
Raiz menikmati makan malam nya, sedangkan Adela sambil memegang sendok nya terkantuk - kantuk hingga beberapa kali sendok nya jatuh.
Raiz hanya bisa tersenyum dan menggeleng kan kepala nya dan mengakhiri makan malam nya.
"Sayang, kalau memang ngantuk kenapa nggak tidur. "
Adela terjaga dan tersenyum lantas melanjutkan makan nya, dan Raiz mengambil sendok dari tangan Adela dan menyuapi nya.
"Saya makan sendiri Mas. " Ucap Adela.
"Mas suapin, Mas kasihan sama kamu sampai nungguin Mas dari tadi. "
"Kan nggak enak masa makan sendiri dan tidur duluan. "
"Kalau sudah capek nggak apa - apa, tidur saja. Jangan tungguin mas lagi. "
"Sekarang habisin, habis ini kita ke kamar."
*****
"Mas."
"Ehm."
"Setelah nanti nggak jadi Bupati, Mas tetap fokus di dunia politik? "
"Iya, karena itu dunia nya Mas. Dan fokus pada usaha batu bara, mungkin Mas akan sering ke luar kota mengurus perusahaan."
"Biasanya berapa lama? "
"Tergantung sih, kalau memang sedang nggak bisa di tinggal nanti di sana bisa sampai sebulan. Kalau bisa ditinggal Mas urus kerjaan di kantor pusat. '
" Sekarang siapa yang jalankan perusahaan Mas? "
"Papah yang jalan kan, karena itu memang usaha milik Papah yang di waris kan sama Mas. "
"Mas orang kaya ternyata. "
"Kenapa memang? "
"Ya beruntung saja punya suami kaya. "
"Kalau miskin? "
"Ya nggak gimana - gimana, kalau itu rejekinya saya. "
"Usaha Mas yang di bangun dari nol adalah sablon dan batik cap itu usaha Mas. Hanya Mas tidak jual produk nya disini, karena sudah kontrak dengan perusahaan asing di Eropa. Itu usaha Mas, dan hanya perlu kerja di depan komputer saja. "
__ADS_1
"Berarti tabungan Mas banyak dong. " Ucap Adela dengan mata berbinar.
"Alhamdulillah, itu tabungan juga punya kamu juga sayang. Kamu boleh gunakan uang itu sebagian asal bisa atur saja. "
"Ah... makasih, kalau begini jiwa matre terlihat dan jiwa glamor pun keluar. "
"Hus.. nggak boleh, Mas nggak suka kalau berpenampilan lebih. Mas suka yang sederhana. "
"Heeeeee.. ya nggak lah. "
"Aaarrrrggghhh sayang, kapan Mas bisa mainin kamu. " Raiz langsung merebahkan kepala nya di dada Adela sambil memainkan kancing piyama nya.
"Sekarang juga boleh Mas. " Ucap Adela yang sudah ingin menikmati malam panjang bersama suaminya.
"Nggak akh, kamu baru sembuh. Olahraga malam kan pasti menguras tenaga dan pasti detak jantung akan berdenyut sangat keras."
"Kalau Mas mau nggak apa - apa sih. "
"Nggak, nanti lagi. " Ucap Raiz semakin mengeratkan pelukan nya.
"Kalau nggak mau, jangan begini dong Mas. Kan sesak. "
"Heeee.. maaf sayang. "
*****
"Ada di atas meja rias kan Mas, biasanya juga di taruh disitu. " Ucap Adela yang membantu mencari pin milik Raiz.
"Cepat yank, sebentar lagi Apel kenaikan bendera, ini hari senin dan Mas yang menjadi pembina upacara nya. "
"Sabar Mas, kemarin terakhir taruh di mana? Saya nggak merasa menyimpan. "
"Di atas meja rias Yank. "
"Ini apa? " Adela menunjukkan pin yang berada di dalam kotak perhiasan milik Adela.
"Siapa yang taruh di situ? " Ucap Raiz.
"Mana saya tahu Mas, emang nya nih pin jalan sendiri. "
Adela memasang kan pin pada seragam yang di kenakan Raiz yang berwarna putih.
"Makasih sayang. " Raiz mengecup kening Adela.
*****
"Ini profil Ajudan terbaru nya kamu. " Sony memberikan profil calon Ajudan untuk Raiz.
__ADS_1
"Kamu saja yang menilai, saya nggak mau ambil pusing. " Ucap Raiz mengembalikan berkas milik calon Ajudan nya.
"Baik, saya akan memilih. "
"Yang penting jangan perempuan."
"Beres."
"Oh iya, saya lupa. Berkas nya Adela sudah masuk kan? "
"Sudah, mereka sudah tahu kalau Adela istri kamu. Dan akan off sementara selama dia menjabat sebagai istri Bupati. "
"Iya, makasih. Dan tolong Ajudan untuk dia saya serahkan juga sama kamu. Kalau bisa Ajudan nya sudah menikah, karena saya tidak mau nanti bawanya curiga terus."
"Aneh , apa Adela akan seperti itu? " Ucap Sony.
"Siapa tahu kan, mending saja sudah antisipasi. "
"Wualah antisipasi mulut mu." Ucap Sony sambil tersenyum.
*****
"Saya memilih kamu Andi, dan kamu Yuna." Ucap Sony saat memilih Ajudan untuk Raiz dan Adela.
"Terima kasih Pak. " Ucap salah satu Ajudan Bupati.
"Kalian sudah banyak pengalaman ya"
"Sudah Pak, bisa di baca profil. " Ucap calon Ajudan wanita yang telah di pilih Raiz.
"Ok, kalian saya terima, mulai besok kalian. sudah bisa Dinas. Dan menjadi seorang Ajudan nya."
"Terima kasih Pak. "
"Terima kasih. "
.
.
.
.
.
.
__ADS_1