Sang Ajudan

Sang Ajudan
Bukti Cinta


__ADS_3

Raiz menggenggam erat tangan Adela saat jenazah Irfan telah tertutup rata oleh tanah, kini di depan jenazah Irfan tak menangis lagi hingga Adela menaburkan bunga di atas pusara Irfan.


Adela mengusap nisan yang bertuliskan nama pria yang dulu sempat Adela sayangi.


"Bang, bahagia kamu di sana. Semoga jalan Abang disana terang. Saya yakin, Abang lebih bahagia dari pada disini. Usai sudah perjalanan Abang dengan membawa cinta Abang walau jalan Abang salah. Saya yakin Allah sayang Abang, terima kasih semua yang pernah kita lewati. Cinta saya akan selalu ada untuk Abang dalam bentuk doa."


"Nak, maaf kan Mamah. " Ucap Ibu Inggrit, Mamah Irfan mendekat.


"Seandainya kami sejak dulu tetap setuju, mungkin Irfan masih hidup dan bahagia bersama kamu. Tapi karena egois nya kami, Irfan melakukan hal yang tidak pernah ada pada pemikiran kami." Ucap Ibu Inggrit kembali.


"Ini sebagai pelajaran saja, cukup kami berdua yang seperti ini. " Ucap Adela.


"Kami menyesal. "


"Sudahlah Bu, mungkin sudah jalan nya Bang Irfan." Ucap Adela.


"Nak, kamu ikut bisa kami ke rumah. "


Adela menoleh ke arah Raiz dan suaminya pun mengijinkan dengan cara menganggukkan kepala nya untuk memenuhi perintah Ibu Inggrit.


"Tunggu."


Adela dan Raiz menoleh ternyata Kinanti memanggil Adela .


"Ada apa? " Tanya Adela.


"Saya tidak menyangka cinta nya sangat besar terhadap kamu, dan kamu harus tahu di setiap tidur nya hanya nama kamu yang selalu dia sebut kan. Maaf kan saya yang sudah merusak hubungan kalian. " Jawab Kinanti.


"Kata maaf semuanya terlambat, Bang Irfan sudah tiada. Tak ada yang untuk di bahas, karena orang yang bersangkutan sudah tiada. Bagi saya Bang Irfan adalah masa lalu saya, dan di samping saya ini adalah masa depan saya. Walau cinta saya sama Bang Irfan sudah mati, rasa saya padanya tetap ada. Sakit hati yang dahulu terobati oleh imam saya yang sekarang. Tapi untuk kata maaf semua nya terlambat , Bang Irfan telah tiada."


"Hanya ingin memberikan tahu saja, kamu pun tak akan maaf kan saya tak apa. Tapi setiap malam nama kamu selalu dia sebut bahkan secara sadar memanggil saya adalah nama kamu. "


"Terima kasih sudah di kasih tahu."


******


Adela melihat barang - barang yang dulu dia berikan pada Irfan, bahkan jaket couple nya pun masih tersimpan.


"Ini milik nya, katanya ini pemberian dari kamu. Irfan mengancam jangan pernah sentuh barang - barang pemberian dari Adela kalau mau saya menuruti perintah Mamah Papah. Dan ini untuk kamu yang Irfan belum sempat berikan." Ucap Ibu Inggrit memberikan satu set perhiasan.


Adela menoleh ke arah Raiz, dan Raiz menggelengkan kepalanya.


"Maaf Bu, sebaiknya Ibu simpan saja. Sebagai kenangan dari Bang Irfan."


"Satu set perhiasan mungkin ini untuk mahar kamu, dia siapkan semuanya sendiri tanpa kami tahu. Dia benar - benar ingin menikah dengan kamu. "


"Bu, sudah ya sebaiknya Ibu jangan lanjutkan cerita kami. Kalau seperti ini Banget Irfan sedih nantinya, saya juga sudah ikhlas melepaskan Bang Irfan dan saya pun sekarang bahagia bersama pasangan saya. Semuanya sudah terlambat dan tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan."

__ADS_1


*****


"Mas, kok kamu dari tadi diam saja? " Tanya Adela .


Raiz menghembuskan nafas dengan kasar lalu tersenyum pada Adela.


"Mas cemburu, Mas sangat cemburu." Jawab Raiz.


"Maaf ya Mas, itu bagian masa lalu saya."


"Ternyata ada pria yang lebih besar cinta nya dari pada Mas. Dan dia bahkan di bawa sampai mati. "


"Bagi saya , cinta Mas Raiz yang paling besar dan tulus."


"Apa benar rasa dengan Irfan itu sudah mati sejak dulu? "


"Sejak kita putus dan kedua orang tua nya tidak menyetujui saya rasa itu mati Mas, dan kembali tumbuh saat saya bercerai dengan Mas tapi itu saya belajar untuk mencintai nya kembali karena masih sedikit rasa sama Mas. Bahkan perlahan hilang tapi perlahan pun mudah melupakan nya tidak seperti sama Mas perlahan hilang masih sedikit membekas."


Raiz menggenggam kedua tangan Adela dan mengecup kedua punggung tangan nya."


"Mas percaya sama kamu kok yank, yang terpenting kita saling percaya dan masa lalu hanya masa lalu kita. Biarlah itu semua jadi kenangan dan tersimpan di tempat yang sangat dalam."


******


Dua bulan kemudian


Aaarrrgghh


Jerit Raiz saat merasakan sakit di perut nya saat terinjak kaki Adela.


Hoek... hoek...


Terdengar dari dalam kamar mandi, Adela memuntahkan semua isi perut nya.


"Yank... kamu kenapa yank? " Tanya Raiz langsung bangkit dari atas ranjang .


Hoek... hoek.. hoek...


"Yank, kamu kenapa? " Tanya Raiz sambil memijat tengkuk leher Adela.


"Mas enek banget perut nya. " Jawab Adela.


"Masuk angin mungkin. " Ucap Raiz.


"Mungkin Mas. " Ucap Adela dengan lemas namun kembali merasakan mual tapi tak muntah.


"Mas buatkan teh manis hangat dulu. " Ucap Raiz.

__ADS_1


Setelah di buatkan teh manis hangat, Adela merasakan enak di perut nya namun hanya sesaat dan memuntahkan lagi namun hanya cairan yang keluar.


"Mas nggak kuat. " Rengek Adela.


"Ke rumah sakit sekarang. "


****


"Bagaimana Dok? " Tanya Raiz yang sudah panik.


"Selamat Pak Bupati, Ibu hamil. " Jawab Dokter Anisa.


"Alhamdulillah, sayang kita akan jadi orang tua. " Ucap Raiz senang.


Adela tersenyum lemas karena muntah dan mual yang tak henti - henti.


"Tapi Pak, Ibu di rawat ya karena kurang cairan. Tadi kan katanya mual dan muntah terus ya sepanjang jalan, sementara Ibu di infus dulu sampai kondisi Ibu membaik. "


"Baik Dok, berikan yang terbaik untuk calon anak saya dan istri saya. "


"Kami siapkan dulu ya Pak. "


"Sayang, makasih. " Ucap Raiz sambil mencium perut Adela.


"Yang sehat - sehat sayang." Adela mengusap perut nya.


*****


"Jadi Ibu akan jadi nenek? " Ucap Ibu Nuri bahagia.


"Benar Bu, sebentar lagi akan ada cucu yang menemani Ibu. " Ucap Raiz.


"Alhamdulillah, ya Allah. Ya sehat - sehat semuanya. Raiz pasti Papah kamu senang mendengar kabar ini. "


Raiz dan Adela diam dan Ibu Nuri tersenyum ke arah Adela dan Raiz.


"Papah ingin sekali bertemu sama kalian, tapi Papah malu. Dan saat ini Papah memutuskan pensiun dan lebih memilih menghabiskan sisa hidup nya di kebun belakang rumah. Berkunjung lah, bagaimana sikap papah dahulu pada kamu Adela dan hubungan kalian, dia tetap Papah dan mertua. Papah bukan pria yang dulu lagi Raiz, setelah kondisi Adela membaik kalian berkunjung lah kesana. Karena adanya kalian datang gurat kesedihan akan hilang pastinya, apalagi tahu akan mempunyai cuci. "


"Nanti kami kesana Bu. " Ucap Raiz.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2