Sang Ajudan

Sang Ajudan
Kisah Masa Lalu


__ADS_3

"Makasih ya. " Ucap Raiz pada Adela saat menyiapkan sarapan pagi untuk nya.


"Sama - sama Mas. " Ucap Adela sambil duduk di depan meja makan dan berhadapan dengan Raiz.


"Kalau seperti ini setiap hari ibu senang lihat nya. " Ucap Ibu Nuri sambil membawa buah - buahan di atas piring.


"Ya nggak bisa Bu, saya juga harus tinggal di rumah Dinas. " Ucap Raiz.


"Kenapa nggak bawa saja Adela kesana?" Ucap Ibu Nuri.


"Nggak bisa bu, kecuali mereka tahu siapa Adela buat Raiz. " Ucap Raiz sambil memasukan makanan nya kedalam mulut.


"Adela, kamu jangan lupa kasih perhatian lebih pada Raiz, walau status kamu istri kontrak tapi ada kewajiban yang harus kamu laksanakan. " Ucap Ibu Nuri.


"Iya Bu, saya paham. " Ucap Adela.


Sony pun datang dan langsung menyeret kursi di samping Raiz.


"Sarapan dulu. " Ucap Raiz.


"Makan ya bu. " Ucap Sony sambil tersenyum.


"Mau Ibu ambil kan atau ambil sendiri? " Tanya Ibu Nuri.


"Ambilkan." Ucap Sony.


"Manja, baru datang sudah minta makan." Ucap Adela.


"Bicara apa kamu? " Tanya Sony mendelik an matanya.


"Itu Mas Raiz manja sama saya, minta makan tadi ingin nya di suapin. " Jawab Adela asal.


Uhuk... uhuk.. uhuk...


Raiz segera meminun segelas air putih di samping nya dan menatap tajam ke arah Adela.


"Jangan buat fitnah kamu, kalau kamu bicara seperti itu di dengar Anita bisa habis riwayat saya. " Ucap Raiz kesal.


"Maaf." Ucap Adela menunduk dan mengacak makanan nya.


"Sudah, lanjutkan sarapan nya. Bukan nya hari ini ada Dinas luar kota. " Ucap Ibu Nuri.


"Iya bu, sore mungkin akan sampai sini lagi." Ucap Raiz.


****


"Agenda hari ini apa saja Adela? " Tanya Raiz saat berada di dalam mobil.


"Hari ini kunjungan menemui Pak Walikota, dulu lanjut kita baru perjalanan ke luar kota menghadiri acara undangan Pak Gubernur. Setelah itu ada acara syukuran di sebuah panti Asuhan setelah ba'da isya. " Jawab Adela.


"Sekarang jam berapa? "


"Jam 8.00 Pak. "


"Kita usahakan pertemuan dengan Pak Walikota maksimal 2 jam itu cukup kan, karena hari ini kita harus bagi waktu. " Ucap Raiz.


"Apa pertemuan dengan Pak Walikota di tunda saja besok lagi? " Ucap Sony.


"Jangan lah, saya sudah meminta nya hari ini bertemu. Banyak hal penting yang harus di bahas, dan hari ini harus sudah ada kesepakatan. " Ucap Raiz.


"Kalau begitu, kita pasti akan telat datang ke Panti Asuhan. " Ucap Sony.


"Katakan saja, kita sedikit mundur paling lama 1 jam. " Ucap Raiz.


"Baik nanti saya sampaikan." Ucap Sony.

__ADS_1


Adela duduk di belakang Raiz bersama Sony dengan sesekali membantu mengambil beberapa Dokumen.


Saat sedang membereskan Dokumen, masuk. seorang pria membawa beberapa berkas, dan saat itu mata mereka saling beradu pandang.


Adela hanya diam menatap lurus ke arah Raiz yang tengah memeriksa beberapa laporan. Sedangkan Ajudan yang berada di samping Pak Walikota terus menatap ke arah Adela.


"Terima kasih untuk waktunya, semoga masalah ini cepat selesai. " Ucap Raiz pada Pak Walikota.


"Sama - sama Pak Raiz, kalau begitu mari kita sekedar santai dulu. " Ajak Pak Walikota.


"Maaf Pak, kebetulan kami harus segera bertemu Pak Gubernur karena setelah itu ada pertemuan lagi. Hari ini padat kegiatan. "


"Sayang sekali, tapi tak apa semoga lain waktu kita bisa makan bersama."Ucap Pak Walikota.


Namun saat Raiz masih berbicara dengan Pak Walikota bersama Sony, Adela keluar dari ruangan Pak Walikota kota dan berdiri di depan pintu.


" Apa kabar? "


Adela menatap pria tersebut yang kini tersenyum padanya, begitu juga Adela.


"Kabar baik Bang, sekarang kita bertemu lagi." Ucap Adela.


"Iya, kamu sudah menikah? " Tanya nya.


"Bang Irfan sudah menikah?" Tanya Adela.


"Saya masih menunggu kamu, menunggu takdir jawaban yang ingin terucap saat terakhir kita berpisah . " Jawab Irfan.


"Sudah lama Bang, kirain Abang akan lupa."


"Kamu kenapa ganti nomer ponsel dan tak kasih tahu nomer ponsel kamu sama Abang dek? "


"Maaf ya Bang, saat itu nomer kontak Abang terhapus."


"Kamu blokir sengaja lalu kamu hapus."


"Kamu sekarang sebagai Ajudan Pak Raiz? "


"Iya Bang belum lama. "


"Saya kira kamu akan Dinas di kota kelahiran kamu malah sekarang merantau lagi."


"Ini kan kota Abang kan, tempat lahir nya Abang. "


"Kamu masih ingat Dek, Abang harap kamu pun masih ingat ucapan kata terakhir Abang saat setelah wisuda itu."


"Maaf Bang sampai sekarang jawaban nya masih sama. Carilah wanita yang lebih dari saya, hanya perasaan adik sama kakak nya tak lebih. "


"Kamu lah wanita sempurna itu, bukan nya dulu pernah kita coba. "


"Tapi saya nggak bisa, karena saya nggak cinta sama Abang. "


"Abang terima kamu apa adanya. "


"Tapi tidak dengan keluarga Abang, saya sudah mencoba saat itu tapi mereka tak mau menerima saya. Dan Abang pun tahu kedua orang tua saya bukanlah seorang berpendidikan tinggi dan pertama bertemu pun sudah membuat keluarga Abang kecewa belum apa - apa sudah menuntut ini itu. Dan lebih baik kita seperti ini saja, saya malu Bang."


"Saya mencintai kamu bukan keluarga kamu."


"Saya hanya ingin menerima kondisi keluarga saya, yang mau menahan hati bersama."


"Adela kita lanjut perjalanan lagi. " Ucap Raiz sambil berjalan bersama Sony.


"Saya pamit Bang, permisi. " Ucap Adela.


"Kamu pun masih menyimpan rasa itu kan Dek, dan gelang di tangan kamu yang kamu pakai ini pemberian hadiah ulang tahun dari Abang kan yang Abang kirim ke Asrama dulu saat Abang tugas jauh, Abang sempat kan berkunjung tapi kamu tak ingin menemui Abang. Setelah kejadian wisuda itu pertemuan keluarga semuanya berubah."

__ADS_1


Adela mencopot gelang pemberian Irfan, dan menaruh di telapak tangan Irfan.


"Abang tahu, selama ini hanya ada 2 mantan pacar saya yang akan saya ceritakan setiap. orang bertanya. Dan bagi saya, Abang tak termasuk mantan dan tak pernah saya anggap. " Ucap Adela lantas pergi meninggalkan Irfan.


"Lama sekali kamu? " Bentak Irfan.


"Maaf Pak. " Ucap Adela dengan walau yang sudah memerah dan mata berkaca - kaca.


Dari teras kantor Walikota, terlihat Irfan berdiri di belakang Pak Walikota sambil menatap mobil yang di tumpaki oleh Adela.


Adela hanya memalingkan wajah nya ke kanan, dan saat itu Raiz memperhatikan wajah Adela.


"Kenapa dia, apa sedang ada masalah. " Ucap Raiz dalam hati.


****


Setelah acara usai pertemuan dengan Pak Gubernur, lanjut menuju ke Panti Asuhan. Anak - anak Panti pun menyambut Raiz dan Sony serta Adela membagikan beberapa mainan dan alat belajar untuk semua anak penghuni Panti.


Adela terus duduk menatap anak - anak yang sangat gembira, dan sesekali tersenyum menatap mereka.


"Kamu kenapa dari tadi banyak diam, setelah keluar dari kantor Walikota." Ucap Raiz.


"Nggak apa - apa Mas. "


"Apakah kamu punya masalah? "


"Nggak ada. " Ucap Adela tersenyum.


"Sayang..!! " Anita datang yang langsung memeluk tubuh Raiz dari belakang.


"Maaf telat, tadi mobil nya ada masalah." Ucap Anita.


"Kenapa nggak telepon Mas atau Sony?"


"Nggak mau merepotkan mereka." Ucap Anita.


Adela langsung beranjak berdiri untuk meninggalkan Raiz bersama Anita.


"Mau kemana? " Tangan Raiz memegang pergelangan tangan Adela.


"Maaf Pak Saya ingin ke Pak Sony." Ucap Adela dan tangan Raiz pun langsung terlepas.


"Saya belum sempat saja mengenal kamu lebih dekat. " Ucap Anita sambil tersenyum.


"Lain kali Bu pasti sempat." Ucap Adela sambil tersenyum.


"Dia sudah punya pacar? " Tanya Anita.


"Belum kenapa? " Ucap Raiz.


"Kenapa Mas nggak jodoh kan saja dia sama Sony, dia kan kelamaan jomblo. "


Uhuk.. uhuk..


"Sony ya.. heeee.. kalau itu Mas pikir lagi."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2