Sadistic Of Love

Sadistic Of Love
Bab 23 # TIDAK MAU MELIHATNYA


__ADS_3

Sudah seminggu sejak hari dimana Sheril merasakan patah hati. Kesedihannya sudah hilang, tapi rasa cintanya masih tumbuh subur dihatinya.


"Untung ada Reina, setidaknya ada teman yg bisa mendengarkan masalahku " batin Sheril.


Seminggu ini Reina selalu menemaninya.


Mendengarkan apa yg dia rasakan untuk David. Seminggu ini pula Reina selalu tidur di apartment miliknya.


Dia tidak keberatan dengan keberadaan Reina. Dia sangat baik. Selalu berusaha menghiburnya. Hingga Sheril bisa melupakan kesedihannya.


"Sheril, Tuan William memintamu datang keruangannya " ucap Pak Miko yg tiba2 muncul didepanku.


"Baik pak " jawabku lalu bersiap masuk keruangan Tuan William.


Tokk.. tookk..


Aku masuk kedalam ruangan setelah mengetuk pintu.


"Selamat siang Tuan, anda memanggil saya "?? tanyaku pada Tuan William yg sedang sibuk dimejanya.


" Iya. Hari ini tolong kau antarkan dokumen ini ke perusahaan Tuan David. Katakan padanya saya minta maaf tidak bisa kesana karena ada meeting yg tidak bisa di tunda "


jawabnya sambil memberikan sebuah dokumen padaku.


Tanganku bergetar saat menerima dokumen ini. Aku tidak tau harus takut atau senang menerima tugas ini. Ingin rasanya aku menolak perintahnya, tapi aku tidak memiliki keberanian.


"Baik Tuan, saya akan segera mengantarkan dokumen ini ".


Akhirnya aku bersedia melakukannya. Ternyata rasa cintaku lebih besar daripada rasa takutku. Setidaknya aku bisa bertemu dengannya. Aku berharap David sudah tidak membenciku.


" Kalau begitu saya permisi Tuan ".


" Tunggu Sheril, kau harus menyerahkan dokumen ini langsung ke Tuan David. Kau tidak boleh menyerahkannya jika bukan Tuan David yg menerimanya. Didalam dokumen itu ada berkas2 yg sangat penting ".


" Baik Tuan, saya permisi ".


Aku keluar dari ruangan ini lalu mengambil tasku untuk segera berangkat ke perusahaan David.


Setelah 1 jam lebih perjalanan, aku sampai ditempat tujuanku.

__ADS_1


" Selamat siang, apakah Tuan David ada "?? tanyaku dimeja resepsionis.


" Selamat siang, Tuan saat ini sedang diruang rapat. Ada yg bisa kami bantu "?? tanyanya.


" Bisa tolong katakan pada Tuan David jika perwakilan dari perusahaan Amari datang mengantarkan dokumen ?? Dokumen ini harus diserahkan langsung pada Tuan David " jelasku.


Kemudian aku diantar keruangan CEO mereka.


Aku duduk menunggu kedatangan David sambil memperhatikan ruangan ini. Kursi kebesarannya membuatku kagum. Disana dia biasanya duduk bekerja.


Aku baru sadar jika sofa diruangan ini telah berganti model. Saat aku datang pertama kali sepertinya tidak seperti ini bentuk sofanya.


Aku kaget saat pintu tiba2 terbuka. Tidak sengaja mataku bertatapan dengan David.


Dia menatapku tajam lalu duduk dikursi kebesarannya.


Aku berdiri lalu membungkukkan badan.


"Selamat si...


"Ronald, bereskan wanita ini ".


" Nona, silahkan duduk. Berikan dokumen itu padaku " ucapnya datar. Aku merinding mendengar suaranya yg sangat dingin.


Pria ini bicara tanpa ada ekpresi diwajahnya.


"Maaf tuan, Tuan William meminta saya untuk menyerahkan dokumen ini langsung pada Tuan David " jawabku.


"Apa anda tidak mendengar ucapan Tuan David Nona "??.


" Maaf tuan, tapi saya tidak bisa menyerahkan dokumen ini padamu ".


Tubuhku bergetar saat David tiba2 menggebrak mejanya.


David berjalan kearahku dengan penuh amarah. Aku takut melihat sorot matanya hingga aku menabrak meja karena terus berjalan mundur.


" Kenapa, apa sekarang kau takut?? Bukankah kau bilang kau hanya ingin berbicara langsung padaku hahh "!! bentaknya sambil menarik kerah kemejaku.


" Bu.. bukan begitu Tuan David. Saya diminta untuk menyerahkan do.. dokumen ini langsung kepada an.. anda " jawabku terputus2 karena sekarang David mencekik leherku.

__ADS_1


"Benarkah?? Bukankah ini hanya alasanmu saja agar bisa mendekatiku?? Asal kau tau, Ronald adalah aku dan aku adalah Ronald. Itu artinya dia bisa menyelesaikan pekerjaanku tanpa harus melewati tanganku. Dan kau baru saja menolak Ronald. Kau ingin mati hahhh " bentaknya lagi sambil mendorongku sampai terjatuh.


Lenganku berdarah tergores kaca meja. Aku meringis menahan perih.


"Maafkan saya Tuan David. Saya hanya..


plakkk...


Aku terpaku saat sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku merasakan bau anyir di mulutku.


Belum hilang rasa kagetku karena tamparan itu, tiba2 David menarik kuat rambutku.


Aku yg ketakutan tidak bisa bicara. Mataku memerah menahan tangis. Aku menatap matanya yg terlihat sangat membenciku.


"Tuan David, apa salah saya. Kenapa kau begitu membenciku "??


Aku memberanikan diri bertanya padanya. Wajahnya semakin memerah, dan tarikan dirambutku semakin kuat.


" Kau bertanya apa salahmu.!!!


Hahhaa, trik apalagi yg sedang kau mainkan. Apa kau pikir aku sebodoh itu bisa kau bohongi "!!!!.


Aku menggigit lidahku sendiri merasakan rasa panas dikepalaku. Rasanya kulit kepalaku seperti akan terkelupas.


Sementara Ronald hanya diam tak bergeming melihat kemarahan tuannya.


Tak ada niatan untuk menolong Sheril dari amukan tuannya.


" Jangan kau pikir kau bisa mendekatiku apalagi masuk ke keluargaku dengan cara mendekati ibuku ".


" Menjauh dari ibuku atau aku akan menghancurkan seluruh keluargamu ".


" DAVID, APA YG KAU LAKUKAN "...


Terdengar teriakan dari arah pintu. David melepaskan tangannya dari rambutku.


" Pergi dari hadapanku, jangan pernah muncul didepanku. Aku tidak sudi melihat wanita munafik sepertimu " bentaknya.


Aku menarik nafasku kuat-kuat. Aku seperti kehabisan nafas melihat kemarahan David. Airmataku menetes, ternyata kebencian David padaku sangat besar.

__ADS_1


Aku masih terduduk dilantai sampai seseorang datang memelukku lalu membawaku keluar dari sini.


__ADS_2