
"A - ayah!! " Ucap Adela terbata.
"Nak, maaf kan Ayah. Maaf kan Ayah..!! "
Hiks.. hiks.. hiks..
Adela terus menarik nafasnya seperti sangat kesusahan, dengan pandangan mata yang terus lurus ke depan.
"Nak, kamu kuat sayang, kamu pasti kuat. "
Adela terus diam hanya matanya terkadang melirik sekilas, tangan Adela mencari tangan Ayah nya dan Pak Syarif segera menggenggam tangan Ayah nya.
"A - Ayah harus bahagia, walau tanpa Adela nanti. "
"Nggak nak, kamu nggak akan pergi tinggal kan Ayah. Kamu pasti sembuh. "
Adela tersenyum dan meneteskan air matanya, sedangkan Raiz wajahnya sudah berubah menjadi kusut menatap Adela yang seperti menahan kesakitan.
"Sony, saya nggak kuat melihat dia seperti itu." Ucap Raiz.
"Kamu jangan pergi jauh, jangan tinggal kan Adela. " Ucap Sony.
"Saya takut Sony, saya benar - benar takut yang pikiran saya saat ini ada. "
"Kita harus bagaimana lagi, sampai saat ini belum ada kabar pendonor datang. "
"Cek jantung saya, biarkan saya mendonorkan jantung untuk Adela. "
"Kamu jangan g**la, kamu nggak boleh mendonorkan jantung. Sama saja kamu meninggalkan dia untuk selamanya. "
"Lebih baik dia yang hidup, saya tidak akan pernah meninggalkan dia. Karena saya akan selalu berdetak di dalam tubuh nya menemani dia hingga masa itu tiba. "
"Seandainya dia tahu kamu pendonor itu, dia pasti akan kecewa dan menangis. "
"Lantas apa bedanya kalau dia pergi, dan saya pun sama akan menangis kehilangan. "
"Semoga ada keajaiban."
***
"Saya minta restu sama Ayah, kalau saya akan menikahi lagi Adela. " Ucap Raiz.
"Saat seperti ini, kamu meminta Ayah menikahi nya? "Ucap Pak Syarif.
" Ini permintaan Adela Yah, saya mohon ijinkan kami menikah dan kembali bersama."
"Apa kamu sudah pikirkan matang - matang tentang kondisi Adela. "
"Saya sudah siap dari kemarin, saya ikhlas bila itu terjadi. "
Ibu Nuri mengusap punggung Raiz dengan terisak sambil melihat kondisi Adela yang semakin kritis.
"Sayang, kamu siap kan kita menikah malam ini. "
Adela hanya diam namun tangan nya menggenggam sangat erat tangan Raiz seakan merespon kesediaan nya.
"Pak penghulu kami siap. " Ucap Raiz.
"Baik, saksi dari kedua nya sudah berkumpul." Ucap Pak Penghulu.
"Sudah Pak. " Ucap Ibu Nuri.
__ADS_1
Pernikahan Adela dan Raiz di saksikan oleh Dokter dan perawat , namun Raiz mencari sosok Ibu Laila.
"Sony mamah mana? " Tanya Raiz.
"Dari tadi saya belum melihat nya, sekarang kamu segera selesai kan pernikahan ini. Jangan sampai terganggu karena waktu nya nggak lama. " Jawab Sony.
"Sudah siap Pak. "
Raiz berjabat tangan dengan Pak Penghulu sangat serius, dimana proses ijab kabul berlangsung sangat sedih.
Adela dengan tatapan mata ke arah atas dan seolah tak menghiraukan lagi kondisi sekitar nya.
"Saya terima nikah nya Adela Anggita Binti Syarif Hidayatullah dengan mas kawin sebesar 10 juta rupiah dan seperangkat sholat di bayar tunai. "
SAH
"Alhamdulillah."
Raiz menatap Adela dan mencium kening nya , ada setetes air mata yang mengenai pipi Raiz saat dirinya menciumi wajah Adela.
"Sayang, sekarang kita sudah menikah, kamu sudah menjadi istri Raiz. Kamu sekarang Ibu Bupati Pakis. "
Adela hanya diam dan menganggukkan wajah kepalanya, tak henti - hentinya Raiz mencium punggung tangan Adela.
"Seandainya hari ini hari terakhir kita bertemu, Mas hanya meminta pada Allah kasih sedikit waktu agar menikmati waktu kita bersama setelah kita menikah. Mas ikhlas walau kita hanya bersama beberapa jam saja. Mas ingin menikmati waktu sama kamu, mas akan mengiringi kamu dengan ayat - ayat suci Al - Qur'an. "
Setelah selesai semua orang pun keluar memberikan waktu berdua untuk Adela dan Raiz. Tubuh Adela di peluk nya dengan Raiz berbaring di samping Adela.
Raiz terus membisikkan di telinga Adela dengan membaca serangkaian Ayat suci Al - Qur'an, tangisan Raiz terus keluar hingga membuat dadanya sangat sesak.
Setelah ayat terakhir , Raiz mencium kening Adela beralih ke bibir Adela. Dan memeluk tubuh istri nya sangat erat.
Adela meremas tangan Raiz, dan Raiz pun membalas mengeratkan genggaman tangan Adela.
"Ma - Mas. " Ucap Adela pelan.
"Iya sayang. " Ucap Raiz.
"A - apakah kita su - sudah menikah?"
"Iya, kita sudah menikah. Kamu sekarang sudah menjadi Ibu Raiz. "
Adela tersenyum dengan wajah nya yang sudah sangat pucat dan tangan yang sudah mulai dingin.
"Ma - Mas, lihat ada ca - cahaya terang di depan saya. "
"Iya."
"Itu jalan nya sa - saya Mas. "
"Iya Adela. " Ucap Raiz semakin terisak.
"Bim - bing saya Mas. "
Hiks... hiks.. hiks.. hiks...
"Iya."
Hiks.. hiks.. hiks...
"Ja - jangan menangis Mas. "
__ADS_1
"Mas masih berharap ada mukjizat, Mas masih berharap sampai berganti hari kamu menemani Mas. "
Ceklek
Sony masuk dan berjalan ke arah Raiz membisikan sesuatu pada Raiz.
"Apa..!!! "
"Iya, kecelakaan di depan rumah sakit, bahkan sebelum nya sudah di tanda tangani untuk mendonorkan jantung nya."
*****
Raiz berlari menuju sebuah kamar rawat dan terlihat Ibu Laila berbaring lemah di atas tempat tidur sambil tersenyum dengan luka yang yang parah di tubuh nya.
"Mamah..!! "
Ibu Laila mencoba merentangkan kedua tangan nya dan Raiz berlari berhambur memeluk tubuh nya.
"Mamah apa yang terjadi ? " Teriak Raiz dengan masih memeluk tubuh Ibu Laila.
"Mungkin ini, hari terakhir mamah nak. " Ucap Ibu Laila menahan sakit.
"Nggak Mah, tidak Mamah. Jangan katakan itu. Raiz hanya punya Mamah. " Ucap Raiz sambil menangis.
"Kamu bukan anak kandung Mamah. "
"Mamah masih bisa bercanda saat seperti ini."
"Ini benar, Mamah nggak bohong. Kamu anak Ibu Nuri dan Papah kamu, kamu lahir dari rahim nya bukan rahim mamah. "Ucap Ibu Laila.
" Mamah tidak bisa memberikan Papah kamu anak, Mamah sakit hingga rahim Mamah harus di angkat. Dan kamu tahu, Mamah sudah ikhlas karena Mamah sudah puas untuk hidup ini. Kamu tahu, organ Mamah sudah Mamah amalkan untuk orang yang membutuhkan. Mamah ini yang telah merebut kebahagiaan Ibu Kamu. Mamah ingin jantung Mamah untuk Adela, biarkan dia untuk bisa hidup dengan jantung Mamah. Detak jantung yang nanti ada di tubuh Adela, adalah itu mamah yang selalu ada untuk kamu. Lewat Adela kamu masih bisa tetap memeluk mamah walau raga Mamah sudah tidak ada di dunia. " Ucap Ibu Laila kembali.
Raiz kembali memeluk tubuh Mamah nya, dengan erat Raiz seolah tak ingin berpisah untuk terakhir kali nya.
"Ibu Nuri sangat sayang sama kamu, sayangi dia seperti kamu menyayangi Mamah. Karena dia adalah Ibu kandung kamu, dan mamah ingin kamu kuat dalam hadapi masalah ini. Cepat sebelum semuanya terlambat, Mamah tidak ingin lihat putra Mamah yang satu ini kehilangan orang yang paling kamu sayangi."
"Tidak mah tidak Mamah. "
"Mamah ada alasan nya sayang, kenapa semua organ tubuh Mamah di amalkan semuanya buat orang yang membutuhkan."
"Mamah..!! "
Ibu Laila menarik nafas nya panjang, Rais pun menuntun nya tepat di telinga Ibu Laila.
"Inalilahi wainnailaihi Rojiun. "
Hiks.. hiks.. hiks..
"Mamah... "
.
.
.
.
.
.
__ADS_1