
Di dalam Ambulance, Raiz tak henti - hentinya membangun kan Adela. Bunyi suara detak jantung terdengar nyaring di telinga. Adela yang di bantu dengan alat pernafasan terlihat nafas yang tidak beraturan.
"Bangun sayang, jangan ditinggalkan Mas. Katanya kamu ingin menikah sama Mas. Kita akan segera menikah, kamu harus bangun. " Ucap Raiz menggenggam erat tangan Adela.
Mobil Ambulance melaju sangat kencang, hingga akhirnya sampai di rumah sakit. Adela pun segera mendapatkan pertolongan, dan Raiz pun di bantu Sony untuk mengurus segala administrasi nya.
"Nak, mamah kaget saat dapat telepon dari kamu kalau Adela tak sadar kan diri. " Ucap Ibu Laila.
Raiz memeluk tubuh Mamah nya, dalam dekapan Mamah nya Raiz terisak menangis.
"Adela Mah hiks... hiks... Adela...!!! "
"Iya, sabar ya pasti Adela tertolong. "
"Pak Raiz. " Panggil Dokter.
Raiz dengan segera mengusap air matanya dan berjalan ke arah Dokter yang memanggilnya.
"Bagaimana Dok? " Tanya Raiz.
"Kondisi Ibu semakin sangat kritis, kalau pun ada harus segera mendapatkan donor jantung. " Jawab Dokter.
"Sampai saat ini saya belum mendapatkan donor jantung nya, kemarin sempat dapat tak cocok dengan Adela. " Ucap Raiz.
"Melakukan Operasi juga percuma Pak, ini tidak akan menolong kondisi Ibu. Sampai Bapak keluar negeri pun akan tetap sama. "
"Ya Allah, harus cari di mana Donor Jantung secepat ini. "
"Ibu akan segera di pindahkan di kamar rawat."
"Terima kasih Dok. " Ucap Raiz.
****
Alat medis terpasang di seluruh tubuh Adela, Raiz terus menatap ke arah kekasih nya yang kini terbaring tak berdaya.
"Apakah permintaan kamu tadi malam itu pertanda kita akan berpisah, apakah kamu itu sudah merasakan nya Adela. "
Hiks.. hiks... hiks...
"Mas mohon, jangan tinggalkan Mas. Masih banyak mimpi yang belum kita capai bersama - sama. "
Ibu Laila dan Sony masuk kedalam kamar rawat dimana Adela terbaring lemah.
"Raiz, apakah Pak Syarif perlu saya jemput?" Tanya Sony.
"Kasih tahu dia pelan - pelan, bagaimana juga keluarga nya harus tahu Adela sekarang di rumah sakit. " Jawab Raiz.
"Kalau begitu hari ini saya akan berangkat ke sana. " Ucap Sony.
"Terima kasih. "
"Ya ikhlas ya. " Ucap Sony.
__ADS_1
"Iya, saya ikhlas. "
Setelah Sony keluar, Ibu Laila mendekati tubuh Adela. Di belai nya wajah Adela yang tampak sangat pucat dan lemah.
"Kalau sudah seperti ini kamu harus ikhlas, hanya menunggu Mukzijat dari Allah. "
"Insya Allah Raiz ikhlas Mah, insya Allah Raiz ikhlas. "
"Bagaimana juga, akhir kisah cinta Adela itu sangat indah, cinta sejatinya hingga sampai dia kembali padanya. "
Hiks... hiks.. hiks...
"Iya Mah, insya Allah Raiz akan belajar ikhlas setelah itu. " Ucap Raiz semakin terisak.
******
Mata Adela membuka, pandangan yang yang satu dan menatap lurus. Raiz yang baru saja masuk saat melihat Adela sadar langsung mendekati nya.
"Sayang, kamu sadar sayang. Mas panggil Dokter dulu . "
Adela hanya diam dengan air mata yang keluar dari kedua sudut kelopak matanya.
"Temani saya Mas. " Ucap Adela pelan.
"Iya, Mas selalu disini. " Ical Raiz.
"Mas, di depan sana sangat indah. Ibu tersenyum sama saya, dia lambaikan tangan nya tapi hanya tersenyum. "
"Dia merentang kan kedua tangan nya, saya terus berlari agar mendekati nya. Tapi larinya saya tak sampai - sampai. "
"Kamu nggak memimpikan Mas? " Tanya Raiz.
