Sang Ajudan

Sang Ajudan
Jalan Takdir


__ADS_3

SAH


Anita kini resmi menjadi istri Sony, Raiz dan Adela pun turut hadir. Banyak yang teralihkan pada Raiz dan Adela, ada yang ingin berphoto ada pula yang membicarakan Raiz dan Adela.


Bahkan terdengar ada yang menyentil karena Adela hadir di antara mereka berdua sehingga kisah nya berubah.


Raiz yang mendengar nya berusaha menenangkan Adela, dan memberikan kode untuk tetap diam.


"Selamat ya. " Ucap Raiz pada Anita dan Sony.


"Terima kasih. " Ucap Sony.


"Terima kasih Mas, terima kasih Adela. " Ucap Anita.


"Semoga kalian bahagia selalu, dan cepat buat adik untuk Maura. " Ucap Adela.


"Pasti lah, ya kan sayang. " Ucap Sony sambil merangkul pundak Anita.


"Raiz." Sapa Ayah Anita.


"Pah, apa kabar . " Sapa Raiz.


"Baik kak, terima kasih kamu mau hadir. "


"Sama - sama Pah, kita apa salah nya menjalin silaturahmi. " Ucap Raiz.


"Adela, jaga Raiz. Dia suami yang sangat baik. Jangan kamu lepaskan seperti anak saya. "


"Tenang saja Om, saya akan jaga suami saya. Dan saya tidak akan pernah melepaskan suami saya demi wanita lain, apalagi pernikahan kami telah melahirkan kembar tiga sekaligus. " Ucap Adela.


Adela dan Raiz menikmati makan di acara pernikahan Anita dan Sony, Adela merasakan risih saat di belakang bergunjing.


Raiz lalu berdiri dan menghampiri salah satu undangan yaitu beberapa ibu - ibu


"Maaf Bu ibu, hanya mengklarifikasi. Kalau tidak tahu kebenaran nya jangan sok tahu. Dan lebih baik ibu - ibu menjaga tutur kata kalian. Dan ingat, yang kalian bicarakan itu siapa? Diam nya istri saya, ada rasa sakit hati apa yang tadi di katakan. Karena kalian sudah keterlaluan, saya turun tangan. " Ucap Raiz yang membuat ibu - ibu tersebut mati kutu.


"Lebih baik bicarakan masalah kalian saja, jangan bicarakan orang lain. Permisi. "


*****


"Sudah jangan bete terus, tadi sudah Mas skak mereka. "

__ADS_1


"Saya heran Mas, tentang saya orang ketiga masih saja terikat pada diri saya. Misal saya orang ketiga, mereka masalah nya apa? Kita yang jalani, bukan mereka. "


"Sudah jangan di bahas lagi, kalau dengar seperti itu lagi nanti Mas bikin mereka kena mental. "


"Hanya saja masih kesal. "


"Sudah, sabar ya. "


*****


Adela sedang bermain bersama Arumi, Areta dan Dewa yang kini sudah berusia tiga bulan. Tawa mereka membuat Adela bahagia, dan rasa lelah sedih hilang seketika.


Saat Adela sedang bersama ketiga anaknya, Pak Syarif dengan di dorong di atas kursi roda bersama perawat nya.


"Ayah." Sapa Adela.


Adela lantas bangun dari duduk nya dan menghampiri Pak Syarif lalu menyuruh Perawat Ayah nya untuk pergi.


"Ayah mau lihat ketiga cucu Ayah ya, lihat tuh mereka sangat lucu. "


Pak Syarif tersenyum dan tangan nya berusaha menyentuh salah satu cucu nya.


"Jangan nak, biarkan Ayah memandang ketiga nya dulu. "


Adela tersontak kaget saat mendengar Ayah nya sudah bisa bicara, dan air mata seketika jatuh.


"Alhamdulillah, Ayah...!!! " Adela memeluk tubuh Pak Syarif.


"Ayah sudah sembuh, Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. "


"Ayah baru bisa kemarin sore kak, hanya perawat yang tahu . Ayah ingin memberikan kejutan. "


Adela menatap bahagia Ayah nya, yang kini telah sehat hanya kaki yang masih belum bisa di gerak kan secara normal.


"Mas Raiz pasti senang mendengar kabar ini, saya akan kabari Mas Raiz. "


"Jangan nak, nanti saja. Biar ini kejutan juga. "


Adela kembali memeluk Ayahnya, tangan Pak Syarif pun membelai rambut putri nya, tak kuasa menahan haru bahagia, pak Syarif menangis di dalam pelukan Adela.


*****

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah, Ayah sudah bisa bicara lagi. "


"Iya Mas, perubahan sangat besar. "


"Ayah berterima kasih pada kalian, berkat kalian Ayah sembuh. " Ucap Pak Syarif.


"Bukan karena kami Yah, tapi karena Allah. Kami hanya berusaha agar Ayah sembuh. " Ucap Raiz.


"Sekali lagi terima kasih, kalau nggak ada kalian, Ayah tidak mungkin sembuh. " Ucap Pak Syarif terharu.


"Ayah banyak salah, terutama kamu Adela. " Ucap Pak Syarif kembali.


"Sudahlah Ayah, jangan ungkit - ungkit lagi . Ibu dan Mila sekarang sudah di buang jauh, mereka tidak akan mengganggu kita lagi. " Ucap Adela.


"Iya, Ayah juga sangat membenci mereka. Mereka menyiksa Ayah, mereka jahat. "


"Sekarang Ayah nggak perlu takut lagi, ada kita anak - anak Ayah. " Ucap Raiz.


********


"Saat mendengar kabar Mas Syarif, saya bahagia sekali. " Ucap Pak Kusumo.


"Iya, saya nggak menyangka Allah masih sayang sama saya."


"Sekarang sih, jangan banyak pikiran. Cukup nikmati peran sebagai seorang kakek."


"Benar apa yang di katakan Mas Kusumo, kita ini sudah tua, mau memikirkan apa lagi. Kalau tinggal menunggu takdir menjemput, lihat ketiga cucu - cucu kita sangat lucu. " Ucap Ibu Nuri.


"Saya bahagia sekali, pasti Mamah di surga melihat nya. Kalau seperti ini saya kangen Mamah. " Ucap Raiz.


"Pasti Mamah bahagia melihat kita semua bahagia. " Ucap Adela.


"Mamah...!! " Ucap Raiz dengan mata berkaca - kaca.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2