Sadistic Of Love

Sadistic Of Love
Kehinaan


__ADS_3

..."... Biarlah ku jalani lara, biarlah kan ku tekan duka. Semoga suatu saat kau bisa mengerti, tak pernah sekalipun aku membenci..."...


...🍒 Sheril Agatha Lauren 🍒...


Setelah kedua mertuanya pergi, Sheril dengan tubuh gemetaran melangkah menuju ruang makan. Sejak kemarin belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam perutnya. Di tambah lagi dengan kekerasan yang di lakukan oleh Demian, membuat tubuh Sheril benar-benar kehabisan tenaga.


"Nyonya ingin makan ya? Mau saya bantu ambilkan?" tanya seorang pelayan yang sedang mengelap kaca lemari.


"Iya, tidak usah. Kau selesaikan lah pekerjaanmu" jawab Sheril ramah.


Kening pelayan itu nampak mengerut. Dia bisa melihat dengan jelas kalau bibir dan tangan majikannya sedang gemetaran. Khawatir terjadi sesuatu, dengan cepat pelayan tersebut berlari untuk mengambilkan piring. Dia tak mempedulikan larangan dari sang majikan yang memintanya untuk tidak melakukan hal itu.


"Sudah tidak apa-apa. Aku bisa mengambil makanan sendiri" cegah Sheril tak enak hati.


"Nyonya, saya tahu anda sedang kelaparan. Jadi biarkan saya melayani anda, ya" paksa si pelayan sambil terus memasukkan lauk dan sayur ke dalam piring.


"Tapi nanti Kak Demi marah kalau pekerjaanmu belum beres."


Tak perlu di ingatkan pun Sheril sudah tahu kalau rumah ini memiliki pengaturan yang sangat ketat. Dia hanya tidak ingin kalau pelayan yang sedang melayaninya ini terkena imbas kemarahan suaminya karena para pelayan lain hanya berdiri diam sambil menatap takut kearah Sheril. Sangat jelas terlihat kalau Demian sudah membangun jarak pada mereka agar tidak berurusan dengannya. Meskipun sesak, Sheril mencoba untuk tetap tersenyum. Dia akan menjalani semua ini dengan sabar, bertahan demi rasa cintanya pada Demian.


"Sudah Nyonya, silahkan duduk."


"Terima kasih ya, kau baik sekali."


Perut Sheril langsung berbunyi begitu mencium aroma masakan yang ada di dalam piring. Dia pun langsung duduk, berdoa terlebih dahulu sebelum mulai menikmati makanan tersebut.


"SIAPA YANG MENGIZINKANMU MAKAN DI MEJA ITU HAH!!.


Para pelayan dan juga Sheril tersentak kaget saat mendengar suara teriakan yang begitu menggema. Makanan yang baru saja hendak masuk ke mulut Sheril jatuh berantakan di atas meja saking kagetnya dia. Dia kemudian menoleh kearah tangga dimana suaminya tengah menatapnya dengan begitu marah.


"M-maaf Kak, aku sangat lapar jadi aku duduk di sini" ucap Sheril gusar.


Tentu saja Sheril merasa gusar. Bagaimana tidak. Demian saat ini tengah berjalan cepat kearahnya dengan tatapan yang penuh aura kebencian. Takut kalau-kalau suaminya akan kembali melakukan penyiksaan, Sheril segera berdiri dari sana kemudian mundur ke belakang. Awalnya Sheril berfikir kalau Demian akan menyakitinya lagi, namun dia salah. Demian bukan mengincarnya, melainkan langsung menampar wajah pelayan yang tadi mengambilkan makanan.


Plaaaakkkk

__ADS_1


"Apa aku pernah memintamu untuk melayani wanita ini? Jawab!" bentak Demian.


"T-tidak, Tuan Demian. Ma-maafkan saya, saya tadi merasa tidak tega melihat tubuh Nyonya Sheril gemetar karena kelaparan. Jadi saya berinisiatif untuk membantunya mengambil makanan" jawab si pelayan ketakutan sambil memegangi pipinya yang memar.


Demian murka. Dengan kejam dia menjambak rambut pelayan tersebut tanpa mempedulikan tangisannya yang memohon untuk di ampuni. Sheril yang melihat hal itu pun tidak tinggal diam. Dia segera bersujud di bawah kaki Demian, menatap penuh kasihan kearah si pelayan yang sedang menangis kesakitan dan juga ketakutan.


"Kak Demi, aku yang salah. Tolong lepaskan pelayan ini, dia tidak tahu apa-apa" ucap Sheril menghiba.


"Siapa kau berani memerintahku?" ejek Demian sinis. "Kau dengar aku Sheril, meskipun kita telah menikah, kau itu bukan nyonya di rumah ini. Jadi jangan berpikir kau bisa mendapatkan hak dengan meminta untuk di layani oleh orang-orangku. Kau tidak pantas mendapat penghormatan seperti itu dari mereka. Kau tidak pantas!.


Dada Sheril bagai di tikam dengan belati saat mendengar ucapan Demian. Airmatanya menetes, rasanya benar-benar sakit saat kehadirannya tidak di anggap. Saat Sheril sedang meratapi nasibnya, dia di buat kaget oleh teriakan pelayan yang kini sudah beralih ke tangan Ronald. Sadar pada apa yang akan pelayan itu terima, Sheril segera memeluk kedua kaki Demian. Dia tidak sanggup jika harus melihat pelayan itu di hukum, dia tidak bisa.


