Sang Ajudan

Sang Ajudan
Hati Yang Berbicara


__ADS_3

Maaf ya... sekarang up 3 kali jarang, berhubung sibuk dan kondisi yang sering capek dan sakit. Jadi sekuat tenaga saya, tapi pasti setiap hari up dan karya akan sampai tamat... 🙏🙏🙏


.


.


.


.


.


.


"SK pindah tugas lagi? " Ucap Adela saat membaca sebutan surat perintah tugas yang sudah turun tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


"Jadi sekarang langsung pindah ke kantor Bupati sebagai Ajudan nya. " Ucap Sony.


"Kenapa sih nggak konfirmasi sama saya dulu, mentang - mentang jadi pemimpin main pindah - pindah saja. Mentang - mentang saya orang kecil. " Ucap Adela kesal.


"Seharusnya kamu bangga, dan patut berterima kasih sama Raiz. "


"Terima kasih untuk apa? "


"Kan kamu nggak ketemu sama mantan pacar dan nggak akan benci lihat muka Pak Andi. "


"Benar juga sih, tapi saya nggak rela dan saya harus protes sama dia. "


Setelah menerima SK, Adela masuk kedalam ruangan Raiz tanpa mengetuk pintu. Dan terlihat Raiz tengah seperti menanda tangani beberapa berkas.


"Mas, maksudnya apa sih. Kemarin kamu memindahkan saya, sekarang kamu minta saya jadi Ajudan kamu lagi. Nanti besok saya mau di pindah tugas kan dimana lagi?"Ucap Adela yang langsung to the point.


" Pindah tugas di rumah, layani suami dan mengandung anak saya. Nanti saya akan suruh Sony buat kan SK khusus yang satu itu tanpa laporan ke BKPSDM tapi ke KUA buat SK nya yaitu Buku Nikah. " Ucap Raiz sambil tersenyum.


"Serius Mas, bukan ngajak bercanda."


"Mas juga serius, nggak ngajak bercanda."


"Ih nyebelin. " Ucap Adela yang langsung duduk di kursi depan meja kerja Raiz.


Raiz beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju kursi yang di duduki Adela dengan memutar kursinya hingga menghadap ke arah Raiz.


"Sayang, Mas ingin kamu jadi Ajudan Bupati lagi. Hamdan yang akan jadi Ajudan Pak Wabup. "


"Tapi Mas, apa kata orang yang tahu. Mentang - mentang mantan istri, main sesuka hati penempatan tugas. Dan mereka pasti otak nya berpikir kita ini kerja nya pacaran terus. "


"Yang penting kewajiban sebagai seorang pemimpin Daerah tak terabaikan."


"Iya, tapi tetap saja Mas. "


"Kalau begitu Mas mundur sebagai Bupati,Mas akan fokus pada perusahaan dan dunia politik saja biar nggak jadi buah bibir. Dan kamu pindah ke Instansi pemerintahan yang ada di Kabupaten Pakis."


"Selagi Rakyat masih ingin di pimpin oleh Pak Raiz yang terhormat kenapa mundur? Jangan bawa urusan pribadi ke urusan kedinasan atau pekerjaan."


"Baiklah, mulai sekarang kamu sudah jadi Ajudan saya."


"Nggak bisa begitu Mas, harus pamit dulu sama Pak Andi. "

__ADS_1


"Ok, Mas kasih kamu waktu hari ini. "


"Dasar, mentang - mentang berkuasa segala urusan di mudahkan. "


"Kan untuk kita. "


"Untuk Rakyat nya bagaimana, sudah di utamakan? Jangan lupa itu mereka memilih Mas karena percaya Mas akan bawa perubahan yang lebih baik. "


"Kalau itu sih utama dong. "


*****


"Jadi kamu kembali menjadi Ajudan Pak Raiz? "


"Kalau tidak ada SK ini saya pun memutuskan mundur untuk jadi Ajudan Bapak. " Ucap Adela dengan nada tegas.


"Kenapa? "


"Maaf, saya kecewa sama Bapak. "


"Maaf kan saya Adela. "


"Saya tidak bisa bekerja dengan masalah pribadi, dan Bapak sudah membuat saya kecewa sangat besar. Maaf Pak kalau saya berkata jujur. "


"Iya nggak apa - apa, saya yang salah. "


"Kalau begitu saya permisi Pak. Terima kasih untuk selama ini menjadi atasan saya, permisi. "


Adela tanpa bersalaman pergi keluar dari ruangan Pak Andi, dan saat itu berpapasan dengan Kinanti.


