
Aku berjalan-jalan menikmati udara malam. Sudah sangat lama aku tidak menikmati suasana disini.
Aku hanya terus berada didalam ruangan bersama dengan dokter dan obat-obatan.
Setelah sekian tahun akhirnya aku bisa keluar dari ruangan itu.
"Ahhh, segar sekali" ucapku saat menghirup udara malam.
"Sepertinya membeli jajanan untuk menemaniku jalan2 adalah pilihan yg tepat" aku berbicara sendiri sambil menatap sekeliling mencari keberadaan penjual makanan.
"Beli sosis bakarnya dua pak" ucapku saat melihat penjual sosis.
Aku berdiri menunggu sosis buatanku matang.
"Ini non sosisnya" kata penjual sosis itu. Aku segera membayar makananku lalu kembali berjalan menikmati malam sambil menikmati makananku.
Saat itu aku melihat seorang gadis sedang diganggu oleh beberapa pria.
Mereka terus saja menganggunya meskipun gadis itu sudah menangis.
Aku mendekat kearah mereka lalu menarik gadis itu agar berdiri dibelakangku.
"Hey, apa yg kau lakukan?? Kau sudah bosan hidup ya"!!! teriak salah satu dari mereka.
" Dasar ********, beraninya hanya dengan wanita" bentakku kesal.
Bukannya takut mereka malah menertawakanku.
plakkkk...
Aku terdiam saat salah satu dari mereka maju lalu menamparku.
Detik itu juga aku merasa darah ditubuhku mendidih.
Aku menatap kearah gadis yg saat ini sedang terkejut melihatku.
"Kau pergilah. Jangan kembali kesini" ucapku.
Gadis itu segera berlari menjauh dariku. Kebencian dalam hatiku kembali muncul saat mendapatkan kekerasan dari mereka.
Aku menjadi gelap mata lalu menyerang mereka menggunakan kayu yg kutemukan sebelum menghampiri mereka tadi.
"Kalian pikir bisa menyakitiku hah.. Hahhaha,, kalian harus mati ditanganku" aku menggila memukuli salah satu dari mereka.
__ADS_1
Akkhhh.....
Aku berteriak saat mereka berhasil melukai tanganku menggunakan pisau yg mereka bawa.
Mereka segera menolong temannya yg hampir pingsan saat aku menahan darah yg keluar dari luka sayatan itu.
"Dasar wanita sialan. Aku akan memanggil teman-temanku untuk menghabisimu" ancam mereka sambil membawa pergi temannya.
Aku mematung mendengar ancaman mereka. Alarm bahaya seperti berbunyi bersahut2an didalam telingaku. Dadaku tiba2 sesak dan kakiku lemas.
Aku berusaha meninggalkan tempat ini sejauh mungkin. Bayangan masalalu muncul bergantian dikepalaku.
Aku tidak tau kemana arah yg kutuju. Sampai aku tidak sengaja menabrak seseorang.
"Ya Tuhan, apa yg terjadi padamu" teriak seorang wanita yg kutabrak tadi.
"Tolong aku. Mereka,, mereka akan berbuat jahat padaku" ucapku sambil memegang tangannya. Darah terus keluar dari lukaku membuat wajahku mulai memucat.
"Astaga tanganmu berdarah. Ayo ikut aku ke apartment ku" ajak wanita itu sambil mengambil barang nya yg jatuh berserakan.
Dia membawaku masuk kedalam rumahnya. Segera dia mengambil kotak P3K dan mengobati lukaku.
"Apa yg terjadi sampai kau terluka seperti ini?? tanyanya cemas.
" Apakah sakit sekali?? tanyanya lagi.
Aku menggelengkan kepala pada wanita yg sedang menatapku cemas.
"Siapa namamu dan dimana kau tinggal?? tanya wanita ini lagi.
" Aku Reina. Aku tinggal di Royal Garden" jawabku.
"Aku Sheril. Bagaimana kau bisa sampai disini?? Rumahmu cukup jauh darisini".
" Aku sedang menikmati malam ditaman. Aku baru saja pulang dari luar negeri. Dan aku sedikit lupa dengan jalanan disini. Aku tersesat saat berlari tadi " jelasku.
"Lalu apa yg terjadi?? Kenapa kau bisa terluka?? tanyanya lagi sambil membungkus lukaku dengan perban.
" Aku hanya membantu seorang gadis yg diganggu beberapa pria. Mereka lalu menyerangku dan aku berusaha kabur dari kejaran mereka ".
Wanita ini menutup mulutnya saat mendengar ceritaku. Dia berlari kearah belakang lalu memberikan aku segelas minuman.
" Minumlah, kau pasti sangat ketakutan" ucapnya sambil menyerahkan minuman padaku.
__ADS_1
Aku meneguk habis minuman itu. Kami sama2 terdiam setelahnya.
"Sheril, bolehkah aku meminjam handphonemu?? Hanphoneku mati. Aku ingin mengabari keluargaku, aku takut mereka mencariku" tanyaku saat menyadari hari sudah sangat larut.
"Oh tentu saja. Tunggu sebentar" jawabnya sambil mengambil tasnya.
Dia memberikan handphonenya padaku.
Aku segera mengirim pesan pada ayahku untuk menjemputku disini.
"Terima kasih Sheril" ucapku setelah mendapat balasan pesan dari ayahku.
"Tidak usah sungkan.
Kau diluar negeri sedang kuliah atau bekerja Rei??? tanyanya padaku.
Aku menatap kearahnya. " Apa dia tidak akan menjauhiku jika aku mengatakan yg sebenarnya" batinku.
"Maaf jika aku lancang bertanya seperti itu. Kau tidak perlu menjawabnya".
" Tidak apa2 Sher.
Aku melakukan pengobatan disana. Aku sakit " jawabku lirih.
Aku fikir, jika aku mengatakan aku adalah seorang pesakitan orang pertama yg kukenal akan menjauhiku. Rupanya tidak. Wanita ini malah memelukku.
"Jangan sedih. Kau pasti sembuh. Kau harus semangat melawan penyakitmu" hiburnya sambil menepuk punggunggku.
"Apa kau tidak risih jika aku seorang yg sakit"?? tanyaku ragu.
" Kenapa kau berfikir seperti itu. Apa salahnya jika kau sakit. Kau juga hanya manusia biasa " jawabnya lagi.
Aku tersenyum lega mendengar jawabannya. Ada perasaan lain yg tumbuh saat ini.
"Apa kau mau menjadi temanku??.
" Tentu saja aku mau. Kau bisa kemari kapanpun kau mau".
"Terima kasih Sheril. Kau sangat baik".
Kami terus mengobrol sampai handphone Sheril berbunyi. Ayahku sudah sampai diluar untuk menjemputku.
Aku sedikit tidak rela saat berpisah dengan Sheril. Mataku terus menatap kearah apartment miliknya sampai aku tidak bisa melihatnya lagi.
__ADS_1