
"Bagaimana Dok? " Tanya Raiz saat Dokter melakukan USG.
"Ada tiga kantong Pak. " Jawab Dokter Risma.
"Masya Allah, Yank kita langsung punya anak 3." Ucap Raiz senang.
"Alhamdulillah, tapi pas cek pertama kenapa nggak kelihat 3 ya dok hanya satu. " Ucap Adela.
"Mungkin saat pas USG pertama kantong lain tertutup dengan kantong satu nya lagi, tapi ini benar loh kembar tiga, berkali - kali saya cek."
"Mas, anak kita. " Ucap Adela.
"Kondisi nya bagaimana? " Tanya Raiz.
"Sehat Pak, detak jantung nya normal. " Jawab Dokter Risma.
"Jenis kelamin nya Dok? " Tanya Adela.
"Belum jelas banget Pak Bu, bisa cek ulang nanti bulan depan. Dan kondisi janin nya ini aktif sekali dan posisi juga selalu bergeser. " Jawab Dokter Risma.
"Dok, saya ingin tanya. Istri saya bisa normal nggak melahirkan nya? " Tanya Raiz.
"Kalau Ibu kuat, bisa normal. " Jawab Dokter Risma.
"Masalah nya, jantung dia ini transplantasi."
"Oh begitu ya, tapi biasanya lihat kondisi Ibu nya. Kalau tidak memungkinkan cesar jalan satu - satu nya. "
"Saya serahkan yang terbaik pada Dokter. "
******
"Mas nggak menyangka, kita langsung di kasih tiga. "
"Mamah nggak sabar kamu lahir di dunia sayang. "
Raiz menciumi perut Adela dan mengusap nya, lanjut mengecup bibir tipis Adela.
"Mas, semoga dengan hadir nya anak - anak kita nanti. Kita akan selalu bahagia selalu. " Ucap Adela.
"Amin... semoga kita selalu bahagia dunia akhirat. " Ucap Raiz.
*****
"Jadi suami kamu sekarang keluar kota? " Tanya Ibu Nuri.
"Iya, malam juga pulang. "
"Adel, bagaimana bisa Ayah kamu di siksa sama Sukma dan Mila? "
"Saya juga nggak tahu bu, Ayah saja kan nggak bisa bicara. Itu tebakan saya aja, dan Mas Raiz ngelarang saya labrak mereka. "
"Kemarin katanya di jebloskan ke penjara, kok bisa bebas."
"Nggak tahu, Mas Raiz nggak pernah cerita lagi setelah itu. "
"Apa si Raiz membebaskan nya mungkin. "
"Mungkin, karena masih punya hati."
"Raiz itu, masih saja punya hati. "
"Sudah sifatnya Bu suami saya begitu. "
"Ya udah nggak apa - apa, selagi mereka tidak mengganggu kalian, dan Ayah kamu sudah aman di sini. "
"Iya, nanti kalau Ayah memang sudah normal lagi. Kami mau nanya sama Ayah, kalau pun benar kami akan lapor kan ke Polisi. Dan bukti nyata saya photo. "
__ADS_1
"Benar, biar mereka kapok."
*******
"Yuna, kamu chat an sama Andi nggak? "
"Chat an Bu tadi, kenapa ? "
"Mereka kok belum sampai juga? "
"Tadi katanya kejebak macet, mungkin masih lama. "
"Sudah satu jam, saya takut kenapa - napa. "
"Nggak Bu, mereka kejebak macet. "
"Ya sudah, saya ke kamar duluan. Kamu kalau capek tidur saja. "
"Baik Bu. "
Adela masuk kedalam kamarnya, perut yang semakin membesar membuat nya sering merasakan capek dan sakit di pinggang. Sesekali mengusap perut nya dan mengusap pinggang nya.
"Sabar sayang, Papah masih di jalan. Mau di usap ya sama Papah. "
Terdengar suara khas suaminya sedang berbicara dengan Andi, senyum mengembang terlihat dari wajah Adela. Setengah berlari Adela membuka pintu kamar nya, dan terlihat wajah lelah suaminya yang kini ada di depan nya.
"Mas." Sapa Adela mencium punggung tangan nya.
" Capek ya? " Tanya Adela.
"Capek banget yank , kejebak macet. " Jawab Raiz yang langsung membuka kancing pakaiannya.
"Saya siapkan air panas ya Mas. "
"Nggak usah, biar Mas saja. " Ucap Raiz mengusap pucuk kepala Adela.
"Loh kok belum tidur? "
"Mau di elus perut nya. "
Raiz tersenyum dan segera naik ke atas tempat tidur.
"Yang mau di elus Mamah nya atau anaknya nih? "
"Dua - dua nya, kan kangen sama Papah nya. "
Raiz mencium perut Adela, tangan nya mengusap perut dengan lembut. Adela merasakan nyaman dan membuatnya semakin mengantuk.
Rais yang melihat nya tersenyum, tangan nya pun membelai pipi Adela yang halus selembut sutera.
******
"Pak, ternyata Pak Andi mencalonkan menjadi Bupati. " Ucap Andi.
"Oh iya? Terus kenapa? "
"Apa Bapak nggak merasakan terganggu? "
"Nggak lah, saya terpilih kembali Alhamdulillah, tidak pun berarti Rakyat ingin pemimpin yang baru. "
"Di dukung lima Partai Pak. "
"Malah partai besar. " Ucap Andi kembali.
"Biarkan saja, mau lima mau sepuluh nggak masalah. Rakyat yang akan memilih saya. "
"Jadi Bapak sudah siap kalau tidak terpilih lagi? "
__ADS_1
"Harus siap, bagaimana pun semuanya ada di tangan Rakyat. "
*****
"Mas, Pak Andi mencalonkan loh. " Ucap Adela.
"Ya nggak apa - apa, baru akan jadi calon kan? Keputusan nya belum baru omongan saja nanti kan di seleksi lagi." Ucap Raiz.
"Mas tahu nya berapa calon? "
"Nggak tahu masih gambaran saja."
"Oh."
"Yank, Mas sampai lupa. Ini buat kamu. " Raiz memberikan amplop warna cokelat pada Adela.
"Ini apa Mas? " Tanya Adela sambil membuka lem yang menempel pada amplop.
"Buka dong. " Jawab Raiz.
Adela membuka amplop warna cokelat tersebut dan terlihat sebuah lembaran warna merah.
"Mas ini uang apa? "
"Itu rejeki sayang. "
"Bukan hasil korupsi kan? "
"Ya nggak lah, masa korupsi. Itu rejeki hasil usaha Mas. Ekspor barang bulan sekarang sedang banyak, dan sudah ada tiga pelanggan tetap untuk pengiriman kain batik ke tiga negara , belum lagi usaha sawit dan batu bara. "
"Alhamdulillah, rejeki si dede Mas. "
"Iya sayang, pergunakan sebaik mungkin ya. "
"Ehm... Mas, boleh nggak kita bagi rejeki ke anak yatim piatu? "
"Boleh banget sayang, nanti atur saja jadwalnya. Mereka undang kemari. "
*****
"Yuna, gimana catering nya? "
"Sudah Bu, pesan 200 box nasi dan beberapa souvenir buat mereka. "
"Nanti sama bagi amplopnya, dan itu Ibu ustadzah nya bagaimana bisa? "
"Alhamdulillah Bu bisa, katanya buat Ibu kosong waktu nya. "
"Terima kasih ya, ehm... nanti jangan lupa tetangga sekitar pendopo di undang. Minta Pak Sony untuk atur semuanya."
"Siap Bu, kalau begitu saya ke Pak Sony dulu."
******
Adela mengecek situasi tempat untuk acara nanti sore, jejeran meja prasmanan dan paper bag tertata rapih di tempat nya.
"Bagaimana Yank, apa ada yang kurang? " Tanya Raiz.
"Nggak ada Mas, sudah cukup. "
"Ehm... Sony sudah suruh orang kirim undangan nggak buat tetangga sekitar sini? "
"Tanya sama Yuna saja Mas, soalnya Yuna yang suruh Sony. "
"Iya, kita undang mereka tetangga kanan kiri depan belakang. Masa nggak di undang."
Terdengar suara khas yang di kenal oleh Adela dan Raiz, terlihat dua orang yang sedang beradu mulut dengan beberapa penjaga yang berada di Pos penjagaan pintu masuk pendopo.
__ADS_1
"Mau apa lagi mereka? " Ucap Raiz geram.