Sang Ajudan

Sang Ajudan
Kamu Bukan lah yang Pertama, Tapi Yang Terakhir


__ADS_3

"Hmmmm... Mas sudah ih. " Ucap Adela pelan dengan mata yang masih mengantuk berat.


"Bangun nggak, sebentar lagi Shubuh." Ucap Raiz sambil mengusal pada bagian perut Adela yang hanya terbungkus selimut.


"Masih ngantuk Mas, kamu tahu kan tadi malam sampai jam berapa. " Ical Adela dengan suara serak nya.


"Tapi mandi dulu, Sholat shubuh sama - sama terus kalau mau tidur, tidur lagi juga nggak apa - apa. Ini kan hari minggu."


"Nanti Mas, sepuluh menit lagi ya. "


"Bangun dulu, nanti keburu habis waktu nya. "


"Nanti Mas, ini badan sakit semua. "


"Jangan banyak alasan, yuk mandi. Nanti Mas siapkan air hangat nya. "


Adela dengan mata yang masih berat bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang namun mata masih menutup.


"Astagfirullah Yank, ayuk mandi besar dulu. Terus kita sholat berjamaah. " Ucap Raiz dengan berkacak pinggang.


"Iya, bawal banget sih. " Gerutu Adela dengan wajah cemberut.


"Nggak boleh begitu yank sama suami, harus nurut. "


"Iya maaf. "


******


"Bu maaf ada tamu. " Ucap Yuna.


"Tamu siapa? " Tanya Adela.


"Apa kabar Adela. "


Adela meminta Yuna untuk meninggalkan nya berdua dengan pintu yang terbuka.


"Kabar baik Bang, apa kabar? " Sapa balik Adela.


"Alhamdulillah baik, maaf kalau Abang kemari tidak membuat janji. "Ucap Irfan.


" Abang ada apa kemari? Jangan sampai suami saya salah paham Bang. "


"Abang hanya kangen sama kamu, memang Abang salah kini kamu sudah menjadi istri orang. Tapi Abang tidak bisa menahan rasa ini."


"Bang, ingat Kinanti dia istri Abang. "


"Saya menceraikan nya, saya tidak tahan dengan sikap protektif nya. Dia berbeda sama kamu, dia terlalu keras dan menuntut."

__ADS_1


"Kita sudah berbeda jalan, ada hati yang harus saya jaga. Ada cinta yang harus tetap setia. Maaf Bang, jangan jadi orang ketiga."


"Maaf kan Abang, biarlah Abang mencintai kamu dalam diam. Biarlah rasa ini hilang dengan sendirinya."


"Maaf Bang, jangan. Carilah wanita lain, jangan saya. Abang tahu saya sudah menikah, cinta kita sudah menyatu."


"Abang tidak sanggup hidup tanpa kamu, Abang tak sanggup Adela. Cinta Abang hanya untuk kamu dari dulu. "


"Tapi Allah tak mengizinkan kita bersatu Bang, kita selamanya tak akan pernah bisa bersatu."


"Abang tahu, jadi biarkan Abang mencintai kamu dalam diam. Biar sampai mata ini tertutup. "


"Bang, silahkan mencintai saya. Tapi bukan cinta sebagai seorang pria pada wanita. Cintai saya sebagai adik Abang, sebagai saudara. Bang, rasa saya sudah mati hanya rasa sebagai saudara. "


Irfan menundukkan kepala nya dan menangis terisak, dan mengangkat kepalanya menatap ke arah Adela.


"Maaf kan Abang sebelum nya, dan tolong kenang lah Abang dalam ingatan mu hingga tua nanti. Kenang lah hal terindah kita, walau raga ini tak bisa menyentuh kamu atau mencium kamu. "


"Saya akan selalu ingat Abang. "


"Terima kasih sudah mau bertemu sama Abang, terima kasih. "


"Bang."


"Iya."


"Abang adalah cinta pertama saya tapi bukan cinta terakhir saya. "


"Amin, terima kasih. "


" Abang pamit. "


"Iya Bang. "


Raiz pun keluar dari dalam ruangan Adela, Adela membalikan badan nya menatap photo pernikahan nya air mata tiba - tiba menetes saat merasakan apa yang di rasakan Irfan.


"Kita tidak pernah bisa bersatu Bang, sampai kapan pun. "


Dor


Adela menoleh ke arah luar ruangan,dan semua orang berlari saat mendengar suara tembakan yang sangat keras.


Adela berlari saat melihat teras pendopo penuh dengan kerumunan orang, Adela pun menerobos pada kerumunan dan melihat tubuh Irfan tergelatak penuh darah yang mengalir keluar dari kepalanya.


Adela menangis dan berlutut di depan tubuh Irfan, tangisan nya kencang saat melihat orang yang pernah di cintai nya menembak kan diri tepat di kepalanya.


"Abang...hiks...hiks...Abang kenapa melakukan ini....Abang....!!!"

__ADS_1


Raiz berlari saat mendengar adanya penembakan diri di area pendopo, dan saat sampai Raiz melihat Adela menangis sambil memeluk tubuh Irfan yang sudah bersimbah darah bahkan pakaian Adela pun penuh darah.


*****


Raiz terus memeluk tubuh Adela setelah memberikan beberapa keterangan tentang pertemuan nya yang terakhir bersama Irfan.


Raiz hanya bisa diam tak bicara sepatah kata pun hanya mendengarkan isak kan tangis Adela.


"Sebegitu besar nya cinta Bang Irfan pada saya, sampai dia mengakhiri hidup nya. " Ucap Adela.


"Cinta Mas juga besar untuk kamu." Ucap Raiz.


"Saya belum bisa membalas kedua pria yang mencintai saya, belum bisa membalas nya. "


"Irfan lebih memilih mengakhiri hidup nya karena dia hanya mencintai kamu, hidupnya tertekan karena cinta yang di paksakan."


"Tapi cinta saya sudah mati Mas sama dia, hanya Mas yang saya cinta untuk saat ini dan seterusnya. Dia cinta pertama saya tapi buat saya Abang adalah cinta sejati dan terakhir." Ucap Adela.


Raiz semakin mengeratkan pelukan nya dan mencium pucuk kepala Adela, dan saat itu Jenazahnya Irfan pun keluar dan bertepatan dengan datangnya keluarga Irfan.


Tangisan pecah kedua orang tua Irfan yang baru sampai dari luar kota, kedua nya memeluk kantong jenazahnya setelah melakukan proses pemeriksaan pada Jenazah.


Pak Anwar menoleh ke arah Adela dan langsung berjalan ke arah Adela, dengan sigap Raiz menghalangi tubuh istri nya.


"Adela maaf kan kami. "


Adela tetap diam dan menggenggam erat tangan Raiz, dan melihat raut wajah penyesalan dari Ayah Irfan.


"Maaf kan kami, kami salah membuat Irfan seperti ini. "


"Setelah anak anda pergi untuk selamanya baru sadar, apakah sebelumnya tidak pernah mengerti akan perasaan anak Bapak. Minta maaf tidak bisa mengembalikan Bang Irfan untuk hidup kembali, di akhir hidup nya dia hanya cinta sama saya. Cinta nya dia bawa sampai mati. Sekarang baru sadarkah, tubuh nya kini tak lagi bisa bangun, karena sikap kalian membuat anak Bapak sama Ibu pergi untuk selama - lamanya . " Ucap Adela dengan terisak.


"Maaf kan kami, maaf kan kami. "


"Saya maaf kan Bapak sama Ibu, hanya sikap kalian saja bagaimana pada Bang Irfan yang kini sudah tiada, Bang Irfan lebih baik sekarang dan lebih memilih untuk jalan hidup nya dan mungkin ini terbaik buat nya dari pada menuruti keinginan kalian." Ucap Adela menarik tangan Raiz untuk pergi meninggalkan kedua orang tua Irfan.


"Pah, hiks.. hiks..Mamah menyesal. "


"Kita sudah terlambat, kita terlambat."


****


"Sudah siap untuk ke pemakaman Irfan? " Tanya Raiz.


"Siap Mas. " Jawab Adela.


"Kalau tidak siap, jangan hadiri pemakaman nya. Biar Mas saja yang datang. "

__ADS_1


"Nggak Mas, saya ingin memberikan salam perpisahan pada Bang Irfan untuk terakhir kalinya."


"Ya sudah, kita berangkat sekarang."


__ADS_2