
Bruuugghhhh
" Awwww ! ".
Sheril jatuh terduduk diatas lantai saat ada seseorang yang tiba-tiba menabraknya dari arah depan. Dia meringis sambil memegangi sikutnya yang mengenai pot bunga.
" Ya Tuhan, apa kau baik-baik saja nak? ".
Sheril menatap kearah orang yang baru saja menabraknya. Matanya membulat kaget.
" Kenapa Bibi Medina ada disini ? " batin Sheril.
" Dimana yang sakit nak ? Apa kita perlu pergi ke dokter ? " tanya Medina bertubi-tubi sambil melihat cemas kearah gadis yang tidak sengaja dia tabrak.
" Ti, tidak perlu Nyonya, saya baik-baik saja. Hanya sedikit tergores " jawab Sheril dengan gugup.
" Benarkah ? " tanya Medina cemas.
Sheril mengangguk. Dia lalu menerima uluran tangan wanita itu yang ingin membantunya berdiri.
" Kau yakin tidak mau pergi ke dokter ? " tanya Medina lagi.
Medina merasa tidak enak pada gadis cantik ini. Dia tadi sedang sibuk memainkan ponsel jadi tidak terlalu memperhatikan jalan dan akhirnya menabrak gadis ini saat di depan pintu masuk restoran.
" Tidak perlu Nyonya. Aku sungguh tidak apa-apa " jawab Sheril sambil tersenyum.
Sheril tidak menyangka akan bertemu dengan ibu Demian disini. Dia tadinya berencana untuk makan siang di restoran ini karena mendadak ingin makan seefood. Dan kebetulan Widia tidak bisa menemaninya. Terpaksa dia pergi seorang diri ke restoran ini.
" Astaga, sikumu berdarah ! " teriak Medina kaget saat tak sengaja melihat kearah tangan gadis ini.
Sheril ikut melihat kearah sikunya. Luka bekas goresan tadi rupanya membuat tangannya berdarah. Pantas sejak tadi sikunya terasa sedikit perih.
" Hanya sedikit tergores saja Nyonya. Nanti aku akan mengobatinya " ucap Sheril tak ingin membuat ibu Demian panik.
" Tidak bisa seperti itu nak. Ayo, kau duduklah terlebih dahulu. Aku akan menyuruh pelayan restoran membelikan obat di apotik ! " sahut Medina kemudian mengajak gadis ini masuk ke dalam restoran.
Medina berteriak memanggil pelayan restoran lalu memberinya uang untuk membelikan obat. Dengan hati-hati Medina membantu gadis ini duduk.
" Siapa namamu nak ? " tanya Medina sambil merapihkan rambut gadis ini yang terlihat sedikit berantakan.
Medina memperhatikan penampilan gadis di depannya ini. Dia mengenakan setelan baju kantor yang terlihat sangat pas di tubuhnya. Medina bisa menebak kalau gadis ini adalah seorang karyawan yang datang kemari untuk makan siang.
" Sheril Nyonya " jawab Sheril sopan.
Medina tersenyum. Dia menyukai kesopanan yang di tunjukkan oleh Sheril.
" Sheril, nama yang cantik. Sama seperti pemiliknya " puji Medina.
Sheril tersenyum malu. Pipinya merona.
__ADS_1
" Nyonya juga sangat cantik ".
Medina tertawa.
" Kau pandai memuji orang Sheril ! ".
Tak lama kemudian, pelayan yang di minta untuk membeli obat akhirnya datang. Dengan cekatan Medina membersihkan luka di siku Sheril kemudian membungkusnya dengan perban. Setelah itu Medina memesan makanan untuk mereka berdua.
" Kau ingin makan apa Sher ? " tanya Medina sambil membuka menu makanan.
Sheril diam berfikir. Dia sampai lupa makanan apa yang ingin dia beli saking senangnya karena bertemu dengan ibu Demian disini.
" Terserah Nyonya saja " jawab Sheril.
" Baiklah ".
Medina kemudian memesan dua porsi makanan yang sama untuknya dan juga Sheril.
" Oh ya Sher, kau bekerja dimana ? " tanya Medina penasaran.
" Aku bekerja di Amary Group Nyonya " jawab Sheril.
" Kau bekerja di bagian apa kalau boleh aku tau ? ".
Sheril tersenyum.
" Aku bekerja sebagai sekertaris Tuan William Nyonya, pemilik Amary Group " jawab Sheril.
" Panggil Bibi Medina saja. Sejak tadi kau terus memanggilku Nyonya ! " ucap Medina sambil menggenggam tangan Sheril.
Entah kenapa Medina bisa langsung menyukai Sheril, padahal ini adalah pertemuan pertama mereka. Medina langsung jatuh cinta pada gadis cantik ini setelah melihat kesopanannya tadi. Cara bicaranya juga terdengar sangat natural dan tidak terkesan di buat-buat seperti kebanyakan gadis lainnya.
" Baiklah Bi " sahut Sheril.