"Itu bukan urusan saya, kami harus berpikir bagaimana caranya menaklukkan hati suami kamu. Dan ingat, cinta tak bisa di paksakan." Ucap Adela langsung melanjutkan langkah nya dan Kinanti hanya menatap sendu punggung Adela yang kian menjauh.


*****


"Mah, Adela sudah kembali menjadi Ajudan saya dan dia sudah menjadi kekasih saya. Raiz ingin menikahi nya kembali."


"Mamah setuju saja keputusan kamu. Tapi dengan Papah kamu bagaimana?"


"Masa bodoh dengan Papah, karena bagi saya hubungan dengan Adela sangat lah penting untuk masa depan kehidupan cinta saya. "Ucap Raiz.


" Mamah nanti akan berusaha bicara sama Papah kamu. " Ucap Ibu Laila.


"Terima kasih Mah. " Ucap Raiz sambil mencium punggung tangan Ibu Laila.


*****


"Kamu mendukung hubungan mereka?" Tanya Pak Kusumo.


"Itu pilihan Raiz. " Jawab Ibu Laila.


"Saya tidak setuju. "


"Kalau Mas tidak setuju, Raiz tetap menikahi nya lagi. "


"Kalian menentang saya? " Bentak Pak Kusumo.


"Mas hanya mementingkan diri sendiri tidak mementingkan hati anaknya. "

__ADS_1


"Kamu bilang mementingkan diri sendiri hah.. dengan saya kamu paksa menikahi Nuri apa itu bukan keinginan g***la kamu hah... hingga saya harus memiliki anak sama Nuri. "


"Mas, hentikan kamu ungkit masa lalu. Saya hanya ingin kamu memiliki keturunan tanpa harus menceraikan saya. Mas tahu, saya pun ingin memiliki seorang anak, walau bukan adopsi tapi anak dari kamu."


"Kamu harus tahu, saya harus belajar untuk mencintai Nuri dan kamu tahu agar saya tidak berpaling dari kamu saya memutuskan untuk bercerai dengan dia. Kamu tahu rasanya jadi saya saat itu, hati ini sakit bagaimana saya menahan agar cinta itu tidak tumbuh."


"Tapi Mas jangan bawa masalah kita ke masalah Raiz. Dia tidak tahu rahasia kita, dia juga berhak bahagia. Adela wanita yang baik, fisik sakit tapi di dalam nya sangat sempurna dari hati dan cara pandang nya. "


"Raiz harus merasakan seperti Papah nya menahan rasa yang pernah ada. "


"Kamu egois Mas. "


"Kamu yang egois. " Ucap Pak Kusumo langsung pergi meninggalkan Ibu Laila.


*****


"Yank, kamu kambuh? " Tanya Raiz sangat panik saat melihat Adela memegang dada nya.


"Sakit Mas. " Jawab Adela sambil menahan sakit.


"Istirahat dulu. " Ucap Raiz sambil membaringkan tubuh Adela di sofa panjang.


"Kamu bawa obat penahanan rasa sakit nya? "


Adela mengangguk kan kepala nya dan menunjukkan pada tas yang ada di meja kerja Raiz.


Raiz pun mengambil tas tersebut dan mencari obat yang ada di dalam tas. Setelah menemukan Raiz memperlihatkan pada Adela obat mana yang akan di minum.


"Yang ini Mas. " Ucap Adela lalu Raiz pun meminumkan Adela obat tersebut.


"Gimana? "


"Sudah Mas mending. "


"Maaf, sampai saat ini Mas belum dapat pendonor nya. "


"Nggak apa - apa Mas, Saya masih kuat untuk bertahan. "


"Mas akan berusaha agar kamu sembuh, Mas ingin kamu sembuh. "


"Terima kasih Mas. "


"Sama - sama sayang, sekarang istirahat. Dan kerja kamu sekarang hanya duduk temani Mas biar segala urusan Mas yang atur biar Mas kerja sendiri. "


"Tapi Mas, semuanya Mas yang atur sendiri tanpa di bantu nanti repot. "


"Sudah jangan membantah, Mas nggak ingin kamu capek dan drop. "


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2