.
Ternyata ada sebuah pesan untuknya. Sheril lalu membuka pesan itu dan membacanya.
__ADS_1
Dia diam setelah membaca pesan lalu membaringkan tubuhnya sambil terus memikirkan isi pesan itu. Tanpa sadar dirinya terlelap tidur.