Sang Ajudan

Sang Ajudan
Rumit


__ADS_3

"Adela bangun, kamu nggak pantas begini. " Ucap Raiz mengangkat tubuh Adela untuk bangun.


Adela mendongak ke atas dengan mata yang berkaca - kaca. Hingga menatap keluarga nya yang kini pergi, dan Pak Kusumo pun masuk kedalam mengajak istri nya. Anita hanya menatap sinis ke arah Adela dengan rasa yang sudah bercampur aduk.


"Maaf." Ucap Adela pelan.


"Kamu pulang, kita anggap masalah ini selesai. Setelah keluar dari sini, bersikaplah seperti biasa. " Ucap Raiz.


Adela mengangguk kan kepala nya dengan memegang dada nya yang mulai terasa sakit.


"Kalau saya di Mutasi, saya ikhlas Pak. " Ucap Adela berjalan pergi keluar dari rumah Dinas Bupati.


Adela mencari kedua orang tua nya namun sudah tak ada, ada rasa bersalah di diri Adela hingga wajah nya tiba - tiba tampak pucat dan semakin sesak.


"Ayah, Ibu,Mia maaf kan Adela. " Ucap Adela pelan.


*****


"Kamu sudah tahu kan? " Ucap Raiz.


"Kamu tega, menyingkirkan saya demi wanita yang baru saja datang." Ucap Anita.


"Maaf kan saya, dalam hal ini saya juga salah. Tapi seharusnya kamu tidak melanjutkan marah kamu sama Adela. Dia sudah bersujud pada kamu, dan meminta maaf. Apa. kamu tidak ingin maaf kan kesalahan dia, dan kalau pun kamu tak maaf kan saya, asal kamu maaf kan Adela. " Ucap Raiz.


"Cinta saya tulus sama kamu Mas, tapi apa buktinya kamu malah sekarang lebih mencintai Adela dari pada istri kamu."


"Maaf, hanya kata maaf yang bisa saya ucap kan. "Ucap Raiz.


******


" Jangan di angkat Yah, biarkan dia. Sudah membuat kita kecewa. " Ucap Ibu Sukma saat ponsel Pak Syarif berbunyi.


Ponsel Mia pun berdering, dan terlihat Adela berganti menghubungi Mia.


"Jangan di angkat Mia, biarkan saya dia harus di hukum. " Ucap Ibu Sukma.


"Benar - benar punya saudara bikin kecewa. " Ucap Mia.


"Bu,Mia.Bagaimana juga, rasa kecewa Ayah tapi Adela tetap anak Ayah. Dan Ayah menyesal saat tadi meninggalkan dia dan apalagi dia bilang sedang sakit. "


"Alah.. sudah lah Yah, pasti akal - akal an nya dia saja. "Ucap Ibu Sukma.


******


Tok... tok... tok...


Adela membuka pintu nya dengan jalan yang sangat lemas, dan melihat Raiz sudah berdiri di depan pintu.


" Mas Raiz. " Ucap Adela pelan dan lemas.


Raiz menarik tubuh Adela memeluk nya sangat erat, Adela diam tak membalas pelukan nya.


"Biarkan Mas memeluk kamu seperti, walau kata kamu ini pertemuan yang terakhir ,Mas khawatir kondisi kamu."


Adela tetap diam, hanya menatap kosong saat Raiz memeluk tubuh Adela.

__ADS_1


"Mas, benar kata Pak Kusumo. Kalau hari ini apa yang Mas lakukan pada saya, ini berpengaruh pada suara Mas di Pemilu nanti."


"Masa bodoh dengan pemilihan, Mas sudah nggak peduli. Kalau pun publik tahu cerita ini, Mas siap untuk menceritakan sebenarnya pada mereka."


"Disini lah Mas saya yang salah, pulang lah Mas saya tak apa - apa. " Adela mendorong tubuh Raiz pelan.


"Terima kasih sudah peduli sama saya. " Ucap Adela menutup pintu rumah nya.


*****


Sudah satu minggu setelah kejadian itu, Irfan belum ada kabar sama sekali, bahkan ponsel nya tak aktif. Bahkan keluarga memblokir nomer ponsel Adela. Hanya senyuman kecut di mulut nya.


