Sang Ajudan

Sang Ajudan
Cinta Seutuh nya


__ADS_3

"Nama Yuna Pradwita, kamu angkatan di bawah saya 3 tahun ternyata ya. " Ucap Adela saat membaca profil Yuna, Ajudan Adela.


"Benarkah Bu? " Tanya Yuna.


"Benar, tahun segini saya senior kamu Ternyata kamu adik tingkat saya ya. Ok Yuna, kamu sebagai Ajudan saya sekarang semoga kita bisa menjalin dengan baik." Ucap Adela. "


"Baik Bu. "


"Kamu punya anak? "


"Punya bu , usia 5 tahun. "


"Suami? "


"Suami saya, Tentara Angkatan Laut."


"Jarang pulang dong."


"Kalau dia sedang berada di lautan bu, sekarang saja dia berada di perairan samudera Pasifik. "


"Ok, cukup dari saya untuk tanya - tanya nya. Kamu boleh pergi. "


"Permisi bu. "


Setelah membaca profil Yuna dan mewawancarai nya, Adela bangun dari kursinya , Raiz tersenyum ke arah istri nya yang sedang berjalan ke arah nya.


"Puas kan pilihan Sony? "


"Puas, punya suami dan anak. "


"Temani Mas kerja di ruangan, bantu - bantu ya. " Ucap Raiz sambil menaik turun kan alisnya.


****


Raiz memangku Adela sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan yang dia bawa ke rumah, Adela yang terus memperhatikan suaminya yang serius tersenyum jahil.


Perlahan tangan Adela menjelajahi dada milik Raiz, satu persatu kancing kemejanya Adela lepas namun saat sisa dua kancing tangan Raiz menahan tangan nya.


"Stop, Mas sedang kerja. "


"Mas, nggak ingin gitu. " Bisik Adela dengan menggigit kecil telinga Raiz, hingga membuat tubuh nya sedikit terbakar.


"Yank, Mas pria normal.Kalau begini nanti di bawah langsung mode siap tempur. "


"Masa." Ucap Adela langsung memegang milik Raiz yang ternyata sudah keras.


"Yank, kamu nantang ya..!!! "


Adela menggigit bibir bawah nya dengan tatapan seolah ingin lebih.


"Boleh ya. " Bisik Adela.


"Mas masih belum berani yank. "


"Saya mainkan sendiri. "


"Yank, sudah akh. " Tolak Raiz.


Namun dengan lihai jemari nya melepaskan ikat pinggang nya dan melepaskan resleting celana yang di kenakan Raiz.


"Yank, kamu jangan pe******sa Mas loh. "


"Biarin, orang istri lagi pengen malah nolak. Sekalian aja saya pe*******sa Mas. "


Dengan cepat Adela mengeluarkan nya yang sudah keras, Adela tertawa kecil saat sekarang dirinya menggenggam nya.


Mata Raiz terpejam, saat di bawah sana Adela terus membuat nya terbang ke atas awan hingga tangan Raiz mencengkram meja kerja milik nya.


Aaaaaarrrrggghhh


"Yank....!!! "


Seketika Adela menelan nya, bahkan membuat mata Raiz terbelalak melihat tak percaya apa yang di lakukan Adela.


"Kamu belajar dari mana? "


"Ada deh. "


"Jawab yank, jangan - jangan sudah praktek duluan ya hayo ngaku. "


"Ih... nggak Mas. "

__ADS_1


"Ngaku nggak, belajar dimana? " Tangan Raiz mengangkat dagu Adela ke atas.


"Kalau nggak ngaku, Mas hukum kamu terus di ikat di bawah pohon besar yang ada di samping alun - alun."


"Jangan dong Mas, katanya di situ ada penghuni nya. "


"Iya ada, biar kamu di telan hidup - hidup."


"Nanti saya jadi pengikutnya dong."


"Biarin, kalau kamu nggak ngaku. "


"Iya ngaku deh. "


"Belajar sama siapa? "


"Lihat video ssss. "


"Ya ampun sayang, kamu belajar dari sana. Sejak kapan? "


"Sejak nikah saja sama Mas. "


"Nakal ya kamu, tapi sekarang kalau kamu lagi ingin jangan lihat video begituan, kamu langsung terkam Mas saja. "


"Giliran Mas terkam saya kapan? "


"Kamu yakin? "


Adela menganggukkan kepala nya dengan mata yang berbinar. Dengan gerakan cepat Raiz langsung mengangkat tubuh Adela menuju ke arah sofa.


Di baringkan tubuh Adela, dengan perlahan tangan Raiz menjelajahi setiap inci yang ada di depan matanya.


Ciuman lembut Raiz berikan pada Adela, hingga terbuai. Kedua tangan Adela merangkul pinggang Raiz hingga suara indah terdengar di seisi ruangan.


Tanpa Ampun yang membuat di mata Raiz begitu sangat menantang, hingga kini mereka tanpa penutup.


Raiz menatap mata Adela saat akan menyatukan milik mereka, dengan saling menatap Adela menganggukkan kepalanya lalu memejamkan matanya.


Hentakan pun terjadi, hingga beberapa kali hentakan akhirnya menerobos gawang, kuku panjang Adela terus mencakar punggung Rai hingga merasakan perih nya akibat cakaran.


Adela beberapa kali mencapai naiknya puncak, hingga mereka bersama berada di puncak paling atas.


Raiz mencium kening Adela setelah menuntaskan semuanya, terlihat senyum bahagia pengantin baru yang masih hangat.


"Boleh minta lagi? " Jawab Adela dengan senyum menggoda.


"Serius nih? "


"Iya lah serius, masa nggak serius. "


"Awas ya.. kalau besok nggak bisa jalan. "


*****


Adela tertidur di sofa panjang di ruang kerja Raiz, yang hanya tertutup selimut. Seutas senyuman pada wajah Raiz saat melihat kini Adela menjadi milik seutuh nya.


"Mas, masih seperti mimpi. Kamu kembali sama Mas saat ini. "


Raiz mencium kening Adela hingga si pemilik tubuh menggeliatkan tubuh nya.


"Mimpi indah sayang... "


*****


"Mas, kok nggak bangunin saya sih? " Ucap Adela yang langsung menutupi sebagian tubuh nya dengan selimut.


"Kamu kan capek sayang. "


"Kan saya belum siapkan pakaian dinas punya nya Mas, jadinya siapkan sendiri kan."


"Nggak apa - apa, Mas juga bawakan sarapan kesini. Kita sarapan sama - sama. "


"Belum cuci muka, belum sikat gigi."


"Udah nggak apa - apa, kamu tetap cantik."


"Jorok."


"Jorok juga Mas tetap cinta."


"Nggak akh.. jorok. Awas minggir mau ke kamar mandi. "

__ADS_1


Adela beranjak bangun namun merasakan perih saat akan berjalan.


"Kenapa Yank? "


"Perih."


"Mas bilang apa, nantangin sih. "


"Terus gimana jalan ke kamar mandi nya? "


"Ya jalan sana tinggal masuk, nggak lihat Mas sudah rapih begini. "


"Jahat, berani berbuat nggak berani tanggung jawab. "


"Kan sudah rapih Yank. "


"Augh akh..!!! " Adela cemberut lalu memaksakan langkah nya yang sakit, Raiz pun tak tega langsung mengangkat tubuh Adela.


*****


"Lama sekali bro, lihat jam berapa ini. " Ucap Sony kesal.


"Maaf ada masalah teknis. " Ucap Raiz sambil mengancing lengan tangan nya.


"Rambut nya kok masih basah, nggak pake hairdryer ya? "


"Nggak sempat. "


"Wualah pasti habis main suntik - suntikan."


"Kalau iya kenapa? "


"Lihat waktu. "


"Makannya nikah, biar bisa main suntik - suntikan terus. "


"Cariin dong. "


"Boleh, mau janda tinggal mati atau janda cerai? "


"Perawan dong. "


"Mau perawan tingting atau perawan tong tong. "


"Kalau perawan tong - tong yang bagaimana?"


"Noh yang suka mangkal di bawah pohon asem. "


"Melehoy dong. "


"Yuuuuu."


"Cussss akh... "


Hahahahaha


Raiz dan Sony tertawa terbahak - bahak saat memperagakan gerakan tubuh seperti w*****ria.


*****


Adela tersenyum geli, saat melihat tubuh nya penuh stempel warna yang di buat oleh Raiz. Hingga dirinya masih mengingat pergulatan mereka berdua.


"Kamu gagah Mas kalau lagi begitu. "


Adela tertawa geli sambil memutar - putar kan tubuh nya di depan cermin di kamarnya.


****


"Kenapa? "


"Pinggang sama lututnya sakit banget."


"Yaelah, Pak Bupati kayak apa saja. Mau enak tapi nggak mau dapat efek nya.


" Habis ini cari tukang pijat. "


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2