
Dengan nafas yang sangat sesak dan sakit di dada Adela berusaha menahan nya saat dirinya sedang berada di rumah Dinas Raiz.
Berusaha tetap kuat dan berjalan menuju ruang kerja Pak Bupati yang sedang mengobrol dengan Sony.
Wajah yang sudah tampak pucat dan tenaga yang sudah tak ada, Adela berusaha tetap seperti biasa.
"Del, tolong yang tadi saya tanya kan kamu bawa kan? " Ucap Raiz sambil tersenyum.
"Ini." Ucap Adela pelan.
"Seperti nya informasi tersebut harus di sampaikan segera mungkin, agar mereka tidak berpikir yang tidak - tidak." Ucap Sony.
"Saya akan terjun langsung ke lapangan mengenai masalah pertikaian antara petani dan pemilik tambang Minyak"
"Benar, mereka belum mendapatkan ganti rugi tapi pihak perusahaan mengatakan sudah. "
"Saya ingin terjun langsung untuk melihat bagaimana proses nya saat itu, karena saya tidak mau Rakyat saya di rugikan dan memang lahan itu milik mereka jadi wajib ganti rugi."
"Ini adalah pekerjaan para orang suruhan."
"Benar, kita berangkat sekarang menuju lokasi. Karena ini membuat saya yang melihat nya ingin cepat selesai karena dari sisi mana pun sangat alot saat berunding. Disini saya akan jadi penengah. " Ucap Raiz langsung bersiap untuk berangkat.
"Sayang, kita jalan. " Ucap Raiz dan di anggukkan oleh Adela.
Dalam perjalanan Adela hanya diam, dan sesekali menatap keluar. Raiz memegang tangan Adela yang sangat dingin seperti es.
"Kamu sakit sayang? " Tanya Raiz panik.
"Nggak, saya nggak sakit Mas. " Jawab Adela.
"Tangan kamu dingin banget, dan kamu pucat. "
"Nggak apa - apa, hanya ngantuk. " Ucap Adela bohong.
"Tidur lah, sini bersandar di bahu Mas. "
"Nggak Mas, malu ada Mas Sony sama supir."
"Sudah jangan pedulikan mereka." Ucap Raiz yang menyandarkan kepala Adela di bahu nya.
Mata Adela tak ingin terpejam dan lebih memilih menggenggam tangan Raiz yang hangat. Raiz hanya tersenyum sambil mengusap punggung tangan Adela.
Perjalanan pun sampai, Adela hanya diam di belakang Raiz yang sedang berbicara dengan para Petani dan pihak perusahaan tambang minyak di temani Sony.
"Saya harus kuat. " Ucap Adela pelan.
Pandangan yang mulai kabur, Adela tetap bertahan dan berpura - pura baik - baik saja. Saat setelah selesai dan menemukan titik temu dan kesepakatan Raiz segera kembali ke Pendopo.
__ADS_1
"Kita kembali ke Pendopo, jadwal hari ini apa lagi Adela? " Tanya Raiz.
"Tidak ada Pak, langsung kembali. " Jawab Adela.
"Sony, kamu tolong pantau saat pelunasan pembayaran, dan awasi oknum yang berada di belakang mereka. Minta beberapa Polisi untuk memata - matai mereka, jangan sampai Rakyat saya di bohongi oleh oknum tersebut. Dan hubungi langsung perusahaan nya bicara langsung pada pimpinan mereka, karena ada yang ketidak beresan dari beberapa anak buah nya. "
"Baik Pak, saya akan meluncur sekarang juga."
*****
"Mas, ini teh nya. " Ucap Adela.
"Makasih sayang. " Ucap Raiz langsung meminum teh manis hangat buatan Adela.
"Mas ini sudah malam, sebaiknya istirahat. "
"Pulang lah, kalau kamu capek. Mas nggak bisa antar kamu pulang."
"Boleh nggak malam ini bermalam di kamar Mas? " Tanya Adela yang membuat Raiz tersedak saat minum.
"Serius? " Tanya kembali Raiz.
Adela mengangguk kan kepala nya dan tersenyum tanpa sepatah kata pun.
"Ta - tapi kita belum menikah Adela, Mas tidak mau ada yang melihat nanti. " Ucap Raiz.
"Kalau begitu kita berbaring sofa panjang sambil menghadap ke jendela sambil menikmati bulan purnama yang terlihat jelas dari sini. " Ucap Adela.
"Kenapa suhu tubuh kamu dingin begini, kenapa wajah kamu semakin pucat? " Tanya Raiz.
"Mas, boleh ya.. untuk malam ini, hanya malam ini. "
Raiz terdiam dan melihat Adela tampak tersenyum dengan mata yang berbinar.
"Iya kita bermalam bersama. " Ucap Raiz.
"Kalau tidak di kamar, sofa ini saya kita dorong menghadap ke arah jendela, gorden nya jangan di tutup buka semua. Lihat indah bukan, dan saya ganti pakaian dulu. Mas mandi lah dulu, lalu kita istirahat. " Ucap Adela tampak bahagia lantas menuju ke arah kamar mandi yang ada di dalam ruang kerja Raiz.
****
Sofa panjang yang sempit untuk berbaring berdua, Adela memiringkan tubuh nya dan ber bantal dada bidang Raiz.
Tangan Raiz tak berhenti mengusap punggung Adela yang masih belum memejamkan matanya.
"Tidur lah, hari sudah malam. Besok banyak pekerjaan yang sudah menanti. "
"Saya tidak ingin tidur, kalah tidur takut tak bisa lihat Mas lagi. "
__ADS_1
Tangan Raiz terhenti saat tangan nya mengusap punggung Adela.
"Kenapa bicara begitu? "
Adela mengangkat kepalanya dan menatap dekat wajah Raiz yang kini menatap nya pula.
"Mas, saya sudah nggak kuat. Maaf kalau hanya sampai disini. " Ucap Adela dengan sangat lemah.
"Kamu bicara apa sih, jangan menyerah.Kamu pasti kuat. " Ucap Raiz.
Dengan pandangan yang sudah kabur, Adela masih tetap berusaha untuk baik - baik saja di depan Raiz.
"Boleh kan mencium bibir Mas, dan menghirup wangi perfume yang sangat saya rindukan. "
Raiz menatap wajah Adela, dengan mengubah posisi hingga Adela kini di bawah tubuh Raiz.
Adela tersenyum dengan mengusap wajah Raiz perlahan, namun Raiz tetap diam menatap sangat intens kedua mata Adela yang terlihat kornea mata nya semakin mengecil.
"Apa kamu masih sadar Yank, apa kamu masih mengenali wajah pria di depan kamu."
Adela meraba wajah Raiz hingga menyentuh bibir nya, mata Raiz berkaca - kaca saat Adela tak merespon ada sebutir air mata yang keluar dari sudut mata Raiz.
"Wajah Mas Raiz tampan, Mas tersenyum pada saya. " Ucap Adela namun Raiz tak tersenyum hanya menatap sedih.
"Kita ke rumah sakit sekarang. "
"Nggak." Adela mengalunkan kedua tangan nya di leher Raiz.
"Biarkan malam ini kita bersama."
Adela mendekat kan bibir nya ke bibir Raiz, mencium bibir nya. Raiz hanya terpejam saat Adela mencium bibir nya, akhirnya Raiz pun membalas ciuman Adela dan saling *******.
Raiz semakin terisak saat perlahan ciuman Adela tampak semakin pelan dan tak terasa hingga kedua tangan yang di kalung kan di leher Raiz semakin lemas dan jatuh menjuntai kebawah.
Adela merasakan sakit dengan kepala yang terangkat sedikit dengan nafas yang naik turun.
"Yank, sadar Yank... sayang sadar... " Ucap Raiz dengan menggoyangkan tubuh Adela.
Adela meremas dada nya dengan bola mata yang sudah memutih kedua nya.
"Adela.. bangun yank, jangan tinggal kan Mas.. "
Raiz segera mengambil ponsel nya menghubungi rumah sakit untuk mengirimkan ambulance, dan dengan segera menghubungi Sony dan orang - orang yang ada di rumah Dinas.
Adela masih mengejan dengan terlihat kesakitan dan sudah tak sadar di antara sekeliling nya.
"Kuat sayang, kamu kuat . Bukan sekarang kamu pergi tinggalkan Mas. "
__ADS_1
Dengan tarikan yang panjang Adela menggenggam tangan Raiz hingga akhirnya tubuh Adela diam tak bergerak.
"Adela... Adela.. bangun....!!! "