Sheril sedikit kikuk saat ibu Demian terus saja memperhatikan dirinya. Ada perasaan was-was yang muncul di benak Sheril karena khawatir kalau ibu Demian tau jika dirinya dulu pernah pergi meninggalkan anaknya. Sheril takut ibu Demian akan langsung membencinya jika mengetahui siapa dia sebenarnya.
" Kenapa melamun ? " tanya Medina sambil menoel hidung kecil Sheril.
Lamunan Sheril buyar saat pertanyaan ibu Demian mengagetkannya. Dia lalu tersenyum canggung.
" Tidak melamun Bibi. Hanya sedang berpikir kenapa Bibi sangat baik padaku. Padahal kita baru saja bertemu ! " jawab Sheril mengelak.
Medina tersenyum lembut sambil membelai tangan Sheril yang berada di dalam genggaman tangannya.
" Bibi bisa merasakan kalau kau itu gadis yang baik Sheril. Lagipula Bibi juga merasa sangat bersalah karena tidak sengaja sudah melukaimu tadi ! " sahut Medina.
" Bibi, ini hanya luka kecil saja. Bibi tidak perlu merasa bersalah padaku " ucap Sheril tak enak hati.
Medina semakin menyukai karakter Sheril. Timbul niatan di hatinya untuk mengenalkan Demian pada gadis ini.
__ADS_1
" Sheril, siapa nama orangtuamu ? " tanya Medina.
Medina berencana untuk mendekati orangtua Sheril. Siapa tau mereka bisa menjadi besan jika seandainya Demian mau dia jodohkan dengan Sheril.
Sheril menundukkan kepala saat ibu Demian menanyakan tentang orangtuanya.
" Orangtuaku sudah meninggal " jawab Sheril lirih.
Medina menutup mulutnya kaget. Dia merasa bersalah karena sudah membuat Sheril bersedih dengan bertanya tentang orangtuanya.
" Maafkan Bibi Sher, Bibi tidak tau kalau orangtuamu sudah tiada ! " ucap Medina penuh penyesalan sambil menatap lekat ke wajah Sheril yang terlihat murung.
Sheril berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan ibu Demian. Dia tidak mau ibu Demian semakin merasa bersalah padanya.
" Tidak apa-apa Bi. Ayah dan ibu sudah lama pergi dari dunia ini. Mereka meninggal saat aku berusia lima belas tahun ! " sahut Sheril sambil tersenyum.
Medina menghela nafas panjang. Dia merasa sangat kasihan melihat nasib Sheril yang sudah tidak memiliki orangtua lagi.
" Lalu dimana kau tinggal sekarang ? " tanya Medina prihatin.
" Aku tinggal bersama kedua kakakku Bi " jawab Sheril jujur.
Medina mengangguk. Dia lalu membelai kepala Sheril penuh kasih sayang.
" Sheril, kalau kau mau kau boleh menganggap Bibi sebagai orangtuamu " ucap Medina tulus.
Sheril kaget saat ibu Demian berkata seperti itu padanya. Dia lalu menatap seksama kearah ibu Demian. Mencoba mencari kebenaran dari kata-katanya barusan.
" Apa boleh ? " tanya Sheril ragu-ragu.
Jujur saja Sheril memang sangat menginginkan figur seorang ibu setelah kedua orangtuanya meninggal. Meskipun kasih sayang yang di berikan oleh kedua kakaknya tidak pernah kurang sedikitpun.
" Tentu saja boleh. Bibi justru akan sangat senang kalau bisa memiliki seorang anak yang sangat cantik sepertimu ! " jawab Medina penuh semangat.
Sheril segera memeluk ibu Demian dengan perasaan yang bahagia. Mungkin ini terlihat egois, tapi Sheril menganggap ini adalah salah satu jalan untuknya bisa kembali membangun hubungan dengan Demian. Hubungan yang sudah terpisah selama sepuluh tahun lamanya.
" Terima kasih Bi " ucap Sheril setelah melepaskan pelukannya.
" Sama-sama sayang " jawab Medina.
Makanan yang mereka pesanpun akhirnya datang. Sheril dan ibu Demian segera menyantap makan siang mereka dengan penuh kebahagiaan sambil terus berbincang layaknya ibu dan anak. Sesekali Medina mengambilkan lauk lalu memberikannya pada Sheril. Dia benar-benar merasa kalau Sheril adalah putri kandungnya sendiri.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
🍒 Pemberitahuan: Novel ini sedang dalam tahap revisi ulang. Alur cerita novel ini sengaja di rubah dari alur sebelumnya karena author mendadak hilang fokus. Nama tokoh di dalam novel juga ada sebagian yang author ganti. Jadi kepada para pembaca yang budiman harap maklum kalau ceritanya belum menyambung dengan part yang sudah di upload sebelumnya. Terima kasih...
**🍒 Jangan lupa untuk selalu vote, vote, vvoottee, vvvooottteee, like, comment dan rate bintang lima
🍒 ig: nini_rifani
__ADS_1
🍒 fb: Nini Lup'ss
🍒 wa : 0857-5844-6308**