"Hanya merasakan jauh untuk saat ini." Jawab Adela.
"Mas insya Allah akan ikhlas, Mas ikhlas."
Adela tersenyum dan menatap ke arah Raiz yang menahan isak tangis nya.
"Maaf Mas, kalau tak sampai yang kita ingin kan. Tapi saya sudah bahagia bisa sampai di titik ini. "
"Mas nggak bisa bicara apa - apa lagi. "
Adela tersenyum tangan nya berusaha terangkat untuk meraih wajah Raiz. Raiz yang tahu langsung membantu mengarahkan tangan Adela ke wajah nya.
"Jangan menangis, kalau seperti ini tidak gagah lagi dan ketampanan Mas hilang. "
Raiz tersenyum dengan semakin terisak, di cium nya kedua pipi Adela dan terakhir mengecup bibir nya.
"Apa yang ingin kamu lakukan sama Mas?"
"Mimpi terindah bersanding kembali bersama Mas. "
Adela kini mengeluarkan air matanya kembali dan menangis.
__ADS_1
"Kita menikah sekarang, setelah Ayah tiba di sini. Kita langsung menikah. " Ucap Raiz.
"Ayah.. hiks.. hiks.. "
"Iya, Ayah akan tiba sekarang sedang dalam perjalanan kemari. Mas akan minta persiapkan semuanya."
*****
"Mamah akan bantu persiapkan semuanya, kamu fokus sama Adela saja. " Ucap Ibu Laila.
"Terima kasih Mah. "
"Iya, sekarang kamu temani Adela biar mamah mulai bekerja sekarang. "
"Raiz kembali ucapkan terima kasih."
"Sama - sama sayang, sekarang Mamah pergi dulu. "
Nafas Adela yang sudah tak beraturan, Raiz segera mendekati Adela.
"Masih kuat kan? " Tanya Raiz.
"Kuat Mas, Adela akan tunggu. " Jawab Adela.
"Maaf, Mas hanya bisa melakukan nya seperti ini. "
"Tidak apa - apa, ini adalah sesuatu yang sangat indah. "
*****
"Mas, calon menantu kamu sekarat sekarang. Apa hati kamu masih keras seperti batu. " Ucap Ibu Nuri.
"Sudahlah Nuri, kamu pergilah jangan kembali lagi pada saya kalau kamu masih membahas itu. " Ucap Pak Kusumo.
"Baik, kalau yang itu yang Mas ingin kan.Tapi Mas harus tahu, saya sempat mencintai Mas. Saya yakin kamu pun sama. Saya merasakan hal yang berbeda, tapi sikap dingin nya kamu itu adalah bukti kamu menolak dan menahan rasa cinta pada saya. Dan saya tahu, hadir nya saya adalah sebagai orang ketiga Cinta Mas hanya untuk mba Laila. Saya sadar tak pantas untuk mencintai majikan nya. Tapi bila saya sudah tak ada lagi di dunia ini, tolong jangan sesali apa yang Mas lakukan. Saya hanya ingin titip Raiz, katakan padanya cinta saya tidak akan pernah putus walau Raiz tak tahu siapa saya ini dan tak mengakui saya Ibu nya. Dia tak tahu atau tak mengakui saya ikhlas, hanya bisa dekat saja hal yang terindah. Mas tahu, jujur sampai detik ini masih ada secuil rasa, dan itu tidak akan mungkin. Hanya yang saya minta, kisah Raiz dan Adela jangan seperti kisah kita. Biar hanya saya yang merasakan cinta yang tak akan pernah mungkin bersatu. " Ucap Ibu Nuri.
"Maaf kan saya, terima kasih sudah pernah mengisi hari - hari saya walau hanya sebentar. " Ucap Ibu Nuri kembali.
Dari balik tembok, Ibu Laila terisak dengan membungkam mulut nya dengan kedua tangan nya.
"Maaf kan saya Nuri, maaf kan saya. Ini salah saya menjadikan kamu hadir di dalam rumah tangga kami. " Ucap Ibu Laila dalam hatinya.
*****
"Adela..... ya Allah Nak, Adela.... maafkan Ayah. "
.
.
.
.
__ADS_1