
David dan Morgan menunggu dengan cemas didepan ruang ICU.
Tatapan mata Morgan begitu kosong. Wajahnya masih pucat pasi.
David yg juga sedang cemas tidak tega melihat keadaan daddy-nya.
"Dad, tenanglah.
Tidak akan terjadi apapun dengan mommy. Mommy wanita yg baik, Tuhan pasti akan menyelamatkannya " hibur David sambil memeluk ayahnya.
"David, daddy tidak bisa menerima jika terjadi hal buruk pada mommy-mu. Daddy tidak bisa hidup tanpa mommy-mu ".
" Jangan seperti itu dad. Kita harus yakin mommy bisa melewati masa kritisnya ".
David semakin khawatir mendengar ucapan ayahnya. Dia tau bagaimana ayahnya sangat mencintai ibunya.
" Aku harus mencari tau sebab kecelakaan ini. Jika ternyata kecelakaan ini disengaja, aku akan membuat hidup orang itu seperti di neraka " geramku.
"Ronald, cek semua cctv di restaurant itu. Cari semua bukti yg ada. Laporkan padaku secepatnya " perintahnya pada Ronald yg saat ini sedang menyelesaikan masalah perusahaan.
David kembali menemani ayahnya. Menunggu dengan cemas kabar ibunya yg saat ini masih kritis di ICU.
******
Setelah dokter kembali memeriksa kondisi Sheril, barulah Naya dan Kevin bisa melihat keadaan Sheril.
Mereka sangat terkejut begitu masuk ke kamar ini. Sheril terbaring dengan tubuh penuh luka. Jarum infus menancap dipergelangan tangannya.
"Sheril "?? panggil Naya lirih. Dia berjalan ke arah ranjang lalu duduk disamping Sheril.
" Maafkan kakak sayang, kakak tidak bisa menjagamu dengan baik " bisik Naya membelai pipi bengkak adiknya.
Dia menangis sambil terus menatap wajah adiknya. Sementara Kevin bersandar dipintu kamar. Hatinya hancur melihat kedua perempuan yg begitu dia sayangi terluka. Satu adiknya sedang berbaring tidak sadarkan diri, satu adiknya lagi menangis penuh luka.
Tak tahan melihat keadaan kedua adiknya, Kevin akhirnya meninggalkan kamar ini.
Dia duduk termenung sendirian.
__ADS_1
"Kevin, dimana Naya "?? tanya Reina yg baru datang bersama ayahnya.
" Dia di dalam menemani Sheril " jawab Kevin lirih. Dia melihat kearah pria yg berdiri disamping Reina.
"Ini ayahku Kevin. Ayah, ini Kevin, kakaknya Sheril" ucap Reina pada ayahnya.
"Selamat malam Kevin. Saya Hans,ayah Reina" sapa ayah Reina ramah.
"Selamat malam Tuan Hans " jawab Kevin.
"Maaf kami merepotkan anda dan Reina ".
" Tidak sama sekali Kevin. Kami senang bisa merawat adikmu. Adikmu gadis yg sangat baik. Saya berhutang sangat besar pada adikmu ".
" Apa maksud Tuan Hans "?? tanya Kevin bingung.
" Adikmu pernah menolong putriku saat dia dikejar oleh segerombolan preman. Mereka juga melukai tangan putriku.
Beruntung ada adikmu yg menyelamatkan nyawa putriku. Aku tidak tau apa yg akan terjadi pada putriku jika adikmu tidak menyelamatkannya " ucap ayah Reina sedih.
"Kevin, bolehkah kami merawat adikmu disini??
Anggaplah kami sedang membalas kebaikan adikmu ".
Saat Kevin hendak menjawab, tiba-tiba terdengar teriakan Naya memanggilnya.
Mereka terkejut mendengar teriakan itu lalu segera masuk kedalam kamar.
" Naya apa yg terjadi "?? tanya Kevin panik.
" Sheril sudah sadar kak " jawab Naya sambil melihat kearah Sheril.
Sheril tersenyum menatap kami, wajahnya masih terlihat pucat.
"Sheril, apa kau baik-baik saja??
Apa ada yg sakit "?? tanya Reina yg juga senang melihat Sheril sadar.
__ADS_1
" Aku baik2 saja Rei, kak.
Aku hanya sedikit kelelahan tadi " jawab Sheril pelan.
"Reina, cepat panggilkan dokter " ucap ayah Reina.
"Iya yah. Oya Sheril, ini ayahku " ucap Reina sebelum dia keluar menelfon dokter.
"Sayang, setelah ini kita pulang kerumah kakak saja ya. Kakak akan merawatmu dirumah " ucap Naya sambil mengelus rambut Sheril.
"Apa tidak sebaiknya Sheril istirahat disini dulu Nay. Dia baru saja sadar " Reina yg baru masuk kekamar ikut berbicara.
"Benar yg dikatakan Reina nak. Biarkan adikmu istirahat disini " ayah Reina ikut berbicara.
Naya terdiam mendengar perkataan mereka. Kondisi Sheril masih belum stabil. Tapi dia tidak ingin meninggalkannya. Dia takut terjadi sesuatu yg buruk pada adiknya.
"Tapi ini sudah tugas saya sebagai kakaknya untuk merawat Sheril. Lagipula, kami tidak ingin merepotkan kalian " jawab Naya.
"Kami sama sekali tidak keberatan Nay, kami dengan senang hati akan merawat Sheril sampai sembuh. Kau tidak perlu menghawatirkan hal itu " ucap Reina.
Naya melihat kearah kakaknya. Kevin lalu mengelus bahu adiknya yg seperti tidak rela jika mereka meninggalkan Sheril disini.
"Benar yg mereka bilang Nay. Sheril baru saja sadar, kita tunggu kondisi Sheril membaik ya baru membawanya pulang kerumah " bujuk Kevin.
"Tapi kak,...
" Kak, aku akan baik-baik saja disini. Reina temanku. Dia sangat baik padaku selama ini.
Biarkan aku istirahat disini dulu ya, tubuhku sangat lelah sekarang " Ervina ikut membujuk kakaknya.
Sebenarnya ini juga alasan Sheril saja. Dia takut jika dia ikut kakaknya pulang sekarang, kakaknya pasti akan bertanya tentang luka yg ada ditubuhnya. Dia belum mempersiapkan jawaban. Dia tidak ingin kedua kakaknya tau kalau David yg sudah membuatnya terluka.
"Baiklah, kakak akan mengizinkanmu dirawat disini. Kakak pulang setelah dokter selesai memeriksamu. Kakak harus memastikan sendiri kalau kau baik2 saja " ucap Naya yg tidak tega melihat adiknya memohon padanya.
Tak lama, dokter pun tiba. Dokter segera mengecek kondisi Sheril.
Setelah tau kondisi adiknya sudah membaik, Kevin dan Naya dengan tenang meninggalkan adiknya disini.
__ADS_1