Sang Ajudan

Sang Ajudan
Sakit nya Tak sesakit Hidup


__ADS_3

Raiz membawa Adela ke rumah sakit dengan sangat panik, di dalam mobil tak henti - henti nya Raiz mencium punggung tangan Adela dan berusaha membangun kan nya.


Raiz pun sampai di depan rumah sakit, tepat di pintu IGD. Dua orang perawat pria datang membawa blankar.


Raiz dengan panik memperhatikan Dokter sedang menangani Adela, sebuah alat pun terpasang di antara dada Adela.


"Dok bagaimana keadaan pasien? Tanya Raiz saat Dokter keluar dari ruang IGD.


" Sejak kapan Pasien mengalami Aritmia Jantung? "Tanya Dokter.


" Aritmia Jantung. " Jawab Raiz terkejut.


"Pasien sebenarnya mengalami Aritmia Jantung yang parah, Aritmia jantung ini adalah gangguan detak irama Jantung. Pasien akan sering mengalami sesak, pusing dan pingsan. Dan berdasarkan cek lebih mendalam seharusnya pasien harus mendapatkan donor jantung. "


Raiz seketika merasakan kedua kaki nya lemas, dan langsung duduk di kursi penunggu pasien.


"Dimana saya harus dapat kan Donor jantung?" Ucap Raiz frustasi.


"Donor Jantung pun tidak mudah, jantung yang di dapat juga harus cocok dengan Pasien. "


"Pasien harus di rawat secara intensif, dan pasien tidak boleh stress, mendapatkan kabar tak enak dan banyak pikiran." Ucap Dokter kembali.


"Terima kasih Dok informasi nya. " Ucap Raiz.


"Sama - sama. "


******


Raiz menatap Adela yang kini terbaring lemah dengan alat yang terpasang di tubuh nya. Raiz memegang tangan Adela dengan berkali - kali mencium punggung tangan nya.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang tentang penyakit kamu, kenapa selama ini kamu tampak seperti orang sehat, kenapa kamu tutupi semuanya dari saya. "


Raiz terus menatap Adela, dengen tangan membelai pipi Adela yang halus selembut kulit bayi.


Irfan pun masuk dengan wajah yang panik, dan segera mendekati Adela yang tengah tak sadar.


"Yank, ya Allah kamu kenapa lagi? Apa yang kamu bebankan hingga sakit kamu kambuh."


"Jadi kamu sudah tahu penyakit Adela? "


"Dia sakit sudah lama, sejak saya di semester 5. Dia menyembunyikan sakit nya, hanya saya yang tahu. Dia terlihat sehat namun sering merasakan sakit tapi dia tak akan pernah bilang. Yang dia sering ucapkan, kalau saya sakit nanti siapa yang akan membantu keuangan keluarga. Hanya itu yang selalu dia ingat. " Ucap Irfan.


Raiz mengusap wajah nya dengan kasar, dan menatap tubuh Adela.


"Kamu begini apa karena banyak beban yang kamu rasakan? " Ucap Raiz.


"Bagaimana dia bisa ada di rumah sakit? "Tanya Irfan.


"Kami habis bertemu, dan saat pergi dia pingsan. " Jawab Raiz.


"Pasti kabar tak enak ya kalian bicarakan." Ucap Irfan.


****


"Jadi Adela sudah cerita semuanya? " Tanya Raiz.


"Iya dia cerita semuanya. Dan saya minta nomer rekening kamu, saya akan transfer jumlah total hutang Adela. " Jawab Irfan.


"Saya sudah lupa berapa hutang nya. " Ucap Raiz.

__ADS_1


"Jangan sampai di akhirat nanti di tagih hutang nya. " Ucap Irfan.


"Sudahlah lupakan hutang nya, sekarang kita harus fokus untuk cari donor ginjal untuk Adela. "


"Donor ginjal!!! "


*****


"Mas dari mana baru pulang? " Tanya Anita.


"Habis menjenguk Adela. " Jawab Raiz.


"Adela kenapa? " Tanya Anita.


"Dia sakit, dan harus mendapatkan donor jantung. " Jawab Raiz.


"Donor Jantung Mas..!! "


"Iya, Mas juga baru tahu dia terkena penyakit jantung, Dia tidak pernah bilang atau menunjukkan dirinya sakit parah."


"Ya Allah, padahal saya kemarin baru saja bertemu dengan nya dan mengobrol dengan Adela."


"Siapa yang mengajak ketemuan pertama? " Ucap Raiz menyelidik.


"Saya Mas, saya menghampiri nya di Kantor Wabup. "


"Mulai sekarang jangan temui Adela. "


"Kenapa Mas, dia asik kok. "


"Kata Mas jangan ya jangan, bisa nggak sih menurut apa kata suami."


"Maaf, Mas bentak kamu. Ini demi Adela, kalau kamu ingin bertemu dengan Adela bicaralah yang bahagia - bahagia, jangan bicara yang tak enak di dengar."


"Iya Mas, saya paham. "


****


"Bang."


"Sayang." Ucap Irfan saat mendengar Adela memanggilnya.


"Kamu mau apa? Minum atau apa , Abang panggil kan Dokter."Ucap Irfan kembali.


Adela menggeleng kan Kepala nya dan menatap ke arah Irfan.


" Apakah dia yang bawa saya Bang? " Tanya Adela pelan.


Irfan menganggukkan kepala nya dengan mengusap pucuk kepala nya.


"Dia sudah tahu penyakit saya Bang? "


"Dia tahu semuanya, bahkan kamu harus donor jantung."


Adela meneteskan air matanya dan Irfan pun segera mengusap air matanya.


"Bagaimana kalau tahu saya sakit begini, Ayah Ibu dan Mia pasti sangat kecewa."


"Kamu masih memikirkan mereka, sedangkan disana tak akan pernah peduli kamu sakit pun."

__ADS_1


"Kalau saya meninggal dunia, siapa yang akan menjadi tulang punggung Bang."


"Ya Allah Adela, kamu itu berpikiran pendek. Kamu akan mendapatkan donor Jantung. Kamu akan sembuh, dan kita akan bahagia bersama nanti. "


Adela semakin terisak, dan Irfan mengecup kening nya. Tangisan Adela semakin menyayat di hati Irfan.


"Jangan tinggal kan saya Bang, hanya Abang yang peduli sama saya. "


"Abang nggak akan meninggalkan kamu, setelah kamu pulih kita akan segera menikah."


*****


"Yah kok tanggal segini Adela belum kirim uang? Sedangkan di warung sudah tutup kasbon untuk Ibu. "


"Sabar bu, telat satu hari dia hari saja juga nggak apa - apa kan. "


"Ayah enak, tiduran terus nggak kerja. Ibu kesana kemari cari hutang, untung kuliah Mia Raiz yang bayar, kalau bukan menantu kita siapa yang akan bantu bayar kuliah Mia. "Ucap Ibu Sukma kesal.


" Ibu kan bisa kerja bu, jualan apa kek atau kerja apa. " Ucap Pak Syarif.


"Ayah ini bagaimana sih, masa ibu di suruh kerja. Enak saja kerja, Ayah sana yang kerja. Jangan bisa nya habisin uang untuk berobat penyakit nya Ayah terus. "


"Tapi kita juga harus punya malu bu, jangan minta terus sama anak, bagaimana nanti kata suaminya kalau kita ini selalu minta - minta terus sama mereka. Jangan hal terulang lagi apa yang terjadi pada Adela dan Irfan. Bagaimana cara orang tua nya dulu, sehingga membuat hubungan mereka jadi kandas." Ucap Pak Syarif mengingat.


*****


Adela membaca chat masuk di ponsel nya, deretan chat dari ibu Tiri nya yang meminta mengirim kan sejumlah uang. Dirinya yang lupa akan kewajiban setiap bulan, lantas langsung mentransfer nya.


Ceklek.


Pintu terbuka, terlihat Anita dan Raiz masuk ke dalam kamar rawat Adela. Dan Adela pun segera bangun namun di tahan oleh Anita.


"Jangan banyak gerak dulu, berbaring saja. " Ucap Anita.


"Ibu sama Bapak kenapa nggak kasih kabar? Pasti di luar ramai di jaga ketat. " Ucap Adela.


"Nggak juga, karena kami masuk mereka nggak ada yang tahu. Kan kamu lihat kita pakai masker dan kacamata biar rumah sakit nggak heboh. " Ucap Anita.


"Bagaimana kondisi kamu? " Tanya Raiz.


"Sudah agak mendingan Pak. " Jawab Adela.


"Syukurlah kalau ada perubahan, setelah ini ambil lah cuti. " Ucap Raiz.


"Saya sudah kebanyakan cuti Pak. " Ucap Adela.


"Penyakit kamu lebih penting Del, apalagi sakit kamu ini sangat parah." Ucap Anita.


"Terima kasih Bu, Pak sudah perhatian sama saya. "


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2