Saat berada di area pendopo semua orang menatap Adela dengan berbisik, dan membuat Adela bertanya - tanya.


"Kenapa sih orang? " Ucap Adela dalam hati nya.


"Sini kamu. " Sony tiba - tiba menarik tangan Adela hingga menuju ke suatu ruangan.


"Kamu tahu, Pendopo sedang di timpa kabar tak sedap, kamu awal masalah ini. Semua tahu hubungan rumah tangga Raiz dan Anita renggang, setelah kabar berhembus kencang kamu itu orang ketiga. " Ucap Sony.


"Siapa yang membocorkan berita ini? " Tanya Adela.


"Saya pun tak tahu, yang jelas Raiz sama kamu sedang di buru wartawan. " Jawab Sony.


"Bukan nya kemarin petugas penjagaan sudah Mas minta mereka bungkam."


"Iya, tapi mungkin ada orang yang tahu, kami hanya menduga yang melakukan ini adalah lawan dari Raiz dalam pemilihan umum."


"Saya harus meluruskan. "


"Tapi semuanya karena saya. "


"Kamu hanya perlu diam, biar kami yang tangani. "


"Tapi."


"Biar ini menjadi sebuah gosip, karena perlahan akan redup."


"Saya tidak bisa. "


"Kamu cukup diam, biar saya sama Raiz yang menangani ini. Jangan sampai tahu, kalian sebenarnya memiliki hubungan spesial. Cukup dalam Pendopo saja, kamu biasa saja seperti tak terjadi apa - apa. Bekerja lah seperti biasa. "


******


"Raiz, kamu itu benar - benar sudah menyakiti anak saya. " Ucap Pak Lutfi Ayah Anita.


"Maaf kan saya. " Ucap Raiz.


"Maaf, kata kamu Maaf. Kalau kamu memilih keluarga kamu, mutasi kan Adela. Saya akan bicara sama Pak Andi, agar Adela di ganti."


"Dalam hal ini, saya minta semuanya jangan menyudutkan Adela, disini saya juga salah. Kalau pun saya harus mendapatkan sanksi saya siap. Bahkan jabatan saya harus di copot pun saya siap. "


"Cih.. sok bijak kamu, berarti kamu itu lebih berat dengan wanita itu."


"Kalau boleh jujur iya. "

__ADS_1


*****


"Jadi suami kamu pernah menyakiti hati kamu? "


"Iya, dia sudah menyakiti saya. Disini saya sakit hati, sangat sakit hati."


Pria tersebut memegang punggung tangan Anita, bahkan mencium punggung tangan nya.


"Saya akan bahagia kan kamu, saya akan memberikan cinta sesungguhnya. Apa yang tidak di berikan Raiz , saya akan berikan semuanya. Kamu mau kan menjadi istri saya?"


Anita menatap Anwar dan melepaskan genggaman tangan nya.


"Kamu mau menjadi kan saya yang kedua? Sedangkan status Lola itu masih istri kamu."


"Kamu tahu, malam itu saat kita bertemu lagi. Malam panjang, saya melakukan sama kamu itu sadar karena saya masih mencintai kamu. Dan saya ingin kita bersama lagi seperti dulu, saya menikah dengan Lola di jodoh kan, kamu harus tahu pernikahan kami tak bahagia. Mungkin Allah menyatukan kita dengan cara seperti ini. Tinggal kan Raiz, saya pun akan tinggal kan Lola. "


*****


"Bang, kamu kemana saja? Baru sekarang Abang datang menemui saya lagi. "


"Maaf ya, Abang ada keperluan pribadi. Abang habis cuti." Ucap Irfan membelai kepala Adela yang tertutup kerudung.


"Mereka sudah tahu. " Ucap Adela.


"Maksudnya? " Ucap Irfan.


"Keluarga saya sudah tahu, kalau saya bercerai dengan Mas Raiz. "


"Terus? "


"Mereka kecewa, kini mereka tak ingin bicara bahkan melihat saya lagi. " Ucap Adela sedih.


"Adela."


"Iya Bang. "


"Maaf kan Abang. "


"Maaf untuk apa? "


"Kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita."


Adela tersenyum dengan mata yang berkaca - kaca, dan mengusap perlahan air matanya yang membasahi kedua pipi nya.


"Kenapa Bang? "


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2