"Kak Demi, aku akan melakukan apapun yang kau minta asalkan pelayan itu di ampuni. Dia tidak salah Kak. Aku, aku yang salah karena sudah meminta makanan padanya. Tolong lepaskan dia Kak, aku mohon!.


Sebuah seringai jahat muncul di bibir Demian. Para pelayan yang melihat hal itu bergidik ketakutan. Mereka tidak tahu kekejaman seperti apa yang akan di lakukan oleh tuan mereka ini.


"Benar kau akan melakukan apapun yang aku minta?.


Sheril langsung menganggukkan kepala. "Asalkan bukan untuk bercerai, aku akan melakukan semuanya."


Demian berdecih.


"A-ada, tuan. Tapi sudah basi" jawab si pelayan sambil menelan ludah.


"Aku tidak peduli. Cepat bawa kemari!.


"B-baik tuan."


Dada Sheril berdebar kencang. Sebuah pemikiran buruk melintas di pikirannya saat dia melihat pelayan yang datang sambil membawa sepiring makanan bekas. Airmata nampak mengalir deras dari mata Sheril, dia tahu kalau setelah ini dirinya akan kembali mendapat penghinaan yang sangat tidak manusiawi.


"Kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan pada makanan ini?" tanya Demian setelah berjongkok di hadapan istrinya yang sedang menangis tanpa suara.


"Kak Demi, apa harus sampai seperti ini?" tanya Sheril sedih. "Itu makanan busuk, haruskah aku memakannya?.


"Tentu saja harus. Bukankah katamu kau sedang kelaparan? Meskipun busuk makanan ini tetap bisa di makan" jawab Demian dengan begitu kejam. "Tidak masalah kalau kau tidak mau memakannya, tapi pelayan itu akan berakhir tragis di tangan Ronald. Sekarang kau pilih, habiskan makanan ini atau pelayan itu..

__ADS_1


"Aku akan menghabiskannya, tapi tolong lepaskan pelayan itu dulu. Dia tidak bersalah" sela Sheril cepat. "Aku akan menghabiskannya Kak, aku akan melakukan apa yang kau perintahkan."


"Bagus" sahut Demian senang. "Lepaskan pelayan itu, Ronald. Kita lihat, apakah Nyonya Clovist kita bisa memenuhi janjinya atau tidak. Jika dia gagal, langsung habisi saja pelayan itu."


"Baik Tuan Demian" sahut Ronald dingin sambil mendorong tubuh si pelayan hingga jatuh terjerembab ke lantai.


Sheril menarik nafas lega setelah pelayan baik hati itu di lepaskan. Dia lalu menatap makanan busuk yang ada di hadapannya.


'Tuhan, kuatkan aku.'


"Tunggu apalagi, ayo cepat makan" desak Demian sambil duduk bersilang kaki di kursi.


Para pelayan menitikkan airmata saat menyaksikan penghinaan yang sedang di jalani oleh nyonya mereka. Tak ada yang bisa membayangkan seperti apa rasa dari makanan busuk tersebut. Para pelayan itu menutup mulut mereka ketika melihat sang nyonya hampir muntah di suapan pertama. Mereka sangat tidak tega.


"Nyonya..." ucap si pelayan sambil terisak tak tega. "Jangan makan makanan itu, nyonya. Biar saya saja yang di hukum."


"Tidak apa-apa" sahut Sheril lirih sambil menahan mual di perutnya. "Pipimu terluka, pergi dan obatilah dulu. Jangan khawatirkan aku.. ya?.


"Tapi nyonya..


Sheril menggelengkan kepala sambil berusaha keras untuk menelan makanan busuk tersebut. Dia lalu melihat kearah Demian yang sedang menatapnya tanpa rasa iba sedikitpun.


"Apa begini sudah membuatmu merasa puas, Kak?.


Demian berdiri. Dia menatap para pelayan yang sedang menangis kemudian melihat jijik kearah istrinya.


"Mulai sekarang, wanita ini hanya di perbolehkan memakan makanan sisa. Jika ada di antara kalian yang berani membantah perintahku, maka bersiaplah untuk mati. Satu lagi, aku akan menghancurkan seluruh keluarga kalian jika kalian berani membuka mulut pada orang lain, terutama orangtuaku. Dan kau Sheril, kau tidak mungkin membuat hidup para pelayan ini berada dalam bahaya bukan?.


Tangis Sheril pecah setelah Demian dan Ronald pergi dari sana. Sambil terus meneteskan airmata dia menghabiskan semua makanan yang ada di dalam piring. Biarlah, mungkin ini nasib yang harus di jalani karena menikahi seorang pria yang tak lagi mencintainya. Dalam penghinaan yang sedang dia rasakan, Sheril hanya bisa berdoa semoga Tuhan mau membukakan pintu hati suaminya. Dia sangat berharap kalau sikap Demian akan kembali seperti dulu.


🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒


...****🍒**** VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🍒 IG: emak_rifani...


...🍒 FB: Rifani**...


__ADS_2