Sang Ajudan

Sang Ajudan
Kesayangan Dan Kepercayaan


__ADS_3

Raiz kini di sibuk kan kampanyenya, mulai berkunjung ke setiap kecamatan. Raiz pun tak lupa selalu menyuarakan suaranya nya tentang melanjutkan program kerja hingga Program kerja terbaru nya.


"Bapak - Bapak, ibu - ibu. Bila saya terpilih lagi. Saya akan lanjutkan program kerja saya, tentang sarana dan prasarana yang masih kurang mendukung, dan program kerja terbaru nya yaitu memberikan lapangan pekerjaan bagi yang menganggur, ada program daerah yaitu di pangan. Sekitar sepuluh ribu hektare pangan dan akan di olah oleh kita untuk ekspor dan impor. Disini daerah bekerja sama dengan perusahaan saya, tapi saham disini 70 persen milik daerah saya hanya 30 persen nya. Banyak sekali pekerjaan yang akan di mulai nanti dan pabrik nya dalam tahap pembuatan untuk produksi nya. Serta ada lowongan di perusahaan saya di luar daerah bagi yang lulusan sarjana akan di salurkan di kantor nya tapi tahap seleksi. Dan semoga saya terpilih lagi saya bisa memenuhi semua aspirasi kalian semua. " Ucap Raiz.


Adela tersenyum ke arah Raiz, dan Raiz pun mendekati nya dan merangkul pundak Adela.


"Saya seperti mimpi punya suami terjun ke dunia seperti ini. "


"Nggak kebayang kan siapa suami kamu itu? "


"Benar Mas, semoga saat terpilih kedua kalinya Mas amanah dan membawa kepercayaan rakyat. "


"Mas akan berusaha menjadi pemimpin yang baik dan mengemban amanat mereka. Dan kalau Mas tidak terpilih dua periode Mas pun siap. "


"Iya Mas, karena Rakyat lah yang memilih. "


*******


"Anak - anak Papah kangen ya sama Papah. " Raiz bermain bersama ketiga anaknya sambil bermain cilukba hingga ketiganya tertawa.


Raiz pun tampak bahagia, rasa lelah puh hilang saat bersama ketiga anaknya. Dewa menangis dan langsung di gendong Raiz, tangis nya pun seketika hilang. Namun Areta juga menangis hingga Raiz menggendong kedua nya.


"Areta cemburu ya, kalau Papah gendong adik Dewa. "

__ADS_1


Tiba - tiba Arumi pun menangis, namun saat Raiz meletakkan Dewa juga menangis tidak mau di rebahkan kembali.


"Sayang gantian ya, kakak Arumi mau gendong juga. "


Huuuaaaaaa... huuuaaaaaa


"Kenapa Pah, kok pada nangis? " Tanya Adela langsung menggendong Arumi.


"Mereka bertiga mau di gendong Papah nya, kan susah Mah harus salah satu di letak kan eh.. Dewa nggak mau. " Jawab Raiz.


"Gendong sama Mamah saja ya nak. " Adela menggendong Arumi namun Arumi menangis.


"Kakak nggak mau hem sama mamah? "


"Sini Mah, mungkin Arumi mau sama Papah nya. "


"Ini sih inces nya Papah Raiz ya.. ok sayang, hanya Dewa pengikut Mamah Adela. " Ucap Adela lantas Dewa tersenyum ke arah Adela.


"Eh.. lihat Pah Dewa senyum. " Ucap Adela kembali.


"Jadi ini mah kubu - kubu an ya. " Ucap Raiz.


"Iya nih, buktinya . " Ucap Adela.

__ADS_1


******


"Mah, kok Papah grogi begini ya menjelang pemungutan suara. "


"Santai Pah, insya Allah kalau hari ini adalah hari terbaik papah. "


"Amin.. tapi Papah siap Mah kalau pun tidak terpilih kembali. "


"Berdoa saja Ya Pah. "


"Papah ingin peluk Mamah. "


Adela memeluk tubuh Raiz dan Raiz semakin mengeratkan pelukan nya, dan berkali-kali menciumi pucuk kepala Adela.


"Lima tahun yang lalu, saat pemilihan Mas belum memiliki seorang istri, hanya kekasih yang menyemangati lewat sebuah chat. Sekarang dari awal kampanye hingga sekarang hari H kamu selalu menyemangati Mas, dan mendukung suami kamu untuk maju ke periode selanjutnya. Tapi keputusan adalah keputusan kita harus terima apapun itu. "


"Iya Pah, semoga ini yang terbaik. Dan bukan akhir dari segalanya. "


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2