
"Kenapa Mamah Mas, yang mendonorkan jantung nya untuk saya? Mamah sakit apa Mas? " Ucap Adela terisak.
"Aneurisma Otak, Mamah sakit itu. Bahkan organ tubuh nya dia amalkan untuk yang membutuhkan. " Ucap Raiz.
"Ya Allah Mamah, makasih Mah.. makasih." Ucap Adela sambil memegang dada nya.
"Mas bukan anak kandung Mamah Laila. "
Adela menatap ke arah Raiz seakan meminta sebuah penjelasan.
"Maksud Mas? "
"Mas anak Ibu Nuri sama Papah. "
"Nggak bercanda kan? "
"Mas juga begitu sepemikiran, tapi mamah berkali-kali bilang Ibu Nuri adalah Ibu kandung Mas. "
"Pantas selama ini Ibu Nuri sangat sayang sama Mas. "
"Mas belum bertemu sama dia, bahkan belum bicara sama Papah. " Ucap Raiz.
"Bagaimana pun bagi Mas, Mamah Laila Ibu kandung Mas. " Ucap Raiz kembali.
"Mas."
Raiz memeluk tubuh Adela, kembali menangis hingga tubuh Raiz bergetar.
"Mas kangen Mamah hiks... hiks.. hiks... "
"Seandainya Mamah bisa kembali hidup, dan saya mengembalikan jantung nya mungkin Mamah ada bersama Mas. Saya pun tak ada niat untuk meminta jantung nya. "
"Mas tak berpikir untuk tak ikhlas, Mas ikhlas hanya Mas belum siap kehilangan tiba - tiba. Mas selalu rindu bila mendengar detak jantung kamu. "
"Menangis lah Mas, sambil mendengar detak jantung ini. Ada sebagian nyawa Mamah dalam tubuh saya. "
******
"Mas." Ucap Ibu Nuri saat melihat tamu yang mengetuk pintu adalah mantan suaminya.
"Kamu puas sekarang hah. . " Bentak Pak Kusumo dengan kasar mendorong tubuh Ibu Nuri.
"Mas...!!! "
"Laila telah pergi untuk selamanya, kamu pasti tahu kan tentang sakit nya Laila..!! "
"Sumpah Mas, demi Allah saya tidak pernah tahu tentang sakit nya dia. Saya baru tahu kemarin. "
"Saya sangat mencintai nya Nuri, saya sangat mencintai nya. Kini dia pergi untuk selama - lamanya. "
"Mas, saya pun kehilangan dia, saya tidak menyangka pendonor jantung itu adalah Mba Laila. "
"Saya semakin membenci anak itu. "
"Adela tak pernah punya salah, hanya Mas lah yang membuat masalah itu sendiri. Anak kita sangat mencintai nya Mas. Dia tak pernah salah, dan ada nyawa Mba Laila disana. Sampai kapan kamu akan terus bersikap begitu padanya. Mas saya mohon, berhentilah membenci Adela, bila kamu membenci nya sama saja kamu menyakiti hati Mba Laila."
__ADS_1
Hiks.. hiks.. hiks...
"Laila...!!!! "
******
"Sudah Mas kenyang. " Ucap Adela saat Raiz menyuapi nya dengan bubur.
"Sedikit lagi, ada tiga sendok lagi." Ucap Raiz.
"Sudah kenyang. "
"Ya sudah, Mas habiskan sisa makanan kamu. "
"Ih jangan Mas. " Ucap Adela menyentuh tangan Raiz.
"Kenapa? "
"Itu bekas Adela, kan Adela sakit. "
"Biarin bekas istri sendiri. " Ucap Raiz memakan sisa bubur milik Adela.
"Mas bilang apa tadi? " Tanya Adela.
"Bekas istri sendiri. " Bawah Raiz.
"Istri? " Ucap Adela.
"Kamu lupa kalau kita sudah menikah, atau kamu memang saat itu tak sadar ya kalau kita menikah. " Ucap Raiz menerka.
"Tahu lah Mas, walau kondisi down saat itu. Saya masih bisa mendengar saat akad nya. Dan kalau di ingat, saat itu sangatlah dekat dengan kematian . "
*****
"Adela ini Ibu bawakan buah sama bubur ayam untuk kamu. Dan ada nasi sama lauk nya untuk Raiz. " Ucap Ibu Nuri datang membawa banyak makanan.
"Terima kasih Bu, jadi merepotkan." Ucap Adela.
"Nggak kok, ini nggak merepotkan. " Ucap Ibu Nuri.
Raiz hanya diam terus menatap televisi yang menyala di kamar rawat Adela.
"Raiz kamu makan dulu nak. " Ucap Ibu Nuri.
"Bu, kenapa Ibu tidak pernah jujur sama Raiz kalau Ibu adalah Ibu kandung Raiz. "
Ibu Nuri diam dan terus menata makanan di atas nakas samping Adela.
"Kenapa Ibu mau melakukan itu kalau sebenarnya hati ibu sakit. "
"Maaf kan Ibu Nak. "
"Ibu tahu, karena saya tidak tahu nya tentang Ibu saya lebih sayang sama Mamah Laila. "
"Bagi Ibu tidak apa - apa, asal buat Ibu masih bisa melihat kamu. "
__ADS_1
"Bu, saat tahu Ibu rela menikah dengan Papah karena Mamah Laila yang meminta. Apakah kesediaan Ibu akan mendapatkan cinta dari Papah? Saya rasa cinta Papah hanya untuk Mamah Laila. "
"Tidak apa - apa, Ibu Ikhlas. Yang penting mereka bahagia dan kamu pun bahagia. "
"Bahagia di bawah penderitaan Ibu. "
"Ibu ikhlas nak, ikhlas bahkan kamu tahun tidak sayang sama Ibu pun tak apa. Karena Ibu sadar mereka yang sangat dekat sama kamu. "
"Bu, saya yang merasa bersalah . Selama ini melihat Ibu bagi Raiz hanya seorang wanita paruh baya yang sebagai asisten rumah tangga. Raiz sangat bersalah bu, Raiz minta maaf sama Ibu. "
Ibu Nuri menangis dan langsung memeluk tubuh Raiz dan Raiz pun membalas pelukan nya.
"Maaf Kan Raiz bu. "
"Namun tidak salah nak, keadaan yang merubah kita. Seperti ini saja Ibu sudah bahagia melihat kamu bahagia. "
"Raiz mohon jangan pergi meninggalkan Raiz, Raiz tidak mau kehilangan orang yang Raiz sayang. "
"Tidak Nak, Ibu akan tetap berada di antara kalian. "
"Terima kasih bu, terima kasih."
****
Raiz menyisir rambut panjang Adela, dengan telaten semenjak Adela terbaring di rumah sakit, Raiz dengan telaten mengurus Adela. Bahkan Raiz pun mengajukan cuti untuk menemani Adela.
"Mas, saya ingin keluar jalan - jalan sekitar rumah sakit. "
"Boleh, nanti Mas ambil kursi rodanya dulu."
Raiz mendorong kursi roda yang di duduki oleh Adela, tak henti - henti nya Adela bercerita tentang masa kecil nya. Raiz hanya menimpali dengan senyuman.
"Setiap hari saya kangen Ibu Mas, bahkan saat sakit kemarin saya sering melihat ibu. "
"Mereka semua sudah bahagia, dan hanya kiriman doa untuk mereka disana. Suatu saat nanti kita akan bersama kembali." Ucap Raiz.
Raiz lalu berpindah dan berjongkok dan berhadapan dengan Adela , kedua tangan Adela Raiz genggam dan mencium kedua punggung tangan nya.
"Semoga kita bisa bersama hingga tua nanti, kita besarkan anak - anak kita bersama. Semoga cinta kita abadi selama nya. "
"Amin... jujur saya bahagia sekali Mas saat ini. Saya sangat bersyukur di beri kehidupan yang kedua, di berikan suami seperti Mas dan di kelilingi oleh orang baik. "
Raiz mengusap pipi Adela di cium kening nya sangat lama dan beralih ke bibir tipis yang selalu Raiz rindukan.
Adela tersenyum dan mengusap rambut Raiz lantas mengambil tangan Raiz untuk di cium punggung tangan nya.
"Kedua tangan ini yang akan selalu memeluk tubuh saya untuk saat ini dan saat nanti. "
.
.
.
.
__ADS_1
.
.