Sang Ajudan

Sang Ajudan
Menjatuhkan Pilihan


__ADS_3

"Jadi Irfan ini calon suami kamu Adela, saya kira kamu belum punya tadinya mau di jodoh kan sama Sony. " Ucap Anita.


Raiz hanya diam dan terus memainkan ponsel nya dan hanya membalas dengan senyuman di kala Anita mengajaknya berinteraksi.


"Kami akan segera menikah, setelah Adela sembuh. Benar kan sayang? " Ucap Irfan.


"Benar, ini cincin nya? " Ucap Adela sambil menunjukkan jari manisnya yang tersemat cincin.


Raiz tetap diam, dan hanya memainkan ponsel nya sedangkan hati nya sedang tak baik - baik saja.


"Seperti nya Pak Bupati dari tadi sibuk dengan ponsel nya ya? " Sindir Irfan.


Raiz segera memasukkan nya pada jaket nya dan beranjak bangun dari duduk nya.


"Kita pulang yuk, kasihan Adela harus istirahat." Ucap Raiz.


"Kami pulang ya, semoga cepat sembuh." Ucap Anita.


"Terima kasih Pak Bu. ' Ucap Adela.


Setelah Raiz dan Anita pergi, Adela meraih tangan Irfan. Sadar akan Adela membutuhkan nya Irfan dengan segera mengecup kening nya.


" Abang sudah kasih tahu Ayah sama Ibu? "


Irfan menggelengkan kepalanya dan tetap menatap ke arah Adela.


"Mereka tahu kalau saya sakit? " Tanya Adela kembali.


"Abang nggak ingin mereka khawatir, jadi hanya Abang saja." Ucap Irfan.


"Bang, seandainya kita tak bisa bersama hingga tua. Saya lebih dulu pergi, makam kan saya di samping makam Ibu saya. "


"Kamu bicara apa sih dek, kamu akan sembuh. "


"Mencari donor Jantung itu tak mudah Bang, saya pasrahkan pada Allah saja."


"Kamu akan sembuh, kamu akan beraktivitas kembali. Kita menikah dan memiliki banyak anak. "


"Kalau sembuh tapi tak bisa punya anak bagaimana? "


"Jangan bicara yang tidak - tidak, Abang tetap sama kamu. "


"Makasih Bang. "


*****


Raiz menatap photo Adela di akun sosmed nya, senyuman di wajah Adela membuat Raiz tersenyum sambil mengusap photo nya tepat di wajah nya.


"Kalau dia memang pilihan kamu, Mas lepaskan kamu sekarang. Dan Mas akan kembali belajar mencintai Anita lagi."


Raiz pun memblokir akun sosmed Adela, dan saat kontak ponsel Adela dengan sedikit bingung Raiz pun menghapus nya.


"Mas."


Anita memeluk tubuh Raiz dari belakang, dan Raiz pun memutar tubuhnya dan menarik pinggang Anita.


"Kamu cantik malam ini. " Puji Raiz sambil merapikan anak rambut yang menghalangi mata Anita.


"Gombal."

__ADS_1


"Maaf ya, Mas banyak salah dan menyakiti kamu. Mas janji akan bahagia kan kamu." Ucap Raiz semakin menarik pinggang Anita.


"Saya sudah maaf kan Mas sebelum Mas minta maaf. "


Raiz mengangkat Anita ala bridal style, dan membaringkan di atas tempat tidur. Mereka berdua pun saling berciuman, dan sama - sama memberikan sentuhan lembut.


Saat kedua mata Raiz membuka, wajah Anita di mata Raiz hanya terlihat wajah Adela. Raiz segera menepis nya.


Anita yang merasakan Raiz yang monoton, Anita mengambil alih hingga kini posisi Raiz di bawah. Anita menikmati setiap permainan nya namun Raiz merasakan Adela di depan matanya. Hingga membuat Raiz membanting tubuh Anita hingga berada di bawah nya.


Raiz pun membalas apa yang Anita lakukan, Raiz pun memberikan sentuhan pada Anita hingga membuat Anita melayang.


Hingga saat titik inti menyatu, Raiz terus berusaha agar bisa memberikan kenikmatan namun gagal yang ada. Hingga Anita membantunya dan berhasil saling menyatu.


Setelah bermain dengan berbagai gaya, Anita dan Raiz pun sama - sama mencapai puncak walau sempat akan keluar nama Adela yang akan Raiz sebut dengan sadar dirinya langsung memberikan ciuman pada Anita.


****


"Mas Raiz...!! "


Adela bangun, dan sadar Irfan tengah tertidur pulas di sofa panjang. Dadanya merasakan nyeri kembali dan merasakan dari kedua sudut matanya keluar butiran air mata.


"Kenapa saya mimpi dia, seakan dia kini pergi jauh. "


Adela memegang dadanya dan masih merasakan nyeri dan sedikit sesak.


"Seharusnya saya tidak merasakan sakit seperti ini, ada rasa tak rela. Ya Allah buang jauh - jauh, sedangkan kini ada pria yang setia dan menyayangi saya. "


******


"Bapak sama Ibu terima kasih sudah menengok. " Ucap Adela pada Pak Andi dan Ibu Susi.


"Saya kaget kamu masuk rumah sakit, setelah keluar dari sini kamu istirahat dulu. Dan kamu kenapa nggak pernah cerita soal penyakit kamu. " Ucap Pak Andi.


"Benar kata Bapak, nanti ambil cuti dulu ya. " Ucap Ibu Susi.


"Terima kasih Ibu, Bapak. "


"Oh iya, ini seperti tak asing? " Ucap Pak Andi menunjuk ke arah Irfan.


"Saya Irfan, Ajudan Pak Walikota. " Ucap Irfan.


"Iya, pantas tak asing. "


"Ini siapa nya kamu Del? " Tanya Ibu Susi.


"Insya Allah calon bu. " Jawab Adela.


"Alhamdulillah, jadi kapan nih resminya? " Ucap Ibu Susi.


"Insya Allah Bu, kalau Adela sehat ingin segera lamaran dan menikah." Ucap Irfan.


*****


"Mas ini teh nya. "


"Makasih ya, ehm... Mas boleh kan saya menghadiri acara reuni SMA? "


"Boleh, kapan? " Ucap Raiz.

__ADS_1


"Lusa besok sih, Mas bisa temani Saya? " Ucap Anita.


"Mas nggak bisa, karena ada acara rutin di panti Asuhan. "


"Ehm.. ya sudah, biar saya berangkat sendiri."


"Maaf ya. "


"Iya nggak apa - apa kok Mas. "


*****


"Alhamdulillah, akhirnya bisa pulang juga. " Ucap Irfan saat pulang dari rumah sakit bersama Adela.


"Bang, makasih. "


"Iya sayang sama - sama, nanti jangan lupa minum obatnya, ingat kata dokter. "


"Iya sayang, bawel. "


"Bawel juga untuk kamu sendiri Yank. "


"Bang, kapan ketemu sama Ayah Ibu? " Tanya Adela.


"Nanti ya kita ketemuan sama mereka, yang penting sekarang kamu pulihkan dulu kondisi tubuh kamu."


"Capek Bang, di rumah terus. "


"Kalau nggak nurut, mau pensiun dini saja gimana? "


"Jangan, saya masih kuat kok Bang. "


"Begini nih, penyakit yang nggak di rasakan karena yang punya badan nya sok kuat sok sehat. "


"Saya nggak mau keliatan lemah. "


"Abang nggak suka begini, penyakit kamu harus ekstra di perhatikan."


*****


"Dari mana saja kamu Irfan? " Tanya Ibu Nining.


"Habis dari rumah sakit. " Jawab Irfan langsung berjalan ke arah kamar nya.


"Irfan, orang tua sedang berkumpul kamu masuk kamar nggak sopan. " Ucap Pak Rudi.


Irfan pun lantas duduk di sofa ruang keluarga, kedua orang tua nya kini sedang menatap nya.


"Apakah Adela parah sakit nya? " Tanya Ibu Nining.


"Iya, dia harus mencari donor jantung. " Jawab Irfan.


"Ayah harap. kamu memikirkan nya lagi